FroyoHQ

NULIS NASKAH ITU MENYENANGKAN SEKALIGUS MENYEBALKAN (CERITA ERWIN DI DUNIA SCREENWRITING)

Selain hobi foto-foto, gue juga punya hobi nulis. Tepatnya nulis naskah film atau serial. Kenapa gue bisa mulai nulis? Agak panjang sih, tapi begini ceritanya.

title

FROYONION.COM - Gue belum berani menyebut diri gue sebagai penulis naskah, karena jam terbang gue yang masih sedikit. Tidak semua film gue tonton, tapi jika suka sama satu film, selamanya akan gue tonton. 

Sebelumnya, gue sangat takut masuk bioskop karena gelap dan takut kursinya bergerak (efek panik nonton film 4 Dimensi di Ancol). Bahkan, gue tidak pernah bisa mencerna bagaimana film itu dibuat. Dulu sewaktu kecil, film yang gue tahu hanyalah tayangan pagi dan sepulang ngaji, alias kartun. Di luar itu, gue menganggap film adalah siaran langsung.

Masa-masa pengetahuan yang cetek soal film, melahirkan pertanyaan yang bagi gue sangat menakutkan.  “Bagaimana kalau si artis (belum tahu istilah aktor/aktris) tiba-tiba melakukan adegan yang salah?”. “Bagaimana kalau tiba-tiba tidak tahu arah cerita selanjutnya? Apa film akan diberhentikan?”. Jujur, gue sempat mempertanyakan ini dan sangat takut akan pertanyaan itu. Padahal di saat itu, gue masih bercita-cita sebagai dokter hewan, karena obsesi gue sama monyet. Tapi entah kenapa pertanyaan itu terngiang di kepala gue.

SPIRITUAL JOURNEY

Keinginan untuk terjun dan berprofesi sebagai filmmaker, muncul ketika gue duduk di bangku kelas 6 SD (2009). Saat itu gue tanpa sengaja menonton behind the scene film 2012 karya Roland Emmerich yang diputar di sebuah acara infotainment. Melihat bagaimana proses film itu dibuat benar-benar memecah otak gue. Ada sedikit rangsangan yang membuat gue kemudian berimajinasi. Ketakutan gue atas pertanyaan yang pernah muncul soal film, kembali lagi dan justru semakin merangsang rasa penasaran. 

Sebenarnya lucu, semangat dan ketertarikan yang pada saat itu memuncak, gue justru dilarang menonton film 2012 karena kontroversi agama. Tapi larangan itu hanya berlangsung sesaat. Pada akhirnya gue pun menonton film 2012 (di CD bajakan). 

Di tahun yang sama dengan 2012, tayang film Avatar karya James Cameron yang membawa dan mempopulerkan kembali teknologi 3D dalam film. Tentu gue tidak tinggal diam dan berangkat untuk mencoba menonton film Avatar dalam format 3D. Setelah menyaksikan film Avatar, rangsangan akan rasa penasaran pada film mendorong gue untuk bercita-cita sebagai sutradara.

Gue pun mulai rajin membeli majalah (Cinemags & Total Film), menonton trailer, menonton film di bioskop dan memantau website bioskop. Ditambah bokap gue yang selalu pulang kerja bawa koran Kompas, di mana ada salah satu rubrik “Klasika” (kalau gak salah) yang memaparkan jadwal tayang film. Gue senang melihat paparan poster dan jam tayang tersebut, bahkan pernah mengguntingnya dan meletakan dalam dompet. BTW, inget masa-masa poster film di pajang di luar gedung mall atau bioskop?. Kalau inget, kita seumuran.

Gairah untuk menjadi pembuat film terus tumbuh sampai akhirnya gue benar-benar yakin ketika gue masuk SMP dan setelah melihat iklan salah satu produk susu berslogan “Life Starts Here” & “Life is an Adventure.”. Sebuah iklan yang membuat gue pertama kalinya merasakan apa yang namanya spiritual journey (gak bisa gue definisikan, pokoknya bahasa emosinya itu) dalam melihat karya visual. 

Gue gak minum produk susu itu, tapi dialog “Life starts here” dan “Life is an adventure” adalah Call To Action buat gue. Gue mulai merekam kegiatan gue (bukan vlogging!) dengan handycam keluarga. Alhasil dorongan dari liat iklan handycam merk Canon. Tidak cukup dengan mengoleksi majalah, menonton trailer, memantau website dan merekam kegiatan. Gue mulai menambah kebiasaan baru. Mencatat dialog film yang menurut gue menarik. Dan gue pun jadi mengenal pekerjaan penulis naskah. 

Cita-cita gue masih sama, sutradara. Tapi setelah menemukan title penulis naskah, gue tidak mau hanya sebatas jadi sutradara. Gue juga mau jadi penulis naskah.

BACA JUGA: "JOURNEY TO THE EAST EPISODE 1: EKSPLORASI LIMA PEMUDA DARI BINTARO KE BROMO"

‘TERTAMPAR’ DOSEN

Semua rasa penasaran, keinginan dan mimpi itu membawa gue untuk menempuh pendidikan Film saat kuliah. Di kampus pun gue tidak menyia-nyiakan kesempatan di mana pada beberapa proyek gue kerap mengambil posisi sebagai sutradara dan penulis naskah. 

Ketakutan terbesar ketika gue menempuh pendidikan Film secara formal adalah soal suara gue yang dirasa tidak sekritis teman-teman lainnya. Film yang tadinya gue pikir adalah ruang eksplorasi imajinasi yang menyenangkan ternyata tidak sedangkal itu. Film punya peran yang jauh lebih besar dari sebatas hiburan. Lagi-lagi pandangan soal film membuka mata gue. Tapi kali ini tidak lagi merangsang gue untuk semangat menjadi filmmaker. Justru sebaliknya. 

Dibilang menyerah, nggak juga. Dibilang meng-counter rasa takut juga gak tepat. Gue memilih jalur yang menurut gue aman pada saat mengerjakan tugas akhir (TA). Membuat naskah film. FYI, di jurusan film kampus gue, justru TA Penulisan Naskah adalah salah satu TA yang rumornya adalah yang paling sulit untuk lulus. Tapi karena pada saat itu ketakutan gue untuk menjadi sutradara lebih besar dan masih jauh lebih pede dengan menulis naskah, gue menganggap TA penulisan naskah adalah pelarian yang paling aman.

Ada suatu kejadian yang cukup ‘menampar’ gue. Pada saat itu di kelas bimbingan TA, dosen pembimbing gue meminta saran tontonan Netflix. Gue berangkat dengan saran untuk menyaksikan Series Umbrella Academy. Alasannya, karena menurut gue series itu lucu dan menghibur. Dosen gue dengan santai membalas, “Itu kan lucu dan menghibur menurut kamu. Ngapain kuliah film kalau gak bisa kasih rekomendasi film?”.  Di titik itu gue sadar, bahkan sampai semester akhir pun gue masih melihat film dari faktor personal. 

Gue kagum ketika teman-teman gue mengeluarkan bahasa yang terdengar keren dan sangat berpendidikan ketika merekomendasikan film. Bentuk rekomendasinya bukan berlatar pengalaman personal. Melainkan pengamatan secara mendalam. Mulai dari analisis cerita yang kaitannya dengan fakta atau fenomena yang ada sampai pesan tersirat dalam tiap pengadeganan.

Gue masih tetap tidak bisa berpikir ke arah yang kritis seperti teman-teman lainnya. Maka pada topik TA yang gue kerjakan, gue mencoba memanfaatkan isu yang menurut gue personal dan menerapkannya ke dalam bentuk naskah. Isu soal eksistensi. Cukup personal lah buat gue.

BACA JUGA: “SUPAYA DIKENAL DOSEN TANPA KUDU ‘CAPER’

TAWARAN PERTAMA

Singkat cerita, setelah sidang skripsi selesai. Gue dapet kontak dari salah satu teman gue, Bela, yang lagi mengerjakan proyek web series untuk salah satu OTT (Streaming Service).  Sebuah chat singkat yang kurang lebih berisi tawaran untuk gabung jadi salah satu tim penulis. Tanpa berpikir panjang, tentu gue langsung mengiyakan. Rupanya, Bela merekomendasikan gue untuk bergabung dengan tim penulis pada salah satu penulis lainnya yang rupanya adalah penguji skripsi gue dalam salah satu rangkaian sidang skripsi, Mbak Laila (penulis Danur dan KKN DI DESA PENARI). 

Sayang, webseries yang harusnya jadi projek pertama gue dalam dunia kerja, batal dibuat. Gue pun tidak lagi melihat adanya peluang untuk bekerja di industri film. Gue memulai magang dan bekerja di sebuah Advertising Agency. Namun tidak berlangsung lama, gue ngerasa bosan dan memutuskan untuk resign

Yang pada saat bersamaan, selang dua hari resign Mbak Laila kembali menghubungi gue dan menawarkan gue untuk menulis naskah film panjang. Sebuah momen yang tidak terduga dan gak pernah gue bayangkan. Padahal gue berencana untuk menganggur pada saat itu. Tapi kembali mengingat gue pernah berusaha dan berdoa mau menjadi pekerja film, tentu gue ambil tawaran itu. Gue dikenalkan dengan Mas Anggi Umbara, karena kebetulan proyek itu akan disutradarai dan diproduksi oleh PH milik Mas Anggi Umbara. Judul filmnya adalah Till Death Do Us Part (Disney+Hotstar).

Ceritanya sudah ada. Tugas gue adalah menerjemahkan sinopsis yang ada ke dalam bentuk naskah. Proses pengerjaannya cukup lama, sekitar 3 bulan, dengan setiap minggu diadakan meeting singkat via Zoom (maklumlah lagi pandemi). 

Dengan semangat, gue banyak menonton film yang direkomendasikan sebelum mulai menulis. Memupuk referensi dan menajamkan insting narasi, serta karakterisasi. Setelah dirasa mantap, gue mulai mengetik. Ketika sudah yakin, gue mengirim draft pertama dengan penuh antusias. Berharap dapat pujian, rupanya apa yang gue tulis tidaklah cukup bahkan terlalu berlebihan.

Imajinasi gue dibenturkan dengan visi sutradara dan biaya produksi yang rupanya tidak berjodoh dengan apa yang gue tulis.  Tentu gue yang harus menyesuaikan. Naskah yang selesai gue tulis, belum cukup sempurna, hingga dilakukan revisi oleh sang sutradara, Anggi Umbara sendiri. 

BACA JUGA: “MENILIK ASYIKNYA DUNIA ‘SCREENWRITING’ BERSAMA ILMA FIRDA”

CIPTAKAN KESEMPATAN

Selang beberapa hari setelah kontrak selesai Mbak Laila kembali menghubungi gue dan menawarkan posisi menjadi drafter-nya untuk menulis webseries Ustad Milenial (WeTV). Sebuah pengerjaan naskah yang boleh dibilang amat sangat singkat. Kali ini gue menulis dengan tim yang banyak. Karena jumlah episode yang dikerjakan juga banyak, yaitu 20 episode. Dengan durasi penulisan satu bulan. Ya! Empat minggu aja! 

Alasan hanya satu bulan adalah penargetan penayangan untuk Ramadhan 2021. Tawaran masuk pada bulan Desember 2020. Sedangkan Ramadhan jatuh pada bulan April 2021. Kebayangkan timeline produksinya?

Ada dua headwriters di projek Ustad Millennial ini, Mbak Laila dan Kak Devina. Untuk posisi drafter ada gue, Vita, Audrey dan Ian. Di proyek series ini gue kebagian drafting 5 episode dengan susunan episode 1, 5, 9, 13 dan 20. Karena durasi pengerjaan yang singkat, satu episode kudu, wajib, selesai dalam dua hari. Dengan demikian, satu minggu harus ada 2 episode yang diserahkan dari setiap drafter.

Proses meeting yang dilaksanakan secara langsung dalam beberapa sesi pertemuan menciptakan ruang diskusi dengan sutradara (Mas Hestu) dan juga produser (Om Eko) yang lebih menyenangkan. Cukup bikin otak meledak, tapi justru gue lebih menikmati proses penulisan naskah series Ustad Milenial. Ceritanya lebih personal untuk gue, sehingga lebih mudah juga untuk gue menulis pengadeganan. 

Ketika series-nya tayang pun gue merasa sangat puas. Kerja keras seluruh tim selama sebulan bahkan lebih untuk tim produksi terbayarkan dengan baik. 

Selepas Ustad Milenial pun gue kembali menjadi drafter dengan tim yang sama, namun pengalaman menulis yang berbeda. Kali ini adalah adaptasi series lawas. Tidak bisa gue ceritakan secara utuh karena pada akhirnya ada estafet drafter. Di sini gue melepas posisi gue sebagai drafter dan melepaskannya ke penulis lain.  

Boleh gue katakan, menulis naskah adalah proses yang menyenangkan sekaligus menyebalkan. Adakalanya menulis terasa sangat mudah dan di waktu bersamaan juga  seperti menggores tulisan pada batu yang keras. Bahkan seperti menulis pada kertas dengan pensil yang patah. Ngilu.

Gue masih belajar dan masih sangat awam. Gue pun berharap kembali bisa dipercaya menulis cerita-cerita hebat. Apalagi kalau cerita soal kepahlawanan (Superhero), mau banget!. 

Kalau diri gue yang di tahun 2009-2010 udah punya gambaran nyata  gimana rasanya buat film dan terlibat di proses pra-produksi film secara langsung. Apa iya gue masih mau jadi filmmaker? Ya! Gue tetap mau jadi sutradara dan penulis naskah. Tapi kali ini gue sedang mengasah lebih tajam kepekaan cara pandang dan pola pikir gue. Supaya nanti kalau ada tawaran atau mungkin mulai nulis cerita sendiri lagi, bisa lebih bikin bangga.

Akhir kata, kalau boleh kasih saran, jangan sia-siain peluang yang ada. Ingat bahwa kesempatan itu bisa diciptakan. Gue pun masih tidak menyangka bisa diajak ikut nulis naskah beneran yang bukan sebatas tugas kampus. Kesempatan gue datang dari lingkungan pendidikan. Tapi, teman-teman bisa ciptain kesempatannya dengan menemukan peluang dari banyak jalan. 

Boleh dilihat adaptasi film KKN DI DESA PENARI, yang berawal dari thread di Twitter. Atau film MAMA/LIGHTS OUT yang berawal dari film pendek. Jika memang peluangnya bukan lewat jalur pendidikan, maka teman-teman bisa melahirkan peluang dari nyiptain karya-karya independen dan yang paling penting berkoneksi dalam lingkup masyarakat atau komunitas. Industri film itu lingkupnya kecil, tapi jangkauannya sangat luas. (*/)

BACA JUGA: "GOTO GO PUBLIC, BERIKAN KESEMPATAN BAGI DRIVER OJOL UNTUK JADI PEMEGANG SAHAM"

  • whatsapp
  • twitter
  • facebook
  • remix
Penulis

Erwin Dhia

A visual enthusiast, obsessed with Onii-chan word