FroyoHQ

SYNCHRONIZE FEST 2022 UNTOLD STORIES: DARI LENSA MAHA

Setiap orang tentu memiliki kisah unik tersendiri ketika mengikuti festival musik tahunan, tak terkecuali bagi Maha. Graphic designer Froyonion ini turut membagikan kisah serta pengalaman personalnya saat menonton Synchronize Fest 2022 beberapa waktu yang lalu.

title

FROYONION.COM - Siapa sih yang nggak tahu sama Synchronize Fest? Sebuah festival musik tahunan yang akhirnya digelar kembali secara luring pada tahun 2022 ini, setelah 2 tahun sebelumnya diadakan secara virtual akibat pandemi Covid-19.

Digelar selama 3 hari, yang menampilkan 126 penyanyi serta musisi Tanah Air lintas generasi, tentu membuat festival yang satu ini jadi cukup spesial dan menyimpan keunikannya tersendiri bagi setiap individu yang datang untuk menonton. Nggak terkecuali bagi Maha, seorang peramu visual bagi Froyonion, yang juga seorang penikmat musik lintas genre dan generasi.

“Bukan kedok olahraga,” ujar Maha. Booth Bike To Synchronize ini menyajikan pengalaman seru yang jarang ditemukan di festival musik manapun. Goldsprint namanya, sebuah lomba sprint sepeda statis 1-on-1, dengan bantuan roller di ban belakang untuk men-track progress-nya, yang kemudian ditunjukkan secara real-time di layar TV. Sayup-sayup suara teriakan terdengar dari arah booth ini, merefleksikan keseruan yang tersaji khususnya yang datang dari anak-anak sepeda.

Zidan dan Ferdian, alias ‘sohib di tengah keramaian’. Mereka adalah 2 orang yang datang dari collective yang sama dengan Maha. Kedua sosok ini juga dikenal sebagai bocah yang suka bikin musik underground di Bojongsoang. Saat foto ini diambil, keduanya lagi asyik menonton Ali, sebuah band baru yang sangat segmented.

Sebagai konteks, band diisi oleh bassist asal Kelompok Penerbang Roket yang menjadi drummer bagi Ali, yaitu John Paul Patton, dan Arswandaru yang dikenal sebagai illustrator kondang Ibu Kota.

David Bayu, mantan vokalis Naif, terlihat hadir sebagai penampil. Dirinya yang baru-baru ini merilis album bertajuk Di Dalam Jiwa tampak menikmati penampilan solo-nya saat menghibur penonton di XYZ Stage.

“Gue nonton David Bayu karena nggak bisa nonton Frau,” celetuk Maha.

Di luar itu, penampilan David Bayu kali ini terasa sangat sentimentil, karena biasanya doi perform bareng dengan personil lainnya di Naif, namun sekarang harus menyendiri. Opening-nya pun terasa jauh lebih kalem.

“Lagu terbaiknya [Di album baru] adalah “Deritaku”, cukup relate dan menyedihkan,” jelas maha.

Kalau yang ini namanya Gustmar, teman Maha yang dikenalnya dari skena musik Bogor. Doi adalah sosok di balik salah satu hardcore band terbesar di Bogor, namanya Hate To Think. Di hari terakhir Synchronize Fest 2022, Gustmar lah yang ‘menjaga’ Maha saat lagi tipsy.

Saat foto ini diambil, mereka berdua sama-sama lagi menonton pertunjukan musik yang keren nan unik dari band asal Jogja, yaitu Senyawa.

Ini juga teman Maha (banyak ya temannya), namanya Siti dan Rafif. Mereka berdua merupakan teman Maha selama dirinya masih bekerja di Bandung beberapa tahun lalu, dan baru bertemu kembali setelah sekian lama.

Fun factdi hari ke-3, Rafif kemalingan saat lagi menonton The Panturas. Jadi, kalau kebetulan lo juga menonton The Panturas di Synchronize kemarin, Rafif inilah yang HP-nya kemalingan saat itu.

Lo lagi di festival musik, Terus lagi laper? Pro-tip, mending nggak usah beli kerak telor.

“Niatnya mau makan dengan harga murah, waktu itu liat harga nasi ayam Rp25 ribu, gue kira kerak telor lebih murah. Waktu gue tanya, harganya ternyata mahal, Rp35 ribu, tetep gue beli karena nggak enak, mana nggak kenyang,” jelas Maha.

Tapi, di balik kontroversi harga kerak telor di festival musik yang jadi lebih mahal ketimbang nasi, quotes di belakang kaos abangnya cukup menohok, terlebih buat anak-anak mid-to-late twenties.

“Pokoknye usaha jangan bergantung nasib.”

Karena biasanya orang-orang di umur 20-an ini lebih banyak yang pasrah sama nasib atau takdir, tapi kalau nggak usaha bakal jadi gimana? 

Kalau kata Maha, kita juga harus bisa berjalan maju dan mandiri.

Nah, inilah band unik yang sempat di-mention di atas, yaitu Senyawa. Maha penasaran gimana orang lain bisa menikmati Senyawa. Kalau dilihat dari belakang panggung, ternyata ada yang benar-benar menikmati, dan ada juga yang dengerin biar terlihat keren aja.

Bagi Maha, ini adalah kali ke-3 dirinya menonton Senyawa secara langsung, dan masih tetap kagum. 

Band-nya eksperimental banget, pake alat musik yang aneh, tapi banyak yang nonton. Kerjaannya keliling Amerika mulu,” lanjut Maha.

Nah, kalau yang satu ini sih bakal manggung juga di Hajatan Froyonion pada akhir bulan Oktober. Namanya Rub of Rubcontemporary experimental dub band asal Bandung yang ikut meramaikan Gigs Stage di Synchronize Fest kemarin.

Maha juga kagum sama band yang satu ini. Menurutnya, Rub of Rub bisa membawa musik reggae ke arah yang lebih umum, mereka mampu membuat musik reggae terdengar seperti lagu indie biasanya, tanpa membuat pendengarnya dibilang “Reggae banget lo!”.

Ini jadi salah satu hal positif yang dibawa Rub of Rub dalam skena musik lokal, yaitu membawa kesan yang hangat, dekat, dan masih terasa umum.

Hari selanjutnya, Maha mengawali petualangan di Synchronize Fest dengan menonton Sentimental MoodsBand Ska asal Jakarta ini sudah ada sejak tahun 2009. Untuk Maha, band yang satu ini selalu wajib ditonton dalam setiap festival yang ia datangi.

“Dari 2016 selalu ngejer mereka walaupun nggak pernah seniat nonton mereka doang, soalnya mereka mainnya siang mulu sih,” ucap Maha.

Namun kala itu, Maha menyempatkan untuk datang siang di hari ke-2 Synchronize Fest, semata-mata demi Sentimental Moods. Musiknya memang sesuai namanya, mood banget, membawakan lagu-lagu jadul dengan instrumen ska.

Ya, meskipun termasuk band lama, tapi bagi Maha, musiknya masih sangat masuk buat anak muda zaman sekarang.

Satu kata dari Maha, yaitu “Idola gue”.

“Idola yang nggak selalu ada di panggung,” lanjutnya.

Sosok ini adalah Teguh Wicaksono, orang di balik layar Sounds from the Corner yang dikenal luas oleh anak-anak skena.

“Dari hari pertama udah lihat dia, tapi nggak berani menyapa. Di hari ke-2 pas lagi nonton Barakatak, gue lagi joget tiba-tiba eye-to-eye sama dia, terus kita akhirnya saling sapa,”

Doi adalah sosok yang membuat Maha mulai mencoba menulis. Salah satunya lewat artikel yang pernah dipublikasikan di Froyonion yang berjudul “ROTI DAN SELAI, BUNGA DAN KUMBANG, MUSIK DAN VISUAL, VISUAL DAN MUSIK”.

Nasida Riaband kasidah modern yang jadi cukup fenomenal akhir-akhir ini. Lihat aja, Paksi sampe teriak-teriak, padahal yang ditonton bukan band metal.

CROWDSURFING!

Fun-fact, ada banyak cerita di mana para penonton nggak nangkep orang yang lagi crowdsurfing. Kalau di luar negeri, crowdsurf biasanya di lempar ke bagian depan panggung, ditangkap oleh security atau crowd management, ke barikade, lalu keluar lewat samping panggung. Sedangkan di Indonesia, crowdsurf hampir selalu diarahkan ke belakang, dan kemungkinan besar akan terjatuh.

Crowdsurf ini datang dari sebuah penampilan oleh mid-tempo 70’s Punk Band dari Bogor, yang juga merupakan band kakak kelas Maha, yaitu The Jansen.

“Musiknya memang asyik, band ini diterbitin sama Jimi Multhazam, vokalisnya The Upstairs dan Morfem,” jelas Maha.

Lebih lanjut lagi, Maha bilang bahwa The Jansen cukup terkenal di skena, jadi menimbulkan prinsip “Anak skena harus denger [band] ini,”.

Yang satu ini adalah additional-nya The Jansen, namanya Nina. Bagi Maha, ini adalah sebuah pemandangan yang unik dan lucu, karena doi jarang banget melihat personil wanita di dalam sebuah punk / mid tempo punk.

“Menurut gue, The Jansen selalu punya stage act yang aneh-aneh. Biasanya di lagu terakhir, drummer nggak ikut main, malah moshing. Kalau kemarin, bassist-nya main sambil crowdsurf, terus vokalisnya juga sempat dilempar sama crowd management,” celetuknya.

Maha melanjutkan, “Awan nyamperin band si Kota Hujan, hampir hujan, tapi nggak hujan,”.

Di salah satu foto di atas, terlihat ada penonton yang jadi drummer dadakan. Entah di mana keberadaan sang drummer yang aslinya.

Ini dia Jimi Multhazam. The Jansen punya lagu yang berjudul “7456”, yang memiliki penggalan lirik “Hey kau jangan bilang, jangan bilang Jimi di sini ada party”.

Another fun-factJimi juga membentuk sebuah wadah yang menampung band-band daerah untuk saling berbagi ‘kebisingan’, yaitu “Thursday Noise”.

Nggak ketinggalan juga, ada Vincent Rompies yang tampil bersama Sir Dandy di XYZ Stage hari ke-3. Doi perform dengan memakai kaos bertuliskan “Trump For 2024”.

“Menurut gue, Vincent selalu jadi orang yang liar di atas panggung, beda banget sama yang ada di TV,” jelas Maha.

KENAPA GIGS DAN XYZ STAGE?

Memang, Gigs Stage dan XYZ Stage kebanyakan diisi oleh penyanyi serta musisi ‘arus pinggir’ yang eksperimental dan bergerak dinamis, mengundang banyak anak-anak ‘skena’ untuk ‘bertengger’ seraya menunggu idolanya tampil di 2 panggung ini.

“Gue pengen eksplor musik, banyak band yang pertama kali gue tonton secara live di sini. Lewat panggung [Gigs dan XYZ] ini, gue ketemu banyak teman baru juga. Beda halnya sama musisi-musisi besar yang gue tonton dari jauh,” jelasnya.

Bukan demi alasan nyari mbak-mbak indie yang pastinya sering hadir di 2 panggung ini, lebih jauh.

Sebagai penutup, Maha ingin mengenalkan band-band yang tampil di atas 2 panggung ini ke masyarakat yang lebih luas. Tujuan ini sudah muncul sejak collective media besutannya terbentuk, yaitu Konco’s Club(*/)

BACA JUGA: DOWN FOR LIFE DAN GONDRONG GUNARTO GABUNGKAN MUSIK METAL DAN GAMELAN DI SYNCHRONIZE FEST 2022

  • whatsapp
  • twitter
  • facebook
  • remix
Penulis

Garry

Content writer Froyonion, suka belajar hal-hal baru, gaming, dunia kreatif lah pokoknya.