Pop

CODA (2021): KISAH HANGAT DARI SEBUAH KELUARGA TULI YANG PANTAS DIANUGERAHI ACADEMY AWARDS!

Sebuah film yang mampu menyajikan sebuah cerita yang unik sekaligus menggugah kesadaran penonton atas diskriminasi yang dihadapi para penyandang disabilitas, CODA memang layak memenangkan 3 piala Oscars sekaligus di tahun ini.

title

FROYONION.COM - Beberapa tahun ke belakang, dunia perfilman di seluruh dunia semakin digempur dengan dorongan sosial akan sebuah cerita yang mampu merepresentasikan sebuah golongan tertentu. Tahun ini, ada salah satu film yang jadi underdog di pagelaran Oscars dengan membawa panji bertemakan cerita yang inklusif, yaitu CODA.

Hangat, simpel, tapi sangat memukau, tiga kesan yang bisa menggambarkan pengalaman pribadi gue saat menonton film yang satu ini.

Rasa penasaran itu muncul saat melihat judulnya. Ternyata, CODA adalah akronim dari Child of Deaf Adults atau anak yang dibesarkan dari keluarga yang Tuli. 

Emilia Jones yang memerankan Ruby Rossi dalam film CODA.
Emilia Jones yang memerankan Ruby Rossi dalam film CODA. (Sumber: apple.com)

Sesuai dengan judulnya, film ini mengisahkan tentang seorang anak perempuan yang duduk di bangku SMA bernama Ruby Rossi (diperankan oleh Emilia Jones) yang dilahirkan dari keluarga yang seluruhnya Tuli.

Sebelum berangkat sekolah, setiap harinya Ruby membantu ayah dan kakak laki-lakinya yang berprofesi sebagai nelayan untuk mencari ikan di laut menggunakan kapal kecil miliki keluarga mereka. Meskipun disibukkan dengan profesi keluarga, ternyata Ruby pun memiliki bakat dalam bernyanyi, yang nantinya kedua hal ini akan menjadi conflict of interest dalam babak kedua film.

BACA JUGA: ‘FRITZCHEN’ JADI DEBUT FILM JOKO ANWAR DI ‘TANAH SUCI’ PERFILMAN HOLLYWOOD

Sebagai satu-satunya anggota keluarga yang bisa mendengar, Ruby punya tanggung-jawab yang besar dan peran yang cukup sentral dalam kehidupan keluarganya. 

Seumur hidupnya, ia selalu menjadi penerjemah bahasa isyarat bagi keluarga besarnya. Tak heran, ketika Ruby mendapat kesempatan untuk melanjutkan pendidikannya di bidang musik, keluarganya menolak mentah-mentah dan berharap Ruby bisa tetap membantu keluarganya dengan terus menjadi nelayan selepas lulus dari SMA.

Selayaknya kisah klise slice of life dan melodrama keluarga pada umumnya, nggak lengkap rasanya kalau Ruby nggak dihadapkan sama kisah romance dengan cowok yang satu sekolah dengannya. Aspek romance dalam film ini memang ada, tapi terasa cukup ringan dan nggak ‘menyetir’ kisah dalam film secara signifikan.

Sembari berusaha untuk memajukan bisnis keluarganya, Ruby juga harus selalu berlatih vokal dengan guru di sekolahnya untuk sebuah pertunjukan vokal di akhir semester. Kedua konflik ini terjadi secara beriringan, dengan sudut pandang penonton yang berempati kepada Ruby yang lebih memilih untuk fokus bernyanyi ketimbang membantu meneruskan profesi keluarga. 

Ada salah satu scene yang sangat berkesan, yaitu saat keluarga Ruby datang ke pertunjukan vokal untuk melihat ia bernyanyi.

Scene saat keluarga Ruby dalam film Coda saat datang ke pementasan vokal.
Scene saat keluarga Ruby datang ke pementasan vokal. (Sumber: apple.com)

Di momen itu, kita diperlihatkan dengan sudut pandang dari ayahnya Ruby, yang hanya bisa mengobservasi keadaan sekitar pertunjukan seraya melihat anaknya bernyanyi di atas panggung tanpa bisa mendengar betapa merdunya suara Ruby. Scene ini berlangsung selama semenit penuh tanpa adanya suara apapun. Scene ini sukses jadi yang paling powerful menurut gue.

BACA JUGA: THE PLATFORM (2019): TENTANG SEBUAH SISTEM YANG SUDAH SEPANTASNYA DIBERANGUS

Meskipun bentuk interaksi dalam film ini kebanyakan menggunakan bahasa isyarat, namun rasanya pesan yang ingin disampaikan kepada penonton sangat bisa ditangkap, interaksi antara pemeran terasa sangat fluid dan cukup jelas, tanpa membuat penonton menjadi kebingungan.

Kisah Ruby sebagai seorang remaja yang berusaha mencari jati diri sembari dihadapkan dengan kenyataan dunia jadi poin yang cukup relatable sama kehidupan anak-anak zaman sekarang. Kalo bahasa kerennya, disebut film coming of age.

Dengan scoring yang ‘cantik’ dan sinematografi yang memukau, gue rasa film ini memang layak untuk memenangkan tiga piala dari Academy Awards, yaitu untuk nominasi Best Picture, Best Supporting Actor (peran Ayahnya Ruby)dan Best Adapted Screenplay.

Meskipun alur ceritanya terbilang cukup bisa diprediksi, Sian Heder (Director) mampu menyajikan pesan yang menggugah pikiran terhadap sebuah isu sosial di mana masih banyak penyandang Tuli yang mendapatkan diskriminasi oleh masyarakat.

Dikutip dari Screen Daily, Sian Heder berharap akan semakin banyak cerita yang mengangkat isu-isu sosial ke depannya, berpusat pada seorang pemeran yang Tuli, atau melimpahkan peran utama untuk aktor / aktris yang menyandang disabilitas.

Film ini mengajak kita untuk dapat berempati kepada para penyandang Tuli tanpa membuat kita merasa ‘kasihan’ terhadap mereka. Sebuah fakta bahwa para penyandang Tuli terlahir bukan untuk dikasihani atas keterbatasan yang mereka miliki, tetapi bahwa mereka juga mempunyai kesempatan, hak hidup, dan perlakuan yang sama untuk bisa terus memperjuangkan sesuatu yang mereka percaya. (*/)

BACA JUGA: PROSES KREATIF BACEP SUMARTONO, PENULIS NASKAH FILM PENDEK ‘TILIK’

  • whatsapp
  • twitter
  • facebook
  • remix
Penulis

Garry

Content writer Froyonion, suka belajar hal-hal baru, gaming, dunia kreatif lah pokoknya.