Esensi

SAINS JELASKAN KENAPA KONSER MUSIK OFFLINE TETAP TAK TERGANTIKAN

Pandemi lalu membuat kita sempat mengalami era kejayaan konser online. Namun, begitu level PPKM diturunkan, banyak konser offline kembali digelar. Kenapa ya konser offline nggak ada matinya?

title

FROYONION.COM - Kalo lo termasuk orang yang pandemi kemarin stres karena nggak bisa menikmati konser musik offline, bergembiralah karena sekarang aturan PPKM dari pemerintah sudah mengizinkan kita kembali menikmati penampilan musisi secara langsung seperti zaman sebelum pandemi melanda dunia.

Sejak tahun 2021 lalu, wacana dibukanya kembali konser offline juga udah ada. Dan udah ada beberapa konser offline yang digelar meski dengan pembatasan jumlah peserta dan konsep hybrid atau gabungan offline dan online.

Dan meskipun menyaksikan konser online di rumah bareng orang-orang terdekat masih bisa dilakukan oleh penikmat musik, sebagian  besar rasanya setuju kalo konser offline masih belum tergantikan. 

Rata-rata sih kalo ditanya alasannya bilang kalo konser offline seru karena bisa interaksi langsung dengan sesama penikmat musik, plus ada interaksi langsung antara musisi yang tampil dan penonton. Ini nih yang priceless. Konser musik online agak susah mengakomodasi hal ini. 

BACA JUGA: BOY PABLO KEMBALI GELAR KONSER DI JAKARTA, SIMAK JADWAL DAN HARGA TIKETNYA, CIVS!

Dari fakta ini, kita patut bertanya: Apa alasan ilmiahnya orang-orang nggak bisa ninggalin konser musik offline dan sepenuhnya beralih ke konser musik online?

Untuk menjawab pertanyaan ini secara lebih objektif dan faktual, gue coba cari-cari jawabannya, Civs. Dan ketemu deh satu penelitian yang dilakukan peneliti dari Max Planck Institute for Human Cognitive and Brain Sciences di Leipzig. 

Mereka membandingkan respon otak manusia terhadap alunan musik (piano) yang dimainkan oleh komputer dan musisi. 

Memang benar musik yang dimainkan komputer bisa membangkitkan emosi mereka yang mendengarkan terutama saat nada-nadanya berubah secara tak terduga. Hanya saja yang unik adalah respon emosi pendengar itu nggak sekuat dibandingkan dengan respon terhadap musik yang dimainkan secara langsung oleh musisi profesional.

Untuk mengukur respon emosi ini ilmuwan menggunakan alat pengukur aktivitas listrik otak dan konduktan di kulit para subjek penelitian sehingga bisa diketahui produksi keringat yang menunjukkan respon emosional.

Saat dimainkan musik, otak para subjek penelitian menunjukkan adanya aktivitas listrik yang jelas terhadap perubahan musikal ini. Tampaknya otak berupaya untuk memahami struktur musik yang dinikmatinya. Namun, saat musik yang sama dimainkan oleh musisi profesional, reaksi otak makin kuat dan tajam.

Ilmuwan menyimpulkan bahwa saat musik dimainkan terutama dengan nada yang tak bisa ditebak, ekspresi musikalnya juga makin kuat dan jelas. Jadi manusia memang merespon lebih kuat terhadap musik yang dimainkan langsung oleh musisi, bukan komputer. Otak kita menganggap musik yang dimainkan langsung oleh musisi ini sebagai sebuah pesan yang diterima otak. 

Berita gembiranya, sekarang pemerintah udah kasih izin menikmati musik di konser offline lagi. Bahkan udah ada konser musik Joyland Festival yang digelar 25-27 Maret lalu di Bali yang udah bisa dibilang sukses besar. (*/)

BACA JUGA: PENANTIAN PANJANG KONSER MUSIK KALA PANDEMI, AKANKAH BERAKHIR?

  • whatsapp
  • twitter
  • facebook
  • remix
Penulis

Akhlis

Editor in-chief website yang lagi lo baca