Music

INDONESIA JADI ‘JURU KUNCI’ PENGEMBALIAN GELANG KONSER COLDPLAY

Kecewa tapi tidak terkejut. Indonesia berada di posisi paling buncit perihal persentase pengembalian gelang tur konser Coldplay Music of The Spheres. Kok bisa?

title

FROYONION.COM – Akun resmi Coldplay telah mengumumkan data leaderboard persentase pengembalian wristband selama tur konser Music of the Spheres berlangsung. Dari 25 negara dalam daftar tersebut, tampak Indonesia menempati posisi terakhir dengan persentase 77%. 

Posisi pertama dipegang Tokyo, Jepang dengan persentase 97%, disusul Copenhagen, Denmark sebesar 96% dan urutan ketiga ada Buenos Aires, Argentina yang mencapai 94%. 

Angka 77% sebenarnya masih lebih tinggi dari perkiraan yang sebelumnya beredar. Jauh sebelum pihak Coldplay menerbitkan leaderboard resminya, ada selentingan rumor bahwa persentase pengembalian gelang konser di Jakarta hanya di angka 52%. 

BACA JUGA:

SAMBIL KONSER, SAMBIL PEDULI LINGKUNGAN BERSAMA COLDPLAY DALAM TUR ‘MUSIC OF THE SPHERES’ 

Bahkan, sejak awal sudah diramal bahwa Jepang akan memuncaki daftar ini. Muncul pula lelucon di kalangan netizen tanah air bahwa 3% penonton konser di Tokyo yang tidak mengembalikan gelangnya adalah penonton asal Indonesia. 

Walaupun jelas bukan prestasi membanggakan, namun perolehan ini memang sudah bisa diprediksi sejak hari konsernya digelar. Beberapa penonton secara terang-terangan mengaku tidak mau mengembalikan gelang dengan alasan harga tiket yang mahal hingga hendak menjadikannya kenang-kenangan. 

XYLOBAND DALAM KONSER COLDPLAY 

Grup musik legendaris asal Inggris, Coldplay, menyambangi Indonesia pada 15 November 2023 lalu dalam rangkaian tur konser dunia Music of the Spheres di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Sama seperti konser-konser sebelumnya di negara lain, tiap penonton juga diberikan gelang konser yang disebut Xyloband

Pemberian gelang ini sudah umum dilakukan sejak tur Mylo Xyloto. Gelang ini nantinya akan dapat memancarkan cahaya warna-warni sesuai tema serta melodi yang tengah dimainkan Chris Martin dkk selama konser berlangsung.

Namun kali ini ada sedikit perbedaan pada Xyloband yang digunakan pada tur Music of the Spheres. Gelang konser edisi ini diproduksi secara lebih ramah lingkungan. Penonton juga dihimbau untuk mengembalikannya setelah konser selesai. 

BACA JUGA:

MOMEN KOCAK COLDPLAY DI KONSER JAKARTA, DARI NGEPANTUN SAMPAI INTERAKSI DENGAN FANS 

Pasalnya, Coldplay tidak memproduksi Xyloband ini di tiap konser demi mengurangi limbah. Promotor juga telah menyediakan beberapa boks di luar stadion sehingga penonton bisa mengembalikannya sesuai kesadaran diri masing-masing. 

Demi memantau gelang konser yang dikembalikan, pihak Coldplay akan membuat peringkat kota dengan persentase tertinggi dalam hal pengembalian gelang. Peringkat ini sudah dinantikan oleh penggemar setia pelantun Yellow itu bahkan sejak sebelum digelarnya konser. 

Banyak dari fans setia di tanah air yang mewanti-wanti para penonton, terutama dari kalangan non-fans, untuk mematuhi peraturan dan mengembalikan gelangnya seusai konser. Sayang, bagai masuk kuping kiri keluar kuping kanan, banyak dari penonton yang justru dengan bangga memperlihatkan di media sosial bahwa mereka akan membawa pulang Xyloband. 

MARAKNYA PRAKTEK CALO HINGGA TIKET KONSER DIJUAL DI MARKETPLACE 

Konser Coldplay November lalu di Stadion GBK terbukti laris manis. Tiketnya terjual habis, bahkan calon pembeli sampai harus mengantri berjam-jam lamanya di situs pembelian tiket. Maklum, ini adalah kali pertama band rock tersebut manggung di Indonesia. 

Antusiasme yang tinggi ini rupanya dimanfaatkan oleh pihak-pihak tak bertanggungjawab. Banyak dari pembeli tiket kemudian menjual kembali tiketnya dengan harga fantastis. Kelas Ultimate Experience, misalnya, yang harga normalnya di angka Rp11 juta ditemukan dijual ulang dengan harga Rp60 juta. 

Bahkan, tiket konser Coldplay juga ditemukan dijual di marketplace, tentu dengan harga yang tidak wajar dan jauh melampaui harga jual aslinya. Menanggapi hal ini, Ekhel Candra Wijaya selaku Head of Corporate Affairs Tokopedia mengaku akan menindak tegas oknum yang melakukan penjualan tiket konser. 

BACA JUGA:

PROMOTOR MUSIK DILARANG ADAKAN KONSER PADA DUA BULAN INI DI TAHUN 2024 

Selain calo, masalah klasik perkonseran tanah air juga berasal dari modus penipuan. Salah satunya dengan berpura-pura memiliki kenalan orang dalam promotor untuk kemudian kemudian menjual tiketnya pada pembeli yang tidak kebagian. Tidak tanggung-tanggung, tersangka penipuan dengan modus operandi ini berhasil mengantongi hingga Rp5.1 miliar

Masalah seputar konser Coldplay tidak berhenti sampai di ticketing. Linimasa Twitter mengabarkan kacaunya antrian masuk venue sebelum konser digelar hingga beberapa pemegang tiket resmi yang tidak kebagian Xyloband. Akhirnya, ada beberapa kemungkinan mengenai kenapa Indonesia jadi juru kunci pengembalian gelang konser Coldplay. 

Mungkin ada dari penonton yang sengaja membawa Xyloband pulang sebagai kenang-kenangan setelah mengantri tiket berjam-jam atau membeli di calo dengan harga berkali-kali lipat. Mungkin ada yang menganggap membawa pulang Xyloband itu keren walau sudah tahu pasti bahwa gelang itu harus dikembalikan. 

Atau mungkin, beberapa Xyloband memang sengaja ditilep pihak yang seharusnya bertanggungjawab. Pasalnya, pihak promotor sendiri tidak bisa memberi jawaban pasti mengenai mengapa ada pemegang tiket yang membeli melalui situs resmi tapi tetap tidak kebagian Xyloband. 

Mungkin, masalahnya memang ada di mentalitas kita, baik dari sisi penonton maupun penyelenggara. Praktek calo hingga penipuan ini sudah jadi masalah klasik tiap kali diadakan konser artis-artis besar, jauh sebelum Coldplay datang. Pun demikian dengan budaya korupsi yang semakin merajalela hingga level masyarakat kelas bawah juga turut melakukannya. 

Belakangan, tersiar kabar Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan buka suara terkait konser The Eras Tour yang hanya menyambangi Singapura. Beliau bahkan berjanji akan menggelar konser tandingan di Indonesia dalam kurun waktu 6 bulan. Ambisi yang wajar mengingat Eras Tour menyumbang hingga 10% PDB Singapura dari sektor layanan darmawisata. 

Tapi itu lho Pak, masalah calo diperbaiki dulu, baru bawa Mbak Taylor ke sini! Banyak penggemar artis-artis tertentu yang lebih memilih membayar mahal untuk menonton konser idolanya di luar negeri daripada di Indonesia mengingat carut marut sistem ticketing dan maraknya calo. 

Selama mentalitas ini belum bisa diperbaiki, jangan berharap terlalu banyak bahwa konser-konser artis besar berikutnya akan dapat dilaksanakan dengan tertib. Atau bahkan, jangan berharap artis-artis tertentu akan menggelar konsernya di sini. (*/)

  • whatsapp
  • twitter
  • facebook
  • remix
Penulis

Wahyu Tri Utami

Sometimes I write, most of the time I read