Tech

ELON MUSK CS MINTA PENGEMBANGAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE REHAT SEJENAK, KENAPA YA?

Gimana jadinya ya kalau pengembangan AI yang ngebut sekarang ini dihentikan sejenak? Apakah ada cara untuk melakukan hal tersebut?

title

FROYONION.COM - Perkembangan teknologi global beberapa hari terakhir diguncang sama petisi yang ditandatangani oleh banyak tokoh dunia kenamaan tentang perkembangan Artificial Intelligence (AI). Termasuk CEO Twitter sekaligus pendiri Tesla dan SpaceX, Elon Musk, tokoh-tokoh ini meminta agar riset yang dikembangkan dapat dijeda sementara. 

Surat terbuka itu digalang oleh lembaga nonprofit bernama Future of Life Institute. Setidaknya, ada lebih dari 1.300 orang yang telah menandatangani petisi tersebut dan terdiri dari banyak pemimpin perusahaan teknologi, professor, hingga peneliti. Intinya sih, mereka menganggap perkembangan AI yang sangat gencar belakangan ini dapat berisiko besar bagi masyarakat dan kemanusiaan.

Makanya, mereka mengusulkan agar eksperimen dan segala riset yang berkaitan dengan kecerdasan buatan dihentikan sekitar enam bulan. Tujuannya agar setiap pihak dengan bersama-sama dapat mengembangkan sistem manajemen dan tata kelola perangkat AI yang lebih aman. Memang sih, harus diakui kalau sekarang ini dunia AI yang berkembang dengan sangat pesat belum diikuti oleh aturan ataupun landasan hukum yang rigid sehingga bisa dimanfaatkan dengan benar. 

Dalam konteks ini, ungkapan jika inovasi selalu satu langkah lebih maju dari regulasi nyata terasa. 

BACA JUGA: APAKAH KECERDASAN BUATAN BISA GANTIKAN KREATIVITAS MANUSIA?

Sebagai informasi, beberapa AI yang mungkin populer di kalangan masyarakat sekarang ini adalah apa yang dikembangkan oleh OpenAI, Microsoft dan Google ya. Tapi, banyak negara lain melalui raksasa teknologi mereka seperti IBM, Amazon, Baidu, dan Tencent sebenarnya juga tengah mengembangkan teknologi serupa. 

APAKAH TEKNOLOGI PERLU DAN BISA DIBENDUNG? 

Pertanyaan besarnya adalah sampai sejauh mana manusia bisa membendung pengembangan teknologi. Lalu apakah memang cara yang dilakukan para pengusaha sekaliber Elon Musk untuk meminta jeda waktu pengembangan teknologi itu sendiri akan efektif?

Pakar keamanan siber sekaligus Chairman Lembaga Riset Keamanan Siber dan dan Komunikasi CISSReC, Pratama Persadha beranggapan kalau memang harus disadari bersama teknologi cepat atau lambat akan banyak menggeser peran manusia. Hal itu bisa diimplementasikan dalam banyak hal mulai dari sisi produksi, distribusi, hingga pola konsumsi manusia dalam dunia global. 

“Tentunya kita berharap dalam pengembangan AI, negara hingga dunia pendidikan (kampus) bisa banyak ikut serta sehingga teknologi AI yang dihasilkan tidak kontraproduktif bagi manusia itu sendiri,” kata Pratama saat diwawancarai, Kamis (30/3). 

Jebolan Akademi Sandi Negara (AKSARA) ini memandang jika diperlukan satu regulasi global, regional, hingga di tingkat lokal (negara per negara) untuk bisa mengatur implementasi kecerdasan buatan tersebut.

Menurutnya, upaya tersebut jadi hal yang penting jika memang momen ‘rehat’ yang diusulkan oleh Elon Musk cs disetujui oleh para raksasa teknologi dunia. 

Kenapa aturan dan regulasi jadi penting menurut Pratama? 

Sederhananya begini, menurut dia, sekarang ini banyak negara-negara yang menjadi entitas hukum internasional tidak terlibat ataupun mengetahui secara rinci mengenai pengembangan AI yang dilakukan perusahaan teknologi. Padahal, dunia global perlu juga memantau pergerakkan sehingga teknologi itu sendiri tidak malah menjadi batu sandungan di kemudian hari. 

“Mungkin kita harus berkaca pada banyaknya kasus cryptocurrency yang sempat naik daun lalu tiba-tiba dalam waktu singkat hancur. Ini terjadi karena hype yang ada mengalahkan fungsi negara dalam melakukan edukasi dan membangun regulasi yang layak,” ucap dia. 

Sekarang ini pun nggak bisa dipungkiri jika kemampuan kecerdasan AN bisa banyak mengalahkan manusia. Maka dari itu, langkah pertama yang urgent untuk dilakukan adalah bukan untuk mengejar ketertinggalan dengan AI tapi bagaimana membuat suatu skema yang memungkinkan AI bisa dimanfaatkan manusia dan teregulasi dengan benar. 

Sebagai informasi, surat terbuka yang ditandatangani itu terbit berselang dua pekan setelah pengumuman GPT-4 dari OpenAI. Melalui versi ini, banyak pengembangan baru dari fungsi chatbot AI tersebut. Dalam demo yang dilakukan, diperlihatkan jika GPT-4 mampu menyusun tuntutan hukum, lulus ujian standar, bahkan membangun situs web dari sketsa yang digambar dengan tangan. 

Perkembangan AI itu pun beriringan dengan kekhawatiran para ahli jika alat tersebut nantinya memberikan respons yang bias dan menyebarkan informasi yang salah hingga berdampak pada privasi konsumen. 

Maka dari itu, lewat surat terbuka para pengusaha mengusulkan agar dibentuk protokol bersama untuk bisa mengakses alat AI tersebut. Yang dilewatkan oleh banyak pengembang teknologi, dituliskan dalam surat, ialah perlombaan yang tidak terkendali untuk menjadi nomor satu dalam pembuat kecerdasan buatan. 

BACA JUGA: MARAKNYA PENGGUNAAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE (AI), BAKAL JADI ANCAMAN BAGI PEKERJA KREATIF?

AI UNTUK DUNIA YANG LEBIH BAIK

Sementara, menurut pakar keamanan siber dan forensik digital dari Vaksincom Alfons Tanujaya harus disadari juga jika mereka yang menandatangani petisi tersebut bukanlah orang-orang biasa. Maka dari itu, nggak mungkin juga mereka menandatangani petisi tanpa mengetahui alasan nyata dibalik kehebatan AI suatu saat nanti. 

Sekarang ini, kata dia, memang AI belum banyak diimplementasikan untuk mesin-mesin fisik. Kebanyakan AI yang kita kenal berupa sistem komputasi, namun telah membuat banyak orang gelisah akan kehebatannya. Oleh sebab itu, di titik ini kontrol pengembangan perlu dilakukan. 

“Yang dikhawatirkan ke depan memang kalau tidak di kontrol dengan baik dan AI diaplikasikan ke mesin yang terhubung ke dalam banyak perangkat, maka jelas itu akan mengalahkan manusia,” ucap Alfons. 

Sebenarnya, dari sudut pandang Alfons dalam dunia siber itu sulit untuk menahan raksasa teknologi untuk terus mengembangkan inovasinya. Menurutnya, bukan hanya perusahaan besar saja yang memiliki kepentingan. Tapi sebenarnya negara melalui militer dan politiknya juga punya andil yang besar.

“Mana ada negara yang mau diam saja melihat negara lain sudah sangat maju memanfaatkan AI, tentunya mereka juga akan berlomba memanfaatkan AI ini untuk kepentingan mereka dan hal ini yang menurut saya sangat sulit dihentikan,” jelasnya. 

Nah, salah satu hal yang bisa dilakukan sekarang ini adalah mengubah sudut pandang kita sebagai masyarakat umum dalam memandang kecerdasan buatan.

Jika terlalu jauh masuk dalam kepentingan politis tersebut, maka kita sebenarnya juga ikut membuang waktu untuk beradaptasi dengan kecerdasan buatan tersebut. Pasalnya, kata dia, sekarang ini AI masih sangat memungkinkan dan berguna untuk membantu meningkatkan produktivitas hingga efisiensi. Menurutnya, banyak korporasi dan startup besar di Amerika yang mulai mengimplementasikan sudut pandang itu, yakni memanfaatkan AI untuk membantu pekerjaan manusia. 

“Mereka berfokus pada solusi yang bisa diberikan oleh AI dan pengembangan AI. Jadi saat ini dunia mengakselerasi perkembangan AI,” ucapnya lagi. 

Oleh sebab itu, terlepas dari berhasil atau tidaknya usulan dalam petisi tersebut. Sebenarnya menurut Alfons, penting juga dilakukan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) untuk menghadapi era dunia yang penuh dengan AI. (*/)

BACA JUGA: KUPAS TUNTAS KELEBIHAN PENULIS YANG TIDAK DIMILIKI CHAT GPT

  • whatsapp
  • twitter
  • facebook
  • remix
Penulis

Michael Josua

Cuma mantan wartawan yang sekarang hijrah jadi pekerja kantoran, suka motret sama nulis. Udah itu aja, sih!