Stories

PERJALANAN MAESTRO TARI, MARZUKI HASAN DALAM PENTAS ‘TARI ACEH DARI MASA KE MASA’

Usia boleh senja, tapi urusan tarian Aceh, Bapak Marzuki Hasan maestronya. Simak cuplikan penampilan dan kisah perjalanan Marzuki di sini. Check it out!

title

FROYONION.COMMenjelang penghujung ramadan, Galeri Indonesia Kaya secara istimewa mempersembahkan penampilan Tari Aceh Dari Masa ke Masa bersama maestro tari asal bumi serambi Mekah, Marzuki Hasan yang terkenal atas kiprahnya mengenalkan tarian Aceh ke mancanegara.

Pementasan ini menjadi bagian dari ragam pertunjukan bertemakan tari dari pertengahan Februari hingga akhir Maret 2024. Digelar di ruang auditorium, Galeri Indonesia Kaya pada Sabtu (30/3). Penonton dibuat terpukau penampilan tari dan grup vokal di bawah asuhan sang maestro yang karib disapa Pak Uki itu.

“Marzuki Hasan atau yang sering disapa Pak Uki, telah berdedikasi selama puluhan tahun dalam mengajar, menyutradarai, dan mempersembahkan karya-karya tari yang memukau. Beliau kerap mengekspresikan keindahan dan kekayaan budaya Aceh melalui gerakan-gerakan tari yang indah dan penuh makna,” kata Renitasari Adrian, Program Director Galeri Indonesia Kaya.

“Pak Uki tidak hanya menjadi guru bagi banyak penari muda, tetapi juga menjadi inspirasi bagi generasi penerus untuk terus melestarikan dan mengembangkan seni tari tradisional Indonesia, khususnya tari Aceh. Pertunjukan ini diharapkan dapat menjadi wujud apresiasi kami terhadap karya-karya Pak Uki dan bermanfaat bagi para penikmat seni,” pungkasnya.

Adapun beberapa tarian yang ditampilkan antara lain tari Likok Meualoen, tari Ranup Lampuan, lagu Bungong, dan tari Rampoe Meuhayak yang keseluruhan penampilan tersebut sarat akan syair yang bermakna terhadap keagungan Tuhan Yang Maha Esa. 

Kalian penasaran bagaimana proses kreatif serta keseruan menarik lainnya di balik pertunjukan Tari Aceh Dari Masa ke Masa? Yuk, simak selengkapnya di bawah ini.

SECUIL KISAH HIDUP MARZUKI HASAN YANG MENDUNIA

Tari Ranup Lampuan
Formasi tari Ranup Lampuan yang dibawakan oleh penari wanita dengan formasi yang cantik. (Foto: Galeri Indonesia Kaya)

Tak banyak yang menyangka bahwa Marzuki Hasan ialah figur yang pertama kali meluaskan tarian Aceh, salah satunya ke Pulau Jawa. kisah ini berawal dari dirinya yang hendak melanjutkan pendidikan di Yogyakarta, hingga menjadi dosen di Ibukota.

Di titiknya sebagai dosen inilah yang membawanya ke mancanegara. Tari Seudati diperkenalkan ke beberapa negara, seperti Amerika Serikat, Afrika, Paris, Italia, Inggris, Australia, Lebanon, Abu Dhabi, Kuwait, Qatar, hingga Arab Saudi. Jerih payahnya ini menghasilkan kesempatan diundang untuk mewakili Indonesia.

Kejayaannya masih bersinar hingga kini menjadi penari di Istana Negara semenjak era Soeharto sampai dengan Joko Widodo. Tekad penuh Marzuki untuk memperkenalkan kesenian Aceh begitu terpancar bahkan saat penulis menemuinya di Galeri Indonesia Kaya. Padahal, sewaktu menjadi dosen di IKJ, ia beberapa kali meminta izin untuk rehat sejenak karena faktor usia.

Menurut Marzuki, ada enam unsur yang memuat kelebihan seni dan budaya Aceh. Pertama adalah agamis, yakni syair-syair yang dinyanyikan sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan, kedua yaitu unsur heroik karena tarian Aceh melambangkan perjuangan orang Aceh, ketiga adalah solidaritas yang juga selaras dengan prinsip gotong royong. Lalu unsur lainnya seperti kebersamaan, disiplin dan humoris.

“Bila tidak ada rasa cinta kepada budaya sendiri, maka akan sulit untuk kita berkembang,” ujarnya.

TARIAN PENUH AKSI, JADI DAYA TARIK ANAK MUDA

Tari Rapai Kipah
Tari Rapai Kipah menjadi penutup gelaran yang berlangsung kurang lebih 60 menit dan sukses menghibur penonton. (Foto: Galeri Indonesia Kaya)

Pementasan selama kurang lebih 60 menit ini diawali dengan merdunya nanyian syair yang diiringi alat musik rebana dari grup musik Canang 7 yang beranggotakan pria. Kemudian dilanjutkan dengan tari Ranup Lampuan atau tarian penyambutan yang dibawakan oleh penari wanita sambil menyuguhkan sirih.

Pertunjukkan berlanjut. Dipandu oleh presenter kondang yang jago menari, Kai Soerja, pementasan Tari Aceh Dari Masa ke Masa menyuguhkan rangkaian nyanyian bungong, duet antara salah satu personel Canang 7 dengan penari dari Gema Citra Nusantara. Penonton pun hanyut dalam nyanyian yang begitu syahdu.

Saat yang ditunggu adalah ketika penonton diajak untuk menari bersama melalui gerakan dasar tari Saman. Dipandu langsung oleh Marzuki Hasan, setiap barisan mewakili satu per satu gerakan tari. Jika dirasa sudah kompak, semuanya diminta untuk menari dengan gerakan yang lengkap.

Di penghujung penampilan, semua terpana dengan tari Rapai Kipah yang penuh aksi. Mulai dari gerakan saling bersahutan dengan penari lain tanpa bertabrakan, hingga atraksi melempar rebana secara bergantian tanpa harus terjatuh. Para penari yang didominasi perempuan ini telah berlatih sejak lama secara rutin.

Menurut Marzuki Hasan, tak ada cara ampuh mengajak generasi muda untuk terjun menari tarian Aceh selain berlatih dengan disiplin dan memberikan ciri khas, “Tarian aceh juga berbeda dari tarian yang lain. Di sini kita bisa melihat antusiasme dan displin serta komitmen luar biasa dari anak muda ketika berlatih. Karena itulah anak muda senang,” tuturnya.

“Karena banyaknya kompetisi, itu yang membuat anak muda tertarik ikut. Di sekolah dan di tempat lain. Ada hal-hal lain yang tampaknya sulit, tapi begitu masuk kok mudah, kok enak. Padahal sebelumnya terlihat sulit. Dan modalnya hanya tekun berlatih,” pungkasnya kepada rekan-rekan media. (*/)

BACA JUGA: DIVA INDONESIA ERA 1930-AN DIHADIRKAN KEMBALI LEWAT PEMENTASAN ‘KENANG-KENANGAN ROEKIAH’

  • whatsapp
  • twitter
  • facebook
  • remix
Penulis

Lukman Hakim

Penulis lepas yang menuangkan ide secara bebas tapi tetap berasas