Potensi Diri

INI BAHAYANYA TERLALU ‘PASSIONATE’ SAMA KERJAAN LO

Kerja yang cocok ama passion emang katanya enak. Tapi ternyata ada bahayanya juga, Civs. Ini  penjelasannya dari sisi sains.

title

FROYONION.COMMerasa sangat ama passionate atau bersemangat dan mencintai kerjaan sepenuh jiwa dan raga emang bikin kerjaan jadi lebih smooth. Nggak bakal ada rasa terpaksa. Nggak ada ngeluh-ngeluh yang nggak guna. 

Tapi tunggu dulu, Civs. Meski sebagian orang menganggap ini sebuah anugerah ternyata juga hal ini bisa jadi musibah kalau kita nggak kendalikan. Passion yang terlalu menguasai hidup malah membuat kita menjadi pribadi yang obsesif, kata ilmuwan.

Ini emang berlawanan dengan tren saat ini di dunia kerja, saat passion digadang-gadang sebagai satu kunci dan senjata pamungkas yang bisa bikin lo sukses dan tajir melintir kayak Elon Musk atau Mark Zuckerberg, kita malah sekarang perlu waspada dan dituntut lebih paham bagaimana cara mengendalikan passion supaya nggak menimbulkan dampak negatif buat diri kita.

BACA JUGA: “CARA MENCINTAI PASSION KITA

Passion secara umum punya kaitan erat dengan kesehatan dan kinerja kita di tempat kerja. Nggak heran banyak perusahaan menggunakan passion sebagai alasan untuk menarik calon karyawan.

Yang perlu diwaspadai ialah nggak semua passion kerjaan itu baik efeknya untuk diri kita. Jangan sampai ada yang dikorbankan demi passion, ungkap peneliti sekaligus mahasiswa program doktoral Ide Katrine Birkeland dari BI Norwegian Business School. Untuk mengantisipasi efek negatif ini, kita perlu mengenali akar munculnya passion kita.

Untuk itu, kita akan bedakan peran passion bagi kesehatan dan kinerja di pekerjaan kita.

Menurut Birkeland ada dua jenis passion dalam pekerjaan. Yang pertama adalah passion harmonis, yaitu jenis passion yang masih bisa lo kendaliin. Biasanya passion ini berkaitan dengan kinerja dalam sebuah posisi/ jabatan, keseimbangan hidup, kreativitas, organisasi, dan sebagainya. 

Yang kedua yakni passion obsesif. Di sini, passion muncul bukan cuma karena kebutuhan mencari nafkah tapi sudah ada kebutuhan lain yang lebih kompleks seperti kebutuhan akan status sosial atau harga diri di mata masyarakat luas. Dalam passion jenis ini, orang cenderung mendefinisikan diri mereka melalui pekerjaan mereka. Karena itu, mereka juga lebih rentan mengalami burnout dalam bekerja, stres kerja berlebihan dan konflik kompleks dalam keluarga dan pertemanan. Tak heran, passion jenis ini berdampak negatif pada kehidupan seseorang.

Sebuah studi yang melibatkan 1200 orang, ditemukan bahwa passion harmonis punya dampak lebih positif daripada passion jenis obsesif. 

Passion obsesif menurut ilmuwan berkaitan dengan perilaku kurang etis dan sopan di tempat kerja. Mereka yang memiliki passion obsesif lebih cenderung menampakkan perilaku dan sikap yang kurang menghormati orang di sekitarnya. Dan mereka inilah yang bisa merusak suasana dan atmosfer di tempat kerja. Mereka yang terobsesi ini lazimnya cowok. 

Untuk mengatasi orang-orang dengan passion obsesif, ada beberapa hal yang kita bisa lakukan. Yang pertama ialah dengan memberikan dukungan dan menanamkan iklim kerja yang berdasarkan pada penguasaan keterampilan (mastery climate). 

Dukungan bisa diberikan manajer dan rekan kerja agar orang yang memiliki passion obsesif bisa lebih terhindar dari burnout atau kelelahan di luar kewajaran saat bekerja. Terciptanya iklim kerja yang suportif ini membuat orang dengan passion obsesif lebih merasa dipahami oleh mereka yang ada di sekitarnya.

Iklim kerja yang berdasar pada penguasaan keterampilan memberikan peluang sukses yang setara bagi setiap orang di dalam organisasi asal mereka sanggup bekerja keras, mengembangkan diri dengan optimal, terus belajar, menguasai pekerjaan mereka dan mau bekerjasama dengan anggota tim lain. Iklim ini berkebalikan dengan iklim performa yang membandingkan kinerja dan pencapaian satu orang dengan orang lain di sebuah organisasi. 

Sekarang lo bisa mencoba meneliti diri lo sendiri, Civs. Apakah lo cenderung punya passion yang harmonis atau obsesif? (*/Foto: Laura Davidson via Unsplash.com)

  • whatsapp
  • twitter
  • facebook
  • remix
Penulis

Akhlis

Editor in-chief website yang lagi lo baca