Potensi Diri

CARA MENCINTAI PASSION KITA

Banyak banget orang yang bilang “it’s my passion”. Namun beberapa dari mereka tidak bisa menuhin apa yang mereka bilang. Ada yang beralasan udah bosen, gak prospek, dan alasan lainnya. Dan gimana caranya buat tetep cinta sama apa yang menjadi passion kita?

title

FROYONION.COM - “Follow your passion!” Gue sering banget denger kutipan ini dari zaman awal gue pegang handphone Blackberry. Kutipan itu lumayan hype banget pada zaman itu, yang jelas populer bagi para ABG nerdy yang merasa kalau passion itu sebuah hal yang keren. 

Namanya juga ABG. Kutipan tersebut bilang bahwa dalam melakukan sesuatu kita harus punya passion. Menurut gue kutipannya gak salah, tapi karena hal tersebut terlalu sering dibahas pasti timbul salah persepsi. Orang menjadi gak mau melakukan sesuatu dengan alasan hanya karena itu bukan passion dia.

Ketika seorang emak lagi minta bantuan anaknya, anaknya bilang: “Sorry mak, itu bukan passion aku!”, lalu apakah passion itu sebuah hal baik atau hanya jadi alesan orang buat menghindari suatu perkara? Lalu ada lagi sebuah kasus, orang yang mencintai passion-nya tapi cuma sekedar cinta monyet.

Ceritanya begini, ada anak sebut aja Merry. Merry pernah bilang ke temannya kalau dia passionate banget dengan dunia tarik suara. Pada suatu hari dia udah gak melakukan apa yang jadi passion-nya, kenapa demikian? Nah Merry beralasan kalau menyanyi udah gak keren lagi, dia barusan lihat influencer modelling dan dia pindah ke lain hati ikut terjun modelling.

Ya memang itu hak dia sebagai manusia yang bebas. Tapi sisi yang gue kritisi adalah kenapa bilang passion kalau gak cinta sepenuhnya sama passion-nya?

Sorry banget gue pake istilah yang agak bucin. Maksud gue adalah passion adalah hal yang tulus kita lakukan, walaupun dunia bilang gak prospek pun tetep kita lakukan. 

Kenapa demikian? Karena passion itu sejatinya adalah kegiatan kita yang udah kita lakukan dari dorongan di dalam diri kita. Jadi kasarannya, mau kondisi susah senang kita tetap melakukan hal yang kita sebut passion.

Mari kita memposisikan diri menjadi seorang yang mempunyai passion desain grafis. 

Tiba-tiba ada seorang teman kita mengatakan bahwa desain grafis udah gak laku, prospeknya udah gak bagus. Karena sekarang sudah banyak banget aplikasi desain instan yang gak butuh pengetahuan desain langsung bisa jadi desain yang ciamik

Tapi kita gak langsung goyah sama perkataan teman kita, kita tetap yakin kalau desain grafis itu tetap jadi passion kita. Karena dorongan hati yang kuat itulah kita tetap menekuni apa yang sudah dijalani.

Jadi, jangan selingkuh sama passion yang lain.

Tapi bagaimana cara kita tetap mencintai passion kita?

Semuanya adalah tentang penerimaan. Jadi kita harus menerima passion kita!

Seperti saat kita mempunyai seorang kekasih. Kita diuji dengan anggapan kalau pacar kita pernah aneh-aneh, lebih baik sama orang lain daripada harus sama pasangan kita. Terlepas perkataan itu benar atau salah, kita memilih untuk menerimanya.

Sama halnya dengan passion. Kita tidak perlu mencari ke mana pun atau harus berpindah ke lain passion, passion sudah ada di dalam diri kita. Terkadang kita menyembunyikannya atau tidak menyadari adanya passion tersebut.

Hal yang harus kita hindari berikutnya adalah berekspektasi terlalu tinggi.

Ekspektasi sebuah pandangan yang tidak realistis dan terkadang berdasarkan dengan emosi atau perasaan sesaat kita saja.

Seperti misalnya, sikap kita terhadap pasangan kita. Kita tidak boleh mematok standar terhadapnya terlalu tinggi. Pacar kita harus ganteng cantik lah, harus punya uang 5 Milyar lah, harus pernah namatin Anime One Piece.

Sama halnya terhadap passion. Untuk mempertahankan cinta kita terhadap passion, kita harus menghilangkan ekspektasi yang tidak realistis terhadap passion kita. Karena ekspektasi inilah kita menjadi punya kecenderungan buat tidak menganggap passion kita karena kita merasa bahwa hal itu bukanlah hal yang baik. 

Karena itulah, kita harus menurunkan ekspektasi kita. 

Percayalah ekspektasi itu hanyalah hasrat yang tidak realistis dan bersifat sementara. Daripada kita ber ekspektasi, lebih baik kita harus enjoy passion kita secukupnya dan sewajarnya.

Kita kembali membayangkan kita mempunyai passion. Tetapi kali ini kita memilih passion yang berbeda, kita memilih sebuah passion yaitu menulis.

Nah pada saat kita menekuni passion tersebut, kita membayangkan kalau kelak bakalan jadi penulis yang best seller seantero negeri. Karena kita sibuk membayangkan hal tersebut, kita jadi lupa apa yang harus kita lakukan saat ini. Ketimbang kita menulis rutin satu artikel per hari, kita lebih memilih buat menghayal terus kita akan menjadi seperti apa kalau passion kita menulis.

Suatu saat kita merasa kalau selama ini kita gak pernah mencapainya. Hasrat membayangkan jadi penulis best seller tersebut semakin memudar. Pada akhirnya kita merasa sudah tidak sesuai dengan apa ekspektasi kita saat itu.

Motivasi kita buat menulis udah turun, hal-hal yang indah sudah memudar terhapus oleh realita. Akhirnya kita berpaling dengan hal yang kita sebut passion di awal.

Dengan membayangkan hal tadi kita menjadi paham. Bermimpi itu boleh, tapi harus realistis. Bermimpi itu gratis, tapi mewujudkan hal tersebut yang membutuhkan sebuah usaha dan pengorbanan.

Kesimpulan yang bisa kita ambil dari jabaran gue di atas. Untuk mempertahankan passion kita harus menerimanya dan jangan memandang rendah, tetapi kita juga jangan memandang terlalu tinggi soal passion kita. Yang terakhir kalau kita emang bener-bener cinta sama passion kita, lakukanlah, tekuni, dan nikmati prosesnya.

Apakah kamu tetap cinta sama passion kamu? Kapan kamu balikan sama passion kamu, civs? (*/)

  • whatsapp
  • twitter
  • facebook
  • remix
Penulis

Luki Setiawan

Pernah jadi jurnalis waktu SMA, tahun ini gapyear tapi nyambi jadi penulis dan desainer freelance