Pop

MENGANALISIS FENOMENA DIGITAL LOVE LEWAT FILM ‘HER’ (2013)

Manusia merupakan makhluk yang unik. Nggak bisa ditebak, nggak terkontrol, bahkan oleh hati dan pikiran mereka masing-masing. Hal ini menimbulkan berbagai macam peristiwa yang terkadang membuat kita bergumam, “Kok bisa ya?”. Dan ‘Digital love’ salah satunya.

title

FROYONION.COM - Jatuh cinta padahal yang semu tampaknya hal yang aneh beberapa tahun yang lalu. Semua itu akan dianggap aneh bahkan gila bagi beberapa orang. Tapi percaya atau tidak, fenomena digital love mengubah itu semua. Yap, cinta virtual. Sebuah cara jatuh cinta yang baru dan tidak biasa. Aneh, tapi nyata.

Bagi beberapa kalangan, jatuh cinta dengan cara ini akan sama seperti jatuh cinta pada umumnya. Tapi sebagian akan kebingungan setengah mati. Bagaimana bisa manusia yang merupakan makhluk berakal bisa terbutakan oleh sesuatu yang tidak nampak mata? Kalau kalian termasuk orang-orang yang bingung, sepertinya kalian harus nonton film “Her”.

JATUH CINTA PADA AI

 “Her” sendiri merupakan film fiksi ilmiah yang rilis pada tahun 2013 garapan Spike Jonze. Dibintangi nama-nama beken seperti Joaquin Phoenix, Scarlett Johansson, Amy Adams, dan masih banyak lagi. Meski bergenre sci-fi drama (yang mana cukup aneh kalau dipikir-pikir lagi), film ini mampu menggaet berbagai respon positif dari kalangan kritikus dan penonton.

 Premisnya simple, seorang pria tiba-tiba jatuh cinta pada kepintaran buatan yang dibelinya. Aneh kan? Theodore Twombly bekerja di sebuah perusahaan jasa penulisan surat cinta. Theo merupakan seorang pria yang kesepian pasca digugat cerai oleh mantan istrinya. Ia pun membeli sebuah asisten AI untuk membantu hari-harinya bernama Samantha. Secara mengejutkan, Theo jatuh cinta pada Samantha dan Samantha perlahan “belajar” untuk menjadi manusia. Sebuah cinta lintas spesies kalau bisa dikatakan.

Film ini berlatar belakang di masa depan dan menyajikan sinematografi yang ciamik dengan color grading tone warna pastel. Penggambaran dunia futuristiknya tidak terkesan lebay, namun mendukung sebagai film sci-fi seperti adanya game augmented reality, manusia yang tidak bisa lepas dengan airpods-nya, dan gedung-gedung tinggi bergaya arsitektur modern. Secara keseluruhan, film ini cocok buat mengisi waktu luang lo karena bisa dinikmati dari segi sinema dan ceritanya yang berbobot.

 Bicara soal cerita, Spike Jonze dengan pintarnya menggiring opini kita sebagai penonton. Kita disajikan dengan romantisme manusia dan kepintaran buatan yang indah. Tapi di lain sisi, kita juga diberikan pertanyaan-pertanyaan tersirat tentang eksistensi manusia. “Apakah memang seharusnya begini?”, “Mengapa ini bisa terjadi?”, “Apa kita akan hidup di masa itu?” dan berbagai macam pertanyaan yang akan menemani kita selama menonton film.

ROMANSA SAAT PANDEMI

Sejujurnya, apa yang di film “Her” menggambarkan kondisi kita saat ini. Pandemi membuat teknologi merambah ke hampir setiap sudut kehidupan kita. Hubungan kita dengan manusia juga semakin terbatas. Dan pada akhirnya, kita lebih sering menghabiskan waktu dengan teknologi ketimbang berinteraksi langsung dengan manusia. Tapi yang masih menjadi pertanyaan di benak banyak orang adalah apakah digital love yang dialami Theo juga terjadi di kehidupan kita sekarang? Jawabannya, iya. Mari kita bahas satu per satu.

Pandemi membuat banyak orang menjadi seperti Theo. Tertutup dari kehidupan luar, stress, dan nyaman dengan kehidupan online. Secara tidak langsung, banyak bagian di kehidupan kita yang seharusnya merupakan tugas manusia, digantikan oleh teknologi.

Berbeda dengan Thoe yang jatuh cinta pada AI, beberapa orang jatuh cinta secara normal pada manusia, namun lewat teknologi. Entah itu DM Instagram, tukar kontak WA, atau lewat dating apps macam Bumble atau Tinder. Masih jatuh cinta dengan sesama manusia, tapi karena kenyamanan kita pada dunia maya membuat kita juga jatuh cinta pada yang maya pula.

 Kalau dipikir menggunakan logika, jatuh cinta seperti ini tidak masuk akal. Bagaimana bisa kamu jatuh cinta pada seseorang yang notabene belum pernah kita temui? Kita tidak tau perawakannya bagaimana, sikapnya saat bicara, raut wajah, dan masih banyak lagi. Kecenderungan kita pada teknologi juga membuat kita terlalu mudah percaya. Yang tua mudah percaya pada berita yang tak tau darimana, yang muda mudah jatuh cinta pada seseorang lewat maya. Mantap.

Tapi itulah cinta. Terkadang sebuah perasaan bisa membuat kita menutup mata akan logika. Tidak salah bila banyak orang yang bilang bahwa cinta itu buta. Lebih tepatnya, membuatakan.

RISIKO CINTA DIGITAL

Apapun di dunia ini memiliki risiko. Tak terkecuali jatuh cinta. Jatuh cinta dalam bentuk apapun, ada resiko yang harus ditanggung. Dalam kasus ini kita membahas digital love. Sebuah cinta digital yang tak berfisik. Risiko pertama ialah semu karena yang kita cinta itu tak punya bentuk fisik. Fakta bahwa semua yang kita lakukan melalui teknologi tidak sepenuhnya dapat kita sentuh secara fisik. Kalau begitu, solusinya ialah bersabar dan menunggu.

Namun, muncul permasalahan kedua ketika menunggu, ekspektasi. Pasti ada pikiran-pikiran yang timbul ketika kita coba berkomunikasi dengan seseorang lewat teknologi. Dan semua orang bisa menjadi siapa saja di media sosial. Ketika dua hal itu digabungkan, komunikasi dan personal online seseorang, maka akan timbul ekspektasi dari pikiran kita berbasis apa yang kita lihat di media sosial.

Lalu masalah berlanjut ketika bertemu. Kalau sesuai dengan ekspektasi kita, maka bersyukurlah karena kasus macam itu amat jarang ditemui. Namun, apabila malah bertolak belakang, maka bersiaplah untuk kecewa. Itulah mengapa dunia ini disebut dunia maya. Ya, karena sifatnya maya.

Sebagai manusia yang sudah beranjak dewasa, maka sebaiknya kita juga bisa mulai berpikir rasional. Kita bukan lagi bocah SMP yang dimabuk cinta monyet. Kita juga bukan karakter fiksi yang semuanya yang kita alami akan berakhir dengan indah. Jawaban dari semua pembahasan di atas adalah, kembali ke masing-masing. Karena itu hidup kalian. So live for it. (*/)

BACA JUGA: CODA (2021): KISAH HANGAT DARI SEBUAH KELUARGA TULI YANG PANTAS DIANUGERAHI ACADEMY AWARDS!

  • whatsapp
  • twitter
  • facebook
  • remix
Penulis

Fandy Sulthan

Peracik kata, penikmat dunia 3 dimensi dan pengagum rahasiamu