Pop

'INSIDE MAN' (2022): SEMUA ORANG BISA JADI PEMBUNUH, KONON…

Serial Inside Man bagus banget, buat kamu yang ingin membedah sendiri hasrat terliar yang mungkin sudah pernah dilakukan atau belum, karena ternyata nuranimu masih jalan. Kira-kira, apa yang membuatmu belum jadi “pembunuh” sampai sekarang?

title

FROYONION.COM - “Apa semua orang kalau kepepet bakal bisa melakukan hal di luar batas ya?”

Ini kata abang saya saat kami melakukan Video call WhatsApp, baru-baru ini. Terlepas dari konteksnya di mana abang saya sedang membicarakan masalah keluarga, omongan si abang mengingatkan saya akan limited series-nya Netflix berjudul “Inside Man”.

Inside Man-nya Denzel Washington? Tentu bukan. Kalau yang Denzel kan keluaran tahun 2006—walau gregetnya sama dan bikin ter-wow juga. Kondisi terjepit akan membuat kita melakukan hal tergila sekalipun. Begitu juga kedalaman hatinya manusia memang sulit tertebak, even orang yang kita kenal dekat.

Kembali lagi ke pertanyaan abang dan ingatan akan serial yang baru saya tamatkan, saya jadi tercenung dan kembali mempertanyakan, “Kita bakal segila apa sih kalau dalam kondisi kepepet?” Mari kita berkaca pada “Inside Man” (2022) ini.

So, film yang dimainkan oleh Stanley Tucci—yang btw juga berperan sebagai petugas imigrasi menyebalkan di “Terminal” (2004), ini bercerita tentang tahanan hukuman mati Jefferson Grieff (Stanley Tucci) yang “dalam rangka penebusan” atau mungkin semacam hobi (?) bantuin orang-orang yang punya masalah hukum kriminal.

Grieff adalah profesor di bidang  kriminologi yang sedang menunggu waktu eksekusi hukuman matinya. Grieff melakukan pembunuhan terhadap istrinya denga cara memutilasi sang istri, memenggal kepala, dan menyembunyikan kepala si istri. Sampai akhir cerita belum diberitahu alasan di balik penyembunyian tersebut.

Jadi tuh, orang-orang pada datang ke Grieff meminta nasehat hukum ataupun mencari orang hilang. Mulai dari seorang istri dan anak perempuannya yang mau mencari suami-ayah yang sudah hilang lima tahunan, sampai jurnalis kepo Beth (Lydia West) yang agak clumsy kalau menurut saya. 

Grieff menjadi benang merah dalam film ini, bagaimana orang-orang “baik” sekalipun akan menjadi “pembunuh”.

“Semua orang bisa jadi pembunuh, kamu hanya belum ketemu orang yang tepat…” begitu kata Grieff ke salah seorang yang melakukan konsultasi hukum dengannya.

Serial ini sangat menarik buat saya, bagaimana kondisi dan situasi membuat kita sebagai manusia yang terdiri dari daging, tulang, dan hormon-hormon ini turut memutuskan sesuatu. Apakah memilih jalan yang benar atau salah? Tapi, sebenarnya apa sih benar dan salah itu? Bukannya itu sesuatu yang subyektif ya? Tergantung apa yang benar buat si personal? Kalau dia membunuh untuk menyelamatkan orang yang dia cintai, pasti dia menganggap itu sebagai kebenaran. 

Seseorang yang bekerja di rumah ibadah sekalipun, yang seharusnya menjadi panutan, memimpin ibadah, dikenal karena menjalankan kaidah-kaidah agama, memberikan saran kepada ummat yang tertimpa masalah, tapi ketika dia terkena masalah, apakah dia benar-benar bisa mengamalkan apa yang dia sampaikan kepada ummat dalam ibadah?

Begitu juga seorang guru, yang menemukan suatu pelanggaran kejahatan, apakah mengikuti logikanya tanpa mencari tahu dulu kebenaran dari pihak-pihak terkait? Kemudian seorang jurnalis kepo yang mengatasnamakan mengejar kebenaran, grasak-grusuk melakukan apapun supaya si narasumber mau mengungkapkan peristiwa sebenarnya?

“Sekarang ini mainnya egois-egoisan…” orang terdekat saya pernah dengan lugas berkata demikian, ketika kami sedang membahas sesuatu yang kepepet. 

Seberapa egois kita, sampai harus mengorbankan nalar, logika, dan akal? Apa sebenarnya ketika kita memutuskan melakukan sesuatu atas nama orang yang dicintai, itu hakikatnya bukanlah cinta, melainkan bentuk keegoisan memuaskan nafsu sendiri?

***

“Kita semua adalah pembunuh, kita hanya belum ketemu orang yang tepat…”

Agak naif, kalau saya bilang semestinya kita harus mikir dulu sebelum memutuskan, ketika berada dalam kondisi yang terdesak. Karena, ketika saya bilang begitu, rasanya omong kosong banget. Saya tidak pernah berada di posisi si pendeta atau jurnalis atau malah si Grieff sendiri. 

Makanya ada yang bilang, coba kenakan sepatunya sebelum engkau menghakimi seseorang. Kita di luar lingkaran hanya bisa bilang, 

“Eh…seharusnya lebih bisa kontrol emosi dong..”

“Jangan pinjol dong…”

“Seharusnya mikir dulu, sebelum mengambil keputusan…

Dan seharusnya seharusnya yang lain…

Mungkin sebenarnya yang lebih mengena adalah bukan tentang tepat atau tidaknya atau siapa yang harus “dihabisi”, melainkan worth it enggak sih melakukannya? 

Apakah ketika “pembunuhan” tersebut dilakukan akan setimpal dengan apa yang kita terima setelahnya? 

Tidak ada penyesalan di wajah Grieff karena memutilasi istrinya. Hati manusia memang seperti kedalaman laut yang susah untuk diselami dan pahami. 

Akhir kata, serial ini bagus banget, buat kamu yang ingin membedah sendiri hasrat terliar yang mungkin sudah pernah dilakukan atau belum, karena ternyata nuranimu masih jalan. Atau kamu belum cukup punya keberanian untuk melakukannya. Kira-kira, apa yang membuatmu belum jadi “pembunuh” sampai sekarang? (*/)

BACA JUGA: PENJELASAN FILM SRI ASIH: KELAHIRAN SUPERHERO BARU, HATI-HATI SPOILER!

  • whatsapp
  • twitter
  • facebook
  • remix
Penulis

Ester Pandiangan

Penulis buku "Maaf, Orgasme Bukan Hanya Urusan Kelamin (2022)". Tertarik dengan isu-isu seputar seksualitas.