Pop

DERE “RUMAH”: URGENSI MERAWAT BUMI AGAR TETAP ASRI

Lewat lagu barunya Dere mengingatkan bahwa, “Kita bisa merasakan menjadi manusia seutuhnya, juga karena kita tinggal di bumi.”. Haruskah kita merawat bumi sebagai bentuk terima kasih? Lalu, bagaimana cara merawatnya?

title

FROYONION.COM – Bumi sebagai tempat kita tinggal saat ini sudah berada di tahap yang mengkhawatirkan. Pasalnya beberapa waktu lalu, Badan Meteorologi Dunia atau WMO memberikan peringatan soal perubahan iklim. Bahwa perubahan iklim nggak cuma menyebabkan banjir dan kenaikan permukaan air laut, tapi juga gelombang panas.

Kondisi saat ini sebetulnya tanpa diberi peringatan oleh organisasi global sekalipun kita turut merasakan perubahannya. Perubahan cuaca yang kita sadari belakangan ini menandakan iklim yang sudah mulai nggak stabil.

Kalo dulu umumnya setiap bulan Oktober sudah mulai musim hujan. Tapi sekarang beda, menemukan hujan pada bulan tersebut sudah jarang. Turunnya hujan di bulan Oktober nggak sesering biasanya, yang harusnya bulan Oktober adalah waktu di mana hujan turun terus-menerus.

Di beberapa kondisi hujan terus-menerus juga bisa bermasalah. Curah hujan yang tinggi mengakibatkan debit air yang meluap membuat beberapa daerah terendam banjir. Tapi bukan itu yang gue tekankan.

Terlepas dari itu pemanasan global ini membuat kita sulit memprediksi cuaca. Beberapa daerah yang terkenal sejuk sekali pun, sekarang ini udah nggak lagi demikian. Itulah beberapa keluhan temen-temen gue yang berasal dari Bandung.

Katanya mereka merasa bahwa Bandung saat ini udah kayak bukan Bandung yang dia kenal dulu. Biasanya Bandung itu ramah dengan suasana sejuknya, tapi sekarang udah mulai ganas, menyengat dengan panasnya.

Pemanasan global inilah yang mengisyaratkan ke kita semua bahwa bumi ini sudah seharusnya dijaga dan dilestarikan dengan seutuhnya. Itulah kira-kira gambaran dasar dari lagu terbaru Dere yang berjudul Rumah.

DERE ‘RUMAH’

Pada lagu tersebut sedikit banyaknya Dere menyampaikan sekaligus mengajak kepada para pendengar untuk meningkatkan kesadaran pentingnya menjaga bumi. Dan Dere menganalogikan bumi sebagai rumah, dimana seharusnya orang-orang yang tinggal di dalamnya turut serta merawat rumah.

“Aku mempresentasikan bumi sebagai rumah karena bumi adalah rumah kita satu-satunya. Dari kita lahir, tumbuh, sampai menjadi kita yang sekarang berada di bumi. Kita juga bisa merasakan menjadi manusia seutuhnya, juga karena kita tinggal di bumi.” Ujar Dere, Selasa (11/1).

Sebagaimana rumah kita pada umumnya, kita harus rajin-rajin membersihkan, menjaga, serta merawatnya supaya nggak menimbulkan kerusakan yang bisa membahayakan kita dan rumah kita tersebut.

Kemudian Dere menyampaikan opininya terkait nggak ada keterlambatan dalam rangka menjaga dan melestarikan bumi.

“Nggak ada kata telat untuk mulai melindungi bumi dengan selalu menjaga dan mawas diri dengan setiap hal yang dilakukan.” Tambahnya.

Lagu yang diproduseri oleh Petra Sihombing ini berawal dari keresahan Dere yang diceritakan kepada Tulus. Kemudian berujung pada terbentuknya lirik menakjubkan dari Tulus untuk disenandungkan oleh Dere. Selain itu Dere juga terlibat langsung dalam penyusunan aransemen bersama dengan Topan Abimanyu.

Sejak pertama kali kemunculannya sebagai penyanyi muda pendatang baru yang cukup gemilang, Dere kerap dikenal sosok yang menuangkan amatan tentang realita kehidupan sosial ke dalam sebuah lagu. Salah satu contohnya pada lagu Berisik.

Di lagu itu ia menyampaikan keresahan tentang beberapa orang yang terlalu banyak bicara, dan nggak mengontrol apa yang diucapkan dengan secukupnya saja. Itulah realita yang kerap kali kita temui di sekitar kita. Dan pada lagu Rumah ini pun demikian, menyampaikan realita sosial yang menjadi keresahannya.

URGENSI MELESTARIKAN BUMI

Setelah mengetahui tentang pesan yang berusaha disampaikan oleh Dere kepada para pendengar dari lagu terbarunya, apa sih sebetulnya urgensi yang mengharuskan kita semua untuk menjaga dan melestarikan bumi ini?

Urgensinya adalah ketika kita nggak merawat, menjaga, dan melestarikan bumi, kemungkinan bumi kita rusak akan semakin besar. Dari kerusakan tersebut akan menciptakan beberapa permasalahan, salah satunya yang sering dipublikasikan yaitu pemanasan global.

Pemanasan global tersebut akan mengakibatkan kenaikan permukaan air laut, yang mana hal itu adalah dampak dari gletser yang mencair. Selain urgensi yang bersifat ilmiah, yang berdampak langsung pada kondisi fisik bumi, urgensi berikutnya adalah adanya Perjanjian Paris.

Sekretaris Jenderal WMO, Petteri Taalas menyampaikan bahwa tingkat peningkatan gas rumah kaca saat ini sudah melampaui batas yang ditetapkan pada Perjanjian Paris, dimana negara dunia telah sepakat untuk membatasi pemanasan hingga di bawah 2 derajat celcius.

Perjanjian Paris ini merupakan hasil negosiasi dalam Konvensi Kerangka Kerja Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa atau United Nations Framework Convention on Climate (UNFCCC) yang disepakati oleh 195 perwakilan negara-negara pada Konferensi Perubahan Iklim PBB ke-21 di Paris, Prancis. Dan Indonesia tentu saja menjadi salah satu dari 195 perwakilan tersebut.

Untuk mengaplikasikan berbagai keharusan atas urgensi yang tadi dibahas, perlu adanya kiat-kiat sederhana yang mudah dilakukan dalam merawat bumi kita tercinta ini.

KIAT SEDERHANA MERAWAT BUMI

Harapannya beberapa cara ini nggak cuma kita serap dalam otak doang, alias setelah baca jadi lupa. Tapi juga harus bener-bener mengaplikasikannya.

Gue asumsikan kita ini sudah punya kesadaran akan pentingnya merawat bumi. Artinya mindset sebagai pondasi awal dari tujuan kita sama-sama merawat bumi ini sudah terpatri kokoh.

Pertama yang harus kita lakukan untuk merawat bumi pastinya dengan membuang sampah pada tempatnya. Jangan sembarangan lempar sana, lempar sini saat membuang sampah. Klise memang, tapi yang klise ini biasanya luput dari perilaku kita.

Kadang-kadang kita juga kerap kali abai buat nggak buang sampah pada tempatnya. Tapi mulai dari sekarang kita semua harus tanamkan kepedulian terhadap bumi ini ke dalam jiwa terdalam kita.

Selanjutnya, mungkin kita harus memiliki gaya hidup hijau dan beralih ke peralatan sehari-sehari yang lebih ramah bumi. Misalnya sedotan udah nggak pake yang plastik lagi. Atau udah mulai bawa tumblernya masing-masing buat minum, biar nggak ngumpulin sampah bekas gelas plastik yang biasa kita pakai.

BACA JUGA: “VERT TERRE”: JENAMA LOKAL RAMAH BUMI DARI YOGYAKARTA

Kalo jiwa kita sudah tertanam gaya hidup hijau, kedepannya saat melakukan aktivitas keseharian pun pasti nggak jauh-jauh sama peduli terhadap bumi.

Dere lewat lagu barunya Rumah memang mengingatkan kita pada pentingnya menjaga bumi, tapi kesiapan kita untuk merealisasikannya ke dalam kehidupan sehari-hari adalah tugas dan tanggungjawab kita. Siapkah lo berjuang bersama-sama merawat bumi tercinta ini, Civs? (*/)

  • whatsapp
  • twitter
  • facebook
  • remix
Penulis

Afrija Nurul Hikam

Penulis anak kemaren sore yang berangan-angan ketemu hari esok yang cerah.