Music

SUARA MUSIK LEMBUT BISA REDAKAN SAKIT PERSALINAN HINGGA KANKER

Sejumlah penelitian mengungkapkan bahwa musik dapat menurunkan tingkat nyeri. Mulai dari nyeri ringan, hingga nyeri ketika persalinan hingga kanker. Beneran dampak musik bisa sebesar itu?

title

FROYONION.COM – Siapa sih di sini yang nggak suka musik? Kayaknya hampir semua orang suka deh dengerin musik. Kalau sampai ada, sini berantem sama aku. Canda yaa.

Ngomongin soal musik, ada fakta menarik nih soal musik, baru-baru ini musik dipercaya oleh para peneliti bisa membantu meredakan atau mengurangi rasa sakit.

Nggak cuma rasa sakit, pas kejedot tembok tapi yang paling mengejutkan musik juga bisa meredakan sakit saat persalinan hingga rasa sakit bagi orang-orang yang menderita penyakit kanker.

Wah, keren yaks. Mau tau lebih jauh nggak nih, ya udah yuk gas kita bahas.

Awal mula, musik diketahui punya manfaat untuk meredakan rasa sakit ini berawal dari tahun 1960-an, Ketika seorang dokter yang tinggal di Boston bernama Wallace J. Gardner mencoba untuk memutar musik untuk para pasiennya.

BACA JUGA: TIKTOK SOUND ‘BROWN NOISE’ DICAP JITU BIKIN CEPAT TIDUR, EMANG IYA?

Bukan, tanpa alasan dokter gigi tersebut percaya dengan suara musik dipercaya dapat mengurangi rasa sakit pada pasien.

Gardner mengklaim bahwa ia telah melakukan 5000 prosedur perawatan gigi menggunakan musik untuk menimbulkan efek analgesik, bahkan 90% dari prosedur yang ia lakukan tidak memerlukan anestesi tambahan.

Setelah itu, mulai banyak para peneliti yang tertarik untuk meneliti soal ini. Setelah penelitian bahwa sistem pendengaran otak mempengaruhi sistem rasa sakit ketika mendengarkan musik yang menyenangkan.

Setelah lebih dari 60 tahun berlalu, para ahli saraf menemukan dua petunjuk tentang bagaimana suara menghalangi rasa sakit. Pertama, volume musik, kedua sirkuit mengejutkan antara daerah pemrosesan suara dan rasa sakit di otak.

MUSIK DAPAT REDAKAN SAKIT SAAT PERSALINAN DAN KANKER

Sebuah penelitian yang dilakukan antara tanggal 15 Oktober hingga 15 November 2022 untuk mengungkap manfaat mendengarkan musik dalam meredakan nyeri saat persalinan. Mereka mencari informasi dari beberapa database medis.

Mereka menemukan 12 penelitian yang memenuhi kriteria inklusi untuk tinjauan sistematik dan meta-analisis. Hasilnya menunjukkan bahwa mendengarkan musik secara signifikan dapat mengurangi intensitas nyeri saat persalinan. 

Penelitian menemukan bahwa mendengarkan musik, terutama pada fase aktif persalinan, memiliki efek yang lebih kuat dalam menurunkan rasa sakit dibandingkan dengan fase laten. Namun, penggunaan musik tidak mempengaruhi durasi persalinan.

Bagi yang belum tahu, apa itu, istilah "fase aktif" dan "fase laten", sini Aku jelasin.

Dalam konteks persalinan, fase aktif dan fase laten mengacu pada dua tahap yang berbeda dalam proses melahirkan. Berikut penjelasan singkatnya.

Fase laten atau fase pembukaan adalah tahap awal dari proses persalinan. Pada tahap ini, rahim mulai berkontraksi secara teratur, tetapi kontraksi tersebut mungkin masih tidak terlalu kuat atau tidak teratur. Serviks (leher rahim) mulai mengalami pembukaan secara bertahap, persiapan untuk kelahiran bayi. Fase ini dapat berlangsung beberapa jam atau lebih tergantung pada individu dan situasi.

BACA JUGA: JEJAK KEKERASAN SEKSUAL DI KOREA SELATAN DALAM DOKUMENTER BBC ‘BURNING SUN’

Kemudian, fase aktif dimulai ketika pembukaan serviks menjadi lebih cepat. Kontraksi rahim menjadi lebih kuat, teratur, dan terkoordinasi, membantu mempercepat proses pembukaan. 

Pada fase ini, pembukaan serviks biasanya mencapai sekitar 4 hingga 10 sentimeter. Biasanya, ini adalah fase di mana proses persalinan menjadi lebih intens, dan kelahiran bayi dianggap semakin dekat.

Nah, lalu kalau sakit kanker gimana, kok belum dijelasin. Sabar yaa, satu-satu.

Dikutip dari penelitian Indian J Palliat Care, para peneliti menemukan bahwa music lembut seperti klasik instrumental menunjukkan efek yang signifikan dalam mengurangi rasa sakit, kecemasan, dan suasana hati yang buruk sebagai tambahan untuk terapi yang sedang berjalan pada pasien kanker.

PENELITIAN KE TIKUS MENGUAK FAKTA BARU

Meski banyak penelitian soal manfaat musik bisa meredakan sakit para peneliti gabungan dari Amerika dan China ingin memahami bagaimana hal itu terjadi secara tepat dan akurat.

Tapi untuk melakukan penelitian tersebut pastinya butuh subjek penelitian dong. Apalagi, melakukannya, mereka harus memahami lebih dalam tentang bagaimana sistem saraf berperan

Masalahnya adalah, untuk memahami ini, mereka perlu melakukan eksperimen yang melibatkan manipulasi sirkuit saraf. Sayangnya, hal ini tidak selalu disetujui dalam penelitian pada manusia.

Oleh karena itu, tim ini memutuskan untuk menggunakan tikus sebagai model dalam penelitiannya. Meskipun terlihat sebagai pilihan yang jelas, menggunakan tikus untuk memahami efek musik terhadap rasa sakit ternyata adalah tugas yang menantang.

Salah satu alasannya adalah kita tidak tahu bagaimana tikus merespons musik. Maka dari itu, langkah pertama para peneliti adalah untuk mencari tahu apakah musik memiliki efek yang sama pada tikus seperti pada manusia, yaitu apakah musik dapat membantu mengurangi rasa sakit pada tikus.

Para peneliti mengekspos tikus-tikus tersebut selama 20 menit pada tiga jenis suara seperti suara, white noise, musik simfoni, dan aransemen yang tidak menyenangkan dari lagu yang sama. Suaranya dimainkan pada volume 50 atau 60 desibel.

Selanjutnya, tikus-tikus tersebut disuntik dengan larutan yang menyebabkan rasa sakit di kaki mereka, dan para peneliti menilai respons tikus-tikus tersebut dengan mengamati gerakannya.

Para ilmuwan menemukan bahwa hanya suara dengan volume rendah, yaitu 50 desibel — setara dengan bisikan — yang dapat mengurangi rasa sakit pada tikus, sementara musik dengan volume lebih tinggi justru membuat mereka lebih sensitif terhadap rasa sakit.

Temuan ini menunjukkan bahwa tingkat intensitas suara tertentu, bukan jenis suara, memiliki peran kunci dalam menghilangkan rasa sakit.

MENGUNGKAP KONEKSI SARAF

Untuk memahami sirkuit saraf yang bertanggung jawab atas efek suara yang meredakan rasa sakit, para peneliti melakukan penelusuran hubungan antar wilayah otak.

Mereka mengidentifikasi jalur dari korteks pendengaran, yang bertanggung jawab untuk pemrosesan suara, ke thalamus, stasiun pemancar sinyal sensorik, termasuk rasa sakit.

BACA JUGA: INTERNET TERNYATA BISA JADI OBAT DEPRESI, TAPI NGGAK UNTUK SEMUA ORANG

White noise dengan intensitas rendah ternyata dapat mengurangi aktivitas neuron di thalamus, menunjukkan bahwa jalur ini memainkan peran penting dalam pengurangan rasa sakit yang diamati pada tikus.

Para peneliti sekarang ingin memahami lebih lanjut mengapa suara dengan volume rendah dapat menciptakan efek pereda nyeri yang unik ini.

ADA KETERKAITAN MANAJEMEN NYERI MANUSIA

Temuan penelitian ini juga menyarankan bahwa kepada kita kalau suara dengan intensitas rendah mungkin juga memiliki efek analgesik pada manusia.

Namun, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengonfirmasi hal ini.  Nah bagi kamu yang mau mencoba, berikut beberapa tipsnya.

Pilihlah musik yang menenangkan dan menenangkan.

Gunakan jenis white music, Jenis suara ini bisa sangat efektif dalam menutupi rasa sakit dan membantumu rileks.

Cobalah binaural beats, jenis musik ini adalah efek suara yang dapat mempengaruhi tubuh dengan berbagai cara, termasuk mengurangi rasa sakit.

Nah itu dia, manfaat dari musik, ternyata bukan hanya penghilang penat disaat lagi Lelah tapi punya segudang manfaat yang nggak kita duga.

Sebelum, aku pamit boleh dong sharing, apanih genre musik favorit kamu? (*/)

  • whatsapp
  • twitter
  • facebook
  • remix
Penulis

Wahyu Tri Utami

Sometimes I write, most of the time I read