Music

MUSISI ASAL PAMULANG INI ‘KERETAAN KE KOTA-KOTA’ UNTUK BERBAGI CERITA

Berjalan ke timur, membawa pesan melalui album barunya Ubaidilah mengunjungi beberapa kota di Jawa Timur dan Yogyakarta. 

title

FROYONION.COM - Ubaidilah, seorang musisi berasal dari Pamulang, Tangerang Selatan, Banten memulai perjalanannya ke timur dengan tajuk Keretaan ke Kota-kota. Mulai dari Yogyakarta hingga ke beberapa kota di Jawa Timur yang berakhir di Gresik.

Mengusung genre pop alternatif, Ubaid telah merilis album berjudul Bising Dalam Kepala. Anak kandung pertamanya inilah yang menjadi materi utama dalam perjalanannya yang disebut Keretaan ke Kota-kota

Di dalam album Bising Dalam Kepala ini ada 7 nomor lagu meliputi Butuh Malam di Dadamu, KUA, Sesal, Astaka, Minyak Angin, Menua di Semester, serta Menadah Harap. Sayangnya, belum semua lagu dalam album pertamanya ini tersedia di platform pemutar musik digital. Hal tersebut terjadi karena masih ada kendala di bagian distributor bandnya yang lama.

BACA JUGA: 25 ISTILAH SKENA MUSIK YANG SERING MUNCUL DI TAHUN 2023

Penampilan Ubaidilah bersama kawan-kawannya. (Foto: Dok. @nauvalra_ di Instagram)
Penampilan Ubaidilah bersama kawan-kawannya. (Foto: Dok. @nauvalra_ di Instagram)

Memilih Keretaan ke Kota-kota untuk judul tur pertamanya ini karena memang Ubaid sepanjang perjalanan yang dimulai dari Jakarta ke Yogyakarta, dilanjut ke Surabaya, lalu Lamongan, dan yang terakhir di Gresik secara mayoritas Ia bersama kawan-kawannya menaiki kereta atau istilah trennya backpacker-an.

Dimulai dari Yogyakarta, tepatnya pada 7 Oktober di Wiratea Watugede menjadi titik pertama tur Keretaan ke Kota-kota, berkolaborasi dengan Jasmine Savitri musisi asal Yogyakarta. Melanjutkan perjalanannya ke timur, sampailah Ubaid di Surabaya untuk menggelar konsernya di Tadakopi berkolaborasi dengan musisi Surabaya yakni Musikawan pada 11 Oktober lalu. Bergeser ke Lamongan Ubaid bermain musik di Granit Coffee pada 14 Oktober, dan menutup tur pertamanya di Gresik, tepatnya di Hola Cafe pada 15 Oktober.

Penampilan Ubaidilah tampak dari belakang mengenakan merchandise miliknya sendiri dari salah satu lagunya. (Foto: Dok. @nauvalra_ di Instagram)
Penampilan Ubaidilah tampak dari belakang mengenakan merchandise miliknya sendiri dari salah satu lagunya. (Foto: Dok. @nauvalra_ di Instagram)

Penulis berjumpa dengan Ubaid usai manggung di Tadakopi, Surabaya. Dalam perjumpaan ini Ubaid menuturkan bahwa keinginannya menggelar tur ini dikarenakan dirinya sudah merasa terlalu aman dan nyaman di Pamulang.

Ubaid memilih Yogyakarta, Surabaya, Lamongan serta Gresik sebagai ruang eksplorasi dan kesempatannya untuk mengenalkan anak-anak kandungnya yang tergabung dalam album Bising Dalam Kepala.

Alasan lainnya ialah karena di ke empat kota inilah jaringan pertemanan Ubaid memang sudah terbentuk. Memang seorang musisi membutuhkan jejaring pertemanan yang suportif dan bisa membantu terselenggaranya pertunjukan musik sang musisi di setiap kota.

Ubaid ingin tur dengan tajuk Keretaan ke Kota-kota tidak berhenti di 4 kota tersebut saja, Ia ingin menggelar tur Keretaan ke Kota-kota volume 2 di tahun depan. Ia juga menambahkan bahwa selain tur volume 2, dirinya segera meluncurkan rilisan fisik berupa kaset pita.

Bukan tanpa alasan memilih untuk merilis album Bising Dalam Kepala dengan wujud kaset pita, menurutnya kaset pita jauh lebih asik dan klasik, selain ukurannya yang minimalis, kaset pita juga akan mengantarkan pemutarnya mengenang kembali ke masa kecil, masa awal mengenal musik layaknya yang dirasakan Ubaid kecil dulu.

Disaksikan kurang lebih 50 orang, penampilan Ubaid di Surabaya terasa sangat intim dan mesra, dipandu oleh duo MC Ateng dan Habib atau lebih dikenal dengan nama FTHRLSS

Keintiman inilah yang Ubaid tak sangka akan sangat diterima di kota pahlawan ini, meskipun Surabaya jauh lebih panas dibanding dengan Pamulang maupun Jakarta namun Ubaid sangat senang dapat bermain musik serta mengenalkan lagu-lagunya sampai di ibukota Jawa Timur ini, bahkan di tur Keretaan ke Kota-kota volume 2 nanti Surabaya akan menjadi salah satu kota yang harus dihampiri.

Lirik-lirik lagu di album Bising Dalam Kepala terasa sangat sederhana dan dekat dengannya, contohnya saja lagu Minyak Angin yang bercerita sekumpulan pemuda yang terjebak hujan di dalam kontrakan, gagal hang out dan hanya bisa membayangkan bagaimana nikmatnya di tengah guyuran hujan berada di dalam kos bersama pasangan pasti hangatnya seperti memakai minyak angin terlebih cuaca sangat mendukung. 

Ubaid juga menjelaskan bahwa lirik-lirik lagunya tidak ditulis sendiri tetapi dibantu oleh beberapa kawannya, berhubung Ia gemar bermain musik dan berkeinginan menjadi seorang musisi maka Ia garaplah tulisan-tulisan tersebut, cerita-cerita yang sesak di dalam kepala dapat tersalurkan melalui musik. (*/)

  • whatsapp
  • twitter
  • facebook
  • remix
Penulis

Imam Luqman

Mahasiswa Sastra Indonesia tingkat akhir di salah satu kampus negeri di Surabaya, anggota masyarakat urban di Surabaya dan aktif di kesenian teater dan film pendek