Movies

REVIEW FILM SEHIDUP SEMATI: SOROTI ISU PATRIARKI YANG KERAP KORBANKAN SOSOK ISTRI

Gambaran negatif dari patriarki disoroti secara mendalam pada film Sehidup Semati. Cocok dijadikan rujukan dalam permasalahan rumah tangga. Film ini akan tayang pada 23 Mei di Netflix.

title

FROYONION.COM - Film Sehidup Semati menjadi satu dari deretan film ternama yang populer di Netflix. Dibintangi oleh sejumlah aktor dan aktris ternama, seperti Laura Basuki, Ario Bayu, Asmara Abigail dan deretan pemeran lainnya, sukses menguras emosi penonton. Film Sehidup Semati mengusung konsep pernikahan yang bahagia antara Renata dan Edwin yang berubah menjadi mimpi buruk.

Kisah film ini ditulis langsung oleh Upi yang sekaligus berperan sebagai sutradara. Upi mengungkap bahwa naskah film Sehidup Semati telah ada selama 13 tahun, mengingat ia memulai proses penulisannya pada tahun 2010. Setelah belasan tahun menunggu, akhirnya karya tersebut diangkat menjadi sebuah film yang resmi tayang di bioskop mulai 11 Januari 2024.

13 tahun telah berlalu sejak Upi pertama kali menulis naskah film Sehidup Semati pada tahun 2010. Kesabaran Upi terbayar dengan hadirnya film tersebut di layar lebar, dimulai dari 11 Januari 2024. Alur yang sangat baik yang dibawakan oleh Upi tersampaikan secara rapi oleh para aktor dan aktris yang berperan. 

Upi berusaha mengisahkan perjalanan Renata, seorang perempuan yang sejak kecil telah terperangkap dalam dogma yang mengharuskannya patuh pada laki-laki. 

Meskipun dewasa, Renata terus menderita dalam kekerasan rumah tangga yang dilakukan oleh suaminya. Renata memilih bertahan dalam penderitaan, dan tidak memilih berpisah dalam ikatan pernikahan yang telah mereka ucapkan.

Renata, dipengaruhi oleh ibunya yang juga mengalami hal serupa, merasa bahwa bertahanlah satu-satunya jalan yang ada. Baginya, itu adalah bagian dari nasib seorang perempuan. Maka, meski menderita, Renata terus mengikuti jejak ibunya dalam menahan diri dan mempertahankan pernikahannya.

Namun, kehadiran Asmara, seorang tetangga apartemen yang percaya pada kebebasan dan pilihan, membuka mata Renata akan kemungkinan lain. Dengan dukungan Asmara, Renata mulai menyadari bahwa dia memiliki kekuatan untuk membuat pilihan yang lebih baik untuk dirinya sendiri, yang tidak harus selalu berkaitan dengan menurut pada dogma dan penderitaan.

KENTAL ISU PATRIARKI

Film Sehidup Semati secara nyata menghadirkan isu patriarki yang membenamkan pemikiran bahwa perempuan secara inheren berada di bawah laki-laki dalam hierarki sosial. Dimulai dengan adegan pembukaan yang menampilkan seorang pemuka agama laki-laki yang dengan tegas menyampaikan pandangan tersebut kepada jemaatnya.

Dalam adegan tersebut, tokoh pemuka agama yang diperankan oleh Lukman Sardi dengan lugas mengatakan bahwa penciptaan Hawa dari tulang rusuk Adam menandakan kedudukan yang lebih rendah bagi perempuan. Hal ini diperkuat dengan pernyataannya bahwa perempuan seharusnya menurut pada laki-laki, sesuai dengan apa yang diyakininya sebagai ajaran agama.

Pemuka agama ini bukan sekali atau dua kali saja menyuarakan pandangan patriarkisnya sepanjang film. Khotbah-khotbahnya yang terus-menerus menggambarkan perempuan sebagai makhluk yang harus tunduk pada laki-laki menjadi salah satu elemen penting yang memperkuat narasi patriarki dalam kisah ini.

Melalui karakter pemuka agama ini, film secara terang-terangan menyoroti bagaimana pemikiran patriarki masih sangat dominan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. Isu patriarki dipraktikkan sebagai sistem wajib yang mutlak harus dijalankan oleh perempuan yang berperan sebagai istri.

Sistem patriarki ini nampak jelas berkat akting yang luar biasa dari Laura Basuki yang membawakan karakter Renata dengan penuh penjiwaan, menjadi gambaran nyata dari seorang perempuan yang tumbuh dalam lingkungan yang menanamkan dogma bahwa kodrat seorang istri adalah mengabdi pada suami. 

Renata tidak hanya ditanamkan untuk percaya bahwa menjaga keutuhan rumah tangga adalah tugas utamanya, tetapi juga bahwa perceraian adalah sesuatu yang tak dapat dipertimbangkan.

Renata, bagaikan terjebak dalam jaringan nilai-nilai yang telah diwariskan kepadanya oleh keluarga dan masyarakatnya. Bahkan, ketika dirinya mengalami kekerasan dalam rumah tangga, Renata masih menahan diri untuk tidak bercerai dari suaminya, memenuhi ekspektasi yang ditanamkan padanya sejak kecil.

Pendekatan sutradara Upi terhadap karakter Renata memberikan sorotan mendalam tentang bagaimana budaya dan keyakinan yang dipelintir dapat menghasilkan wanita-wanita seperti Renata. Melalui Renata, Upi menyoroti betapa pentingnya untuk memerangi dogma dan penindasan terhadap perempuan, serta menekankan perlunya perubahan dalam cara pandang dan perlakuan terhadap gender dalam masyarakat.

SOLUSI SISTEM PATRIARKI

Sutradara Upi dalam film ini memberikan sebuah solusi yang konkrit atas masalah patriarki yang kerap terjadi. Bahwa seorang wanita yang terjebak dalam patriarki, harus dibantu dengan dukungan yang berasal dari sesamanya atau orang yang peduli atas isu patriarki perempuan. 

Dalam konteks ini, sistem dukungan yang efektif adalah yang mampu memberikan saran atau masukan yang memungkinkan perempuan untuk menghindari menjadi korban, baik itu kekerasan dalam rumah tangga, perselingkuhan, atau bentuk penindasan lainnya.

Dalam narasi film, karakter Asmara, yang diperankan dengan kuat oleh Asmara Abigail, berperan sebagai orang yang memberikan pandangan baru pada Renata ketika ia terperangkap dalam pernikahan yang toksik. 

Asmara tidak hanya menjadi pendengar yang baik, tetapi juga memberikan sudut pandang yang jelas pada Renata, menunjukkan bahwa kekerasan dalam rumah tangga tidak boleh dibenarkan dan bahwa ada opsi lain selain bertahan dalam hubungan yang merugikan.

Peran Asmara dalam film ini menyoroti pentingnya memiliki teman atau individu di sekitar kita yang dapat memberikan perspektif yang sehat dan mendukung. Melalui karakter Asmara, penonton diajak untuk memahami bahwa memiliki seseorang yang mendukung dan mengerti dapat menjadi kunci bagi perempuan yang mengalami situasi sulit untuk melihat jalan keluar yang lebih baik.

Dengan memberikan dukungan moral dan perspektif yang jelas, karakter Asmara membantu Renata untuk melihat bahwa ia memiliki pilihan untuk keluar dari situasi yang merugikan. Ini menegaskan bahwa support system yang baik dapat berperan penting dalam membantu perempuan untuk membebaskan diri dari siklus kekerasan dan penindasan.

Alur yang demikian menarik, membuat film ini menjadi salah satu film terfavorit di Netflix. Film ini mendapat tanggapan yang positif dari penonton sebagai ajang perlawanan atas kekerasan yang kerap dialami oleh perempuan dalam rumah tangga. Oleh karena itu, film ini bisa ditonton dan dijadikan rujukan dalam menghadapi permasalahan rumah tangga.

BACA JUGA:

REVIEW DUA HATI BIRU: MENJADI ORANGTUA ADALAH PEKERJAAN SEUMUR HIDUP

  • whatsapp
  • twitter
  • facebook
  • remix
Penulis

Muhammad Nur Faizi

Reporter LPM Metamorfosa dan menjadi Junior editor di Berita Sleman.