Figur

YOPPY PIETER: ”FOTOGRAFI BISA BERBAHAYA DAN BERMANFAAT”

Fotografi bagi sebagian orang adalah sumber kebenaran karena memotret sebuah fakta yang terjadi. Tapi fotografi juga punya bahayanya sendiri. Bareng ‘tukang cerita’ visual yang baru saja menangin penghargaan tingkal gobal ini, kita bakal bahas apa yang dimaksud dengan “bahaya” fotografi itu.

title

FROYONION.COM - Tahun ini fotografer Indonesia Yoppy Pieter menang di sebuah ajang fotografi tingkat dunia bernama Wellcome Photography Prize 2021. Ia berhasil menorehkan prestasi dengan mengangkat derita kaum transpuan di tengah berkecamuknya pandemi di tanah air. Yoppy dianggap berhasil mewakili suara kaum yang termarjinalkan dan kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah dan masyarakat ini.

Gue (disingkat A di wawancara di bawah ini) dari Froyonion berkesempatan ngobrol bareng Yoppy (disingkat YP) via WhatsApp dan berikut hasil wawancaranya buat kamu semua, Civs. 

A: “Bagaimana bisa masuk ke dalam dunia fotografi dan menjadi seorang visual storyteller seperti sekarang?”

YP: “Awalnya saya bekerja di majalah selama 7 tahun sebagai advertising coordinator. Berada di sana, sepertinya telah memberi pengaruh besar bagi saya untuk tertarik pada fotografi, mengingat setiap hari saya selalu bersinggungan dengan foto yang menjadi ilustrasi artikel. Persinggungan saya dengan fotografi memang hanya bermula sebagai penghobi, dan belajar secara otodidak melalui platform Flickr saat itu, hingga pada akhirnya saya belajar foto dokumenter di PannaFoto. Menginjak  usia 27 saya memutuskan untuk resign dan menempuh karier sebagai fotografer lepas (freelance photographer), hingga berjalannya waktu saya pun kerap terlibat dalam dunia pendidikan visual storytelling.” 

 A: “Apa keistimewaan fotografi dibandingkan media ekspresi lain seperti video, menulis, dan sebagainya?”

YP: “Fotografi bagi saya merupakan medium yang berbahaya mengingat ruang kerja kita hanya sebesar frame yang kita hasilkan. Sebagai masyarakat, kita kerap mempercayai bahwa fotografi adalah kebenaran absolut. Lalu apakah dia benar-benar sumber kebenaran? Bukankah kita sebagai fotografer kita telah mengeliminasi banyak informasi. Bagi saya, berfotografi membutuhkan usaha yang besar dalam berbagai aspek, baik itu dalam proses membuat karya hingga membaca karya itu sendiri. Pada akhirnya pengetahuan non-fotografi memiliki porsi yang besar untuk mendukung di semua aspek tersebut. Perlu kita ketahui bahwa fotografi lebih dari sekedar kita memakai kamera merek apa, dan sebagainya. Fotografi bisa berbahaya, dan bisa juga bermanfaat.”

A: “Membuat subjek merasa nyaman dan bersedia membuka diri adalah sebuah seni tersendiri. Bagaimana mas melakukannya? Pernahkah ditolak oleh subjek potensial?”

YP: “Seperti saya sampaikan di atas, bahwa fotografi memang menuntut pengetahuan non-fotografi. Dalam kasus ini, kemampuan komunikasi terhadap subyek adalah kunci, bahkan empati kita sebagai fotografer dan manusia berperan besar. Untuk mencapai level yang berempati, tentu kita sebagai fotografer telah melakukan serangkaian riset untuk menguatkan argumentasi dan pengetahuan kita tentang apa yang ingin kita ceritakan. Berbicara penolakan, bagi saya adalah bagian dari proses pengkaryaan, dan itu wajar. Maka dari itu diperlukan plan A,B,C-Z.”

A: “Bisa diceritakan karya ‘Trans Women: Between Colour and Voice’ ini lebih detail? Apa cerita yang ingin disampaikan melalui karya ini?”

YP: “Secara singkat proyek ini bercerita bagaimana pandemi memberi dampak serius ke salah satu komunitas rentan, yaitu transpuan. Walau kita tahu bahwa semua orang di muka bumi juga berdampak.

Namun dampak covid akan berbeda pada kelompok rentan yang jauh sebelum pandemi telah menghadapi serangkaian diskriminasi terkait identitas mereka. Jika kita telusuri lebih dalam, ternyata pandemi ini telah membuka informasi baru jika di dalam komunitas transpuan terdapat permasalahan kepemilikan KTP, ini adalah dampak dari diskriminasi yang tidak pernah terselesaikan sejak lama.”

A: “Mengapa tertarik pada isu transpuan?”

YP: “Mungkin bukan tentang transpuannya itu sendiri, saya cenderung tertarik dengan isu-isu terkait identitas yang terjadi di masyarakat.”

A: “Apa tantangan yang dihadapi dalam merampungkan karya bertema transpuan tersebut mengingat ini dilakukan dalam suasana pandemi?”

YP: “Tantangan saat mengerjakan ini adalah bagaimana saya sebagai fotografer tidak menularkan/tertular covid-19 ke setiap subjek yang saya temui, mengingat saya bertemu dengan individu yang memiliki keragaman usia dan kondisi kesehatan tertentu.”

A: “Dalam karya tadi, tampil dua sosok transpuan Mama Yuli dan Dona. Bagaimana mas bisa memilih keduanya sebagai subjek karya?” 

YP: “Latar belakang memilih mereka sebagai subyek adalah bahwa Mami Yuli merupakan sosok ketua waria di Indonesia, dan Mama Dona sebagai perwakilan transpuan lansia yang baru mendapatkan KTP di tahun ini saat usianya sudah tidak muda lagi.”

A: “Mas mengapresiasi keberanian mereka dalam menunjukkan kisah-kisah transpuan di Indonesia selama pandemi. Seperti apa keberanian yang dimaksudkan di sini?

YP: “Sebagai kelompok rentan seperti transpuan di mana diskriminasi dan stigma kerap ditemui dalam keseharian mereka, berani bersuara bukanlah hal yang mudah. Contoh sederhana saja, dalam setiap menggali interview yang saya lakukan, secara tidak langsung telah menggali memori-memori yang telah lama mereka kubur. Dan hal ini tentu perlu keberanian khusus untuk berbagi. Perlu kita tegaskan di sini, bukankah berani bersuara adalah privilege yang tidak bisa dimiliki banyak individu?”

A: “Untuk anak-anak muda yang tertarik menjadi fotografer, adakah pesan dan kiat untuk mereka agar bisa 'stand out'?”

YP: “Pelajari teknik fotografi dengan baik dan benar, perluas pengetahuan non-fotografi dengan membaca, dan belajarlah berempati terhadap sesama.” (*/)

BACA JUGA: ANGKAT PERJUANGAN TRANSPUAN, FOTOGRAFER INDONESIA SABET PENGHARGAAN INTERNASIONAL

  • whatsapp
  • twitter
  • facebook
  • remix
Penulis

Akhlis

Pimred Froyonion