Figur

TANDUK PUTIH: DIARY ‘LEBAY’ SEORANG KOMIKUS LAMONGAN

Pernah like konten viral komik yang pake lagunya Minnie Ripperton “Lovin’ You”? Simak obrolan bersama Afa, sosok komikus lokal di balik akun Instagram @tandukputih, soal seluk beluk dan perjuangannya sebagai pekerja kreatif.

title

FROYONION.COM - Tinggal di Lamongan Jatim, Muhammad Fajrul Falakh atau yang akrab dipanggil Afa ini nggak menyangka hal yang dia pelajari otodidak malah jadi mata pencahariannya pas udah dewasa. 

“Saya sendiri sudah sejak SD sering bikin komik dan menyebarkan komik karya sendiri ke temen-temen,” kenang pria lulusan jurusan ilmu komunikasi Universitas Muhammadiyah Solo itu soal awal dia mulai suka dunia komik.  

Saat ini Afa mengaku sibuk berkarya di rumah dan bekerja lepas sebagai seorang freelance designer dan illustrator. Bahkan Afa sudah pernah mengajar sebagai mentor di sekolahdesain.id. 

Meskipun secara langsung disiplin ilmu komunikasi yang ditekuni selama kuliah tidak 100% selaras dengan pekerjaan yang dilakoninya sekarang, Afa mengatakan dulu ada juga mata kuliah yang berkaitan dengan keterampilan yang dibutuhkannya sebagai komikus saat ini. Keterampilan itu desain grafis dan manajemen konten yang menurutnya cukup ‘masuk’.

BELAJAR DI KOMUNITAS

Afa belajar membuat komik secara otodidak, tanpa mentor atau guru. Kalaupun ada yang mengajari, itu temen-temen komunitasnya.

“Hubungan kami memang bukan mentor dan murid tapi kami maju bareng. Bahkan saya juga berkenalan dengan komikus dari komunitas-komunitas lainnya,” kata anak muda yang tersohor sebagai komikus di kampungnya ini.

StripJogja adalah komunitas komikus dari Yogyakarta yang menjadi tempat kelahiran komikus yang relatif dikenal warganet karena mereka ini kreator komik di media sosial yang akunnya sudah terverifikasi alias centang biru.

“Dulu sempat viral tapi karena kesibukan kuliah ya akhirnya. Begitu kuliah slow, saya liat Instagram makin ‘naik’. Tahun 2015 saya buat akun @tandukputih.” 

Karakter dalam komik “Tanduk Putih”, kata Afa, terinspirasi oleh kepribadiannya sendiri yang cenderung suka iseng pada temen-temennya dan usil.

“Kenapa ada tanduknya di situ? Karena saya ini kan orangnya usil, jadi tanduk ini untuk melambangkan keusilan itu. Haha,” kata pemuda jenaka ini.

Komunitas komikus lain yang ia kerap sambangi ialah Somikstrip, kumpulan komikus pendek di Solo. “Kami sering kumpul, berbagi ide, kasih feedback. Misalnya kalo kurang lucu, biar bisa lebih lucu harus diubah yang mananya,” tutur Afa.

Komunitas komikus ini berkembang pesat di platform Line. Mereka saling berbagi informasi soal tawaran pekerjaan dari brand-brand besar yang ingin memiliki konten digital jenis komik. Line dipilih karena kebetulan pertama kali kompetisi komik muncul adalah kompetisi Webtoon yang kerap diadakan Line. Platform ini juga memungkinkan untuk berbagi karya komik terbaru di grup. Sehingga bisa dikatakan Line lebih memudahkan para komikus bertukar portofolio dan berjejaring.

NONGKRONG SEBAGAI ‘BENSIN’ NGOMIK

Inspirasi yang ia ambil untuk tokoh Tanduk Putih ialah Tahi Lalats. Saat itu Tahi Lalats booming banget dan Afa ingin juga bikin yang mirip tapi dengan gayanya sendiri.

Di masa hibernasinya sebagai komikus amatiran ini, ia sempat belajar software. “Begitu masuk kuliah, aku gabungin ilmu software sama komik,” katanya. 

Semasa mahasiswa, Afa tetap berkarya dengan mengambil inspirasi dari kehidupan sekitarnya untuk membuat komik yang ia rilis di Facebook.

Dari mana sih ide-ide buat konten Tanduk Putih? Afa bilang blak-blakan kalau ide-ide komiknya itu datang dari pengalaman pribadi dan nongkrong. 

“Kalau lagi sendiri susah dapet ide. Tapi pas kumpul-kumpul tuh malah banyak dapet ide. Pas nongkrong kan biasanya ada joke-joke tuh. Pas temen lagi ngelawak, saya diem-diem catet di hp. Nanti bisa dieksekusi jadi komik.”

Tahu Afa punya akun komik di Instagram, temen-temennya pun liat juga karena penasaran. Ada yang suka dan ada yang mengejek. 

“Mereka kadang ngerasa kaget-kaget seneng gitu. ‘Looh loh ini kan candaan pas nongkrong kemaren,’ katanya.

Tapi karena ia merasa ide-ide komik itu juga bisa mengalir terus berkat teman-temannya, ia tak keberatan bila diejek sedikit. 

ALAT BUKAN MASALAH

Untuk berkarya sebagai seorang komikus, Afa memakai sebuah software yang sebetulnya nggak lumrah dipake para komikus kebanyakan. Kalau banyak komikus pake Photoshop tapi malah dia pake Corel yang banyak dipakai orang percetakan. “Karena saya familiarnya dari kecil ya software Corel ini.”

Karena preferensi software yang unik inilah ia sempat mengalami kesulitan saat dikontrak oleh sebuah penerbit yang mulanya memilih Photoshop untuk pengerjaan proyek mereka. Akhirnya pihak penerbitnya yang menyesuaikan diri dengan pilihan Afa. 

“Sebenernya bisa sih kalo pake buat desain dan sebagainya. Tapi buat ngomik dan bikin animasi, lebih familiar Corel karena ‘enteng’,” kata komikus itu jujur.

Beberapa software gambar menurutnya terasa ‘berat’ saat menggarap objek yang cukup detail. Kalau Corel, rasanya ringan karena basisnya vektor. 

TANPA DIALOG

Tema komik Tanduk Putih diambil dari kejadian-kejadian di sekitarnya yang sangat ‘relatable’ dengan masyarakat yang tak cuma tinggal di Lamongan tapi juga se-Indonesia. Bahkan sedunia.

“Saya sedang mulai mengurangi dialog bahasa Indonesia di karya saya ke depan. Kalau bisa malah buat yang tanpa dialog alias silent karena sejak reels saya viral di Instagram saya lihat followers itu banyak juga yang dari luar Indonesia, misalnya Thailand, Malaysia bahkan Amerika,” ujarnya mengungkap strategi kreasi komiknya saat ini.

Saat ditanya mengapa ia akhir-akhir ini memakai lagu Minnie Riperton “Lovin’ You” sebagai backsound bagi komik Tanduk Putih dan menjadi viral, ialah karena Afa pernah menemukan animasi di Facebook saat kuliah semester 1 di tahun 2012 yang cukup lucu dan membuatnya ngakak dan terngiang sampai sekarang. Sayangnya karena saat itu ia belum menguasai skills membuat komik, akhirnya ia pendam dulu. 

“Sudah sejak lama ingin mengeksekusi ide ini sehingga saat reels ini muncul saya pengen mengembalikan memori dulu saat liat animasi itu dan ngakak. ‘Relatable’ banget suaranya,” ungkap Afa.

KONSISTENSI DAN INTELLECTUAL PROPERTY

Afa sendiri baru saja dilirik oleh penerbit karena di Webtoon karyanya sudah dibaca 10 juta kali. Dari segi produksi, komik karya Afa dianggap hemat karena cuma hitam putih. Karyanya menjadi ilustrasi di buku dan dijual dalam bentuk cetak di toko-toko buku.

Mengetahui anaknya mulai naik daun di dunia komik, orang tua Afa tak merasa keberatan meski tentu saja mereka masih mendorongnya menjadi pegawai negeri sipil ( PNS).  “Tapi alhamdulillah gagal juga masuk (PNS -pen). Haha,” ia mengaku sambil tertawa lepas. 

Merebaknya fenomena demam NFT membuat Afa juga melirik peluang satu ini. Ia sudah menjalin kontrak dengan Toko Crypto.

“Saya sudah upload sebuah karya di Toko Mall. Saya jual sekitar Rp5 jutaan,” ujarnya.

Di tengah komunitas komikus sendiri sudah banyak yang merambah dunia NFT. Tiap komikus sudah memiliki tim khusus. Ia menyebut beberapa nama seperti Dani Pramata, Komik Faktap, Si Juki, dan sebagainya.

Afa lagi pengen fokus ke animasi karena kebetulan bidang ini sedang booming dan ia ingin membangun dan mendaftarkan IP (intellectual property) dulu.

Untuk komikus, telah tersedia program gratis KATAPEL MAYA dari Kemenparekraf/ Baparekraf yang tiap tahun mengadakan 2 batch untuk menampung para seniman yang ingin mendaftarkan IP mereka, bisa berupa komik, animasi, games, film, brand lokal, fashion, musik, seni pertunjukan, desain komunikasi visual, dan sebagainya. Dari sini kemudian para pendaftar akan diseleksi dan dibekali agar bisa mengembangkan IP mereka dengan lebih intensif.

Mereka yang dianggap lolos adalah yang bisa menjelaskan karakternya (jika yang dimasukkan sebagai IP adalah karakter) dengan jelas dan gamblang. Tidak ambigu dan terlalu umum.

Afa menyarankan bagi mereka yang ingin menekuni dunia komikus agar bisa terus berkarya secara konsisten. Semangat biasanya ada tapi harus terus membuat karya secara konsisten, jangan berhenti. Ia sendiri mulai dari 2015 dan baru menghasilkan baru-baru ini. 

“Konsistensi ini bisa diwujudkan dengan mengeluarkan karya seminggu sekali atau sebulan sekali. Yang penting nggak kosong terlalu lama,” pungkasnya. (*/)

BACA JUGA: PENGALAMAN PERDANA JUAL-BELI NFT: HAL-HAL YANG PERLU LO TAHU SEBAGAI KREATOR

  • whatsapp
  • twitter
  • facebook
  • remix
Penulis

Akhlis

Editor in-chief website yang lagi lo baca