Figur

MARISCA SURAHMAN: KERJA DI KORPORAT DAN INDUSTRI KREATIF SEKALIGUS ITU NGGAK MUSTAHIL

Menentukan karier emang nggak mudah. Pengen kerja di korporat, tapi takut jadi ‘budak’. Pengen di industri kreatif, tapi takut nggak pasti. Biar nggak bingung, di sini Marisca sebagai sutradara MV Tulus-Sewindu sekaligus mantan karyawan korporat, akan memberi wejangan buat kita.

title

FROYONION.COM - Sebagai anak muda, salah satu PR yang harus kita kerjakan setelah lulus sekolah adalah menentukan masa depan. Entah itu lulus SMA/SMK ataupun kuliah, nentuin mau kerja di mana dan jadi apa kayaknya jadi tugas terberat. Apalagi proses lamaran kerja yang seringkali menguras tenaga. Beuh, capeknya melebihi lari 10 putaran lapangan bola. 

Ditambah dengan berbagai pertimbangan yang berseliweran di kepala. Kalau daftar kerja ke korporat, gajinya biasanya lumayan, dapet tunjangan, asuransi, tapi budayanya nggak anak muda banget. Belum lagi kalau denger banyak rumor tentang kerja di korporat yang kayaknya kok, banyak red flags yah? 

Di sisi lain, ngelamar kerja ke startup atau industri kreatif Indonesia emang kelihatan lebih seru. Lingkungannya rame, banyak rekan kerja yang seumuran, bisa pake baju bebas, kantornya biasanya keren, pokoknya terlihat bahagia deh. Tapi omongan orang tua yang bilang kalau kerjanya nggak pasti, takut nggak dapet tunjangan, nggak ada masa depannya, dan sebagainya, juga bikin bimbang. 

Alhasil tersisa satu pertanyaan di kepala, “Gue kerja di mana ya? Gue jadi apaan ya?”

Tenang, pertanyaan itu dipikir sama semua fresh graduate kok. Froyonion bakal membagikan beberapa saran dari pengalaman Marisca Surahman, perempuan yang udah pernah menjalani dua dunia itu, korporat dan kreatif. 

BACA JUGA: MEMBONGKAR MITOS-MITOS YANG ADA DI INDUSTRI KREATIF

PERJALANAN KARIER YANG PENUH KEJUTAN

Marisca mengawali kariernya pada tahun 2015 di salah satu startup setelah lulus dari S1 Manajemen di Universitas Katolik Parahyangan, Bandung. Pada kesempatan inilah untuk pertama kalinya Marisca merasakan berkarier di Ibu Kota. 

“Selama dua tahuh aku nyoba kerja di Jakarta. Dari pengalaman itu aku belajar banyak hal, gimana rasanya terjun ke dunia profesional, dan bekerja di Ibu Kota. Setelah mencoba, ternyata aku ngerasa harus lebih banyak belajar dan punya bekal ilmu lebih tinggi. Jadinya aku pulang ke Bandung untuk melanjutkan pendidikan S2-ku,” cerita perempuan asal Bandung ini. 

Menempuh pendidikan magister di Institut Teknologi Bandung untuk mendalami bisnis, Marisca berkata bahwa dirinya memang suka belajar. Memiliki semangat belajar yang tinggi adalah salah satu value yang dapat membawanya hingga ke berbagai pengalaman lainnya. Selain itu, tidak takut mencoba hal baru juga salah satu prinsip yang selalu ia jalani. 

Potret Marisca saat lulus dari S2 dari Institut Teknologi Bandung. (Foto: Marisca Surahman)
Potret Marisca saat lulus dari S2 dari Institut Teknologi Bandung. (Foto: Marisca Surahman)

“Menurutku, karena hidup itu cuma sekali jadi cobalah banyak hal selagi itu positif. Dengan begitu kita nggak akan menyesali kesempatan dalam hidup,” pesannya. 

Dengan prinsip-prinsip ini juga, pada tahun 2011 Marisca mendirikan production house yang ia kelola bersama teman-temannya. Dinamakan Leftfield Leisure, projek-projek yang mereka garap memang dilakukan di waktu senggang aja. Awalnya karena hobi fotografi yang ternyata diwariskan oleh sang ayah, ketemu sama temen yang juga punya hobi serupa, dan akhirnya nyoba-nyoba untuk terima klien. 

Sosok Marisca saat menjadi sutradara di Leftfield Leisure, production house yang ia dirikan bersama rekan-rekannya. (Foto: Marisca Surahman)
Sosok Marisca saat menjadi sutradara di Leftfield Leisure, production house yang ia dirikan bersama rekan-rekannya. (Foto: Marisca Surahman)

Beberapa projek yang pernah ia garap adalah music video ‘Sewindu’ oleh Tulus, ‘Berawal Dari Tatap’, ‘Get Along with You’, dan ‘Buktikan’ oleh Yura Yunita, serta banyak company profiles dari berbagai perusahaan. Salah satunya adalah Bank BRI yang kemudian menjembatani Marisca untuk ke perjalanan karier berikutnya. 

“Waktu aku dapet klien dari Bank BRI, Project Manager-nya sempet nawarin untuk kerja di korporat. Kebetulan, aku juga sebenernya penasaran gimana sih rasanya gajian, rasanya dapet bonus, rasanya kerja di kantor yang budayanya emang korporat banget gitu. Akhirnya, aku coba ambil kesempatan itu dan jadilah aku berkarier selama 3 tahun di PT Asuransi BRI Life sebagai Corporate Communications,” cerita perempuan yang lagi hobi masak ini. 

BACA JUGA: APAKAH MASIH PERLU KULIAH FILM PADAHAL LO BISA BELAJAR HAL ITU DARI YOUTUBE?

ENAKAN JADI ‘BUDAK’ KORPORAT ATAU SUTRADARA?

Kalau di Leftfield Leisure, Marisca aktif sebagai sutradara di berbagai proyek mereka. Ia mengaku bahwa menjadi sutradara perempuan tidaklah mudah. 

“Jadi sutradara perempuan itu susah-susah gampang ya. Susahnya, kadang pendapat kita kurang didengar waktu di lapangan. Mungkin karena masih ada orang yang mikir kalau perempuan tahu apa sih soal hal-hal teknis di lapangan. Tapi keuntungannya, aku jadi bisa lebih deket sama klien dan talent, lebih bisa ngobrol dari hati ke hati dengan mereka, dan bisa mempermudah kerja sama juga,” tuturnya. 

Menjadi sutradara perempuan tidaklah mudah. Tapi kalau diikuti dengan mindset yang positif dan ketekunan, tidak akan ada yang mustahil. (Foto: Marisca Surahman)
Menjadi sutradara perempuan tidaklah mudah. Tapi kalau diikuti dengan mindset yang positif dan ketekunan, tidak akan ada yang mustahil. (Foto: Marisca Surahman)

Untuk menangani kendala tersebut, ngobrol dengan banyak orang adalah solusi yang Marisca lakukan. Dengan ngobrol, nanya pendapat, bertukar pikiran, serta pendapat, membuatnya jadi lebih mudah untuk memahami orang lain. Selain itu, ternyata kerja di korporat juga punya pengaruh baik bagi kariernya di industri kreatif Indonesia. 

“Sesungguhnya, walaupun kerja di korporat itu terkesan kaku, tapi aku bisa belajar banyak hal selama kerja di sana. Salah satunya adalah unggah-ungguh. Punya atasan yang jauh lebih tua, membuat aku nggak bisa sesantai itu dalam berkomunikasi. Pengalaman kayak dimarahi atasan, juga membuat aku belajar untuk memahami manusia dan berkompromi. Karena bisa aja dia juga lagi ada masalah,” ceritanya yang kini sudah fokus bekerja di industri kreatif. 

PESAN UNTUK LO YANG MASIH BINGUNG

Singkat aja, kerja di korporat dan industri kreatif Indonesia memang jauh berbeda dari segi budaya kerjanya. Kalau lo termasuk orang yang lebih suka di kantor, memperdalam satu ilmu, dan jadi expert di bidang itu, lo bisa coba kerja di korporat. Sebutan ‘budak’ korporat juga terkesan negatif, padahal jadi ‘budak’ korporat juga punya banyak manfaat. Seperti dapet tunjangan, bonus, fasilitas, dan lain sebagainya. 

Tapi kalau lo termasuk orang yang suka eksplor, pengen belajar banyak hal, mencoba kegiatan baru, dan senang berkarya setiap hari, lo bisa nyobain berkarier di industri kreatif. Stigma tentang industri kreatif yang ‘urakan’, nggak aman buat perempuan, dan nggak pasti, dipatahkan tuntas sama Marisca. 

Buktinya, sekarang Marisca memutuskan untuk fokus ke industri kreatif saja, bisa menjadi sutradara perempuan yang dikenal baik. I1a menunjukkan bahwa kalau kita bisa memberikan yang terbaik dalam semua hal yang kita lakukan maka sukses itu bukan angan-angan semata. 

Karena kalau kata Marisca: 

“Sesukses-suksesnya manusia, adalah mereka yang bermanfaat.”

Korporat atau industri kreatif, kalau mau pilih salah satu boleh. Tapi kalau mau menjalani keduanya, kenapa enggak? (*/) 

BACA JUGA: PANDEMI KELAR, TREN WORKCATION DI INDUSTRI KREATIF DIPREDIKSI BAKAL TERUS BERLANJUT

  • whatsapp
  • twitter
  • facebook
  • remix
Penulis

Grace Angel

Sehari-hari menulis dan mengajukan pertanyaan random ke orang-orang. Di akhir pekan sibuk menyelami seni tarik suara dan keliling Jakarta.