Seorang pegiat lingkungan yang punya mimpi mulia, namun ia mendapati cemoohan dari orang-orang dan keluarga. Dia berperan penting menjaga gerbang terakhir aliran sungai menuju laut Jawa. Apakah dia akan berhasil?
FROYONION.COM – Siapa nggak tau Sungai Cisadane? Orang Tangerang Selatan, Kota Tangerang dan Kabupaten Tangerang pasti tau Sungai Cisadane. Sungai dengan panjang 126 km melintasi sebanyak lima Kabupaten/Kota termasuk Kabupaten Bogor, Kota Bogor. Memang bukan yang terpanjang, tapi jadi salah sungai utama di provinsi Banten dan Jawa Barat.
Tapi sayang, Sungai Cisadane terkenal sama sampahnya yang banyak banget. Di bantaran sungai yang letaknya di Tangerang Selatan ada Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan kondisinya parah, bahkan mengunung. Belum lagi aroma busuknya yang menusuk hidung meski lo udah pakai masker.
Dan nggak jarang tiap kali turun hujan lebat, tumpukan sampah longsor ke sungai dan mengalir melintasi tiga wilayah Tangerang Raya. Padahal sungai Cisadane jadi gerbang terakhir aliran sungai menuju laut jawa. Miris ya Civs!
Dan gue berhasil nemuin nih, salah satu pegiat lingkungan, namanya Ade Yunus, biasanya dipanggil Kang Ade, soalnya dia dari bumi pasundan tepatnya Subang, Jawa barat. Kang Ade ini udah lama tinggal di Tangerang, dan profesinya sebagai aktivis lingkungan. Dia lulusan Universitas Muhamadiyah Jakarta jurusan Ilmu Politik. Dan dia punya mimpi yang mungkin sebagian orang nggak kepikiran.
“Mimpi saya ingin lalu lintas aliran air Sungai Cisadane bebas dari sampah dan limbah,” katanya.
Ia tahu betul Sungai Cisadane ini semakin hari makin memprihatinkan. Sampahnya makin banyak dan bermacam-macam. Nggak cuma sampah sisa aktivitas rumah tangga, tapi ada juga botol kaca, dedaunan dan ranting pohon sebesar ban mobil yang melintas. Nggak jarang juga, tiap hujan lebat, sungai meluap dan merendam bantaran sungai mencapai 3 sampai 4 meter.
Kang Ade bilang pekerjaan ini bukan pekerjaan yang mudah, kayak balikin telapak tangan, asik. Masalahnya yang dihadepin ini sampah. Yang semakin hari jumlahnya bakal terus bertambah dan bisa jadi masalah serius di masa yang akan datang.
“Karena pekerjaan kami bukan cuma untuk hari ini, tapi juga untuk masa mendatang dan generasi selanjutnya,” ujar Kang Ade.
Selain keinginnanya aliran Sungai Cisadane bersih dari sampah, Kang Ade juga punya cita-cita membangun kawasan tempat dia beraktivitas jadi lokasi ekowisata yang ramah lingkungan. Nantinya akan ada taman bermain sekaligus tempat edukasi buat masyarakat. Wah gimana nggak keren tuh Kang Ade.
Perjuangan Kang Ade ternyata nggak gampang Civs. Banyak rintangan yang dihadapi, seringkali cemoohan dia terima dari teman-teman bahkan dari keluarga sendiri.
“Lulusan S1 kok jadi tukang mungutin sampah,”
“Coba cari kerja yang jelas, masa dari sampah,”
Kata-kata itu sering ia terima, tapi dia benar-benar nggak menghiraukan malah jadi motivasi. Berkat keyakinannya, Kang Ade percaya “Memang rezekinya bukan dari sampah tapi melalui sampah saya mendapat rezeki lain,"
Nggak berselang lama tahun 2012, Kang Ade membangun sebuah komunitas. Komunitas ini dinamai Banksasuci kepanjangan dari Bank Sampah Sungai Cisadane. Lokasinya di lahan Gang Muara Buntu, RT 03 RW 01, Panunggangan Barat, Kecamatan Cibodas, Kota Tangerang.
Salah satu programnya adalah mengambil sampah dari aliran Sungai Cisadane dengan menggunakan perangkap apung atau waste trap. Alat ini membentuk sebuah jembatan yang dibentangkan selebar dari tepi ke tepi sungai.
Usahanya membuahkan hasil, dari perangkap sampah itu ia mendapati ribuan sampah plastik dan kayu. Sampah tersebut lalu diangkat ke permukaan, dikumpulkan dan dipisah. Misal sampah plastik kayak botol, kardus, kaleng, dan kayu dibedakan sesuai jenisnya.
Nah berkat perangkap yang dibuatnya, ternyata sampah yang terjebak jumlahnya banyak bangeet. Dalam sehari sampah yang terkumpul bisa sampai puluhan dan ratusan kilogram. Apa lagi kalo musim hujan biasanya sampah yang tersaring lebih banyak lagi.
“Dalam sebulan kita bisa kumpulin sekitar 30 ton sampah, itu cuma dari sungai Cisadane, itu baru di satu titik. Gimana sampah yang lolos melewati perangkap?” katanya.
Memang mimpi Kang Ade perlahan mulai terwujud namun masih sangat jauh buat aliran sungai bersih dari sampah. Tapi dia percaya dengan konsep ‘sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit’. Buktinya sudah bertahan hampir 10 tahun.
Aktivitas Kang Ade ini juga secara nggak langsung memberikan edukasi loh Civs ke masyarakat akan lingkungan dari pencemaran. Karena semakin ke sini, semakin banyak orang yang tidak peduli dengan lingkungan. Padahal itu baik buat diri kita sendiri.
Kang Ade bilang perjuangan ini masih panjang buat membersihkan Sungai Cisadane. Apalagi populasi manusia yang jumlahnya terus bertambah, dan itu ngaruh dengan bertambahnya sampah yang dihasilkan.
“Tantangan ini juga sangat berat. Tapi kita nggak nyerah gitu aja. Demi kebaikan bersama khususnya masyarakat Tangerang untuk selalu menjaga lingkungan. Minimal menjaga lingkungan sekitar,” ucapnya
Nggak sampai di situ, Banksasuci ternyata membuat sejumlah komunitas peduli sampah di sepanjang Sungai Cisadane loh. Mereka sama-sama memiliki kegiatan mengurangi sampah yang mengalir di sungai Cisadane.
Selain itu, Banksasuci juga udah punya cabang di daerah lain di Provinsi Banten. Tepatnya di wilayah Serang yang kini juga berdiri Banksasuci, kepanjangan dari Bank Sampah Sungai Ciujung.
Hasil kerja-kerja mereka sendiri masih diakui jauh dari kata sempurna. Tapi mereka berusaha maksimal untuk mengubah lingkungan menjadi lebih baik.
Dan lo tau nggak sih? sampah jadi masalah serius buat kelangsungan lingkungan. Terutama di muara sungai di laut utara Tangerang yang sekarang ada daratan pulau sampah. Munculnya Banksasuci bisa menjadi salah satu solusi mengurangi terus membesarnya pulau tersebut.
Gimana menurut lo Civs? perjuangan Kang Ade ini patut diacungi jempol kan? Dengan penuh keyakinan dia bisa mengubah lingkungan sekitar jadi lebih baik hehe. (*/Photo credit: Instagram @adeyunuskang)
BACA JUGA: INILAH JUMLAH JAM KERJA IDEAL UNTUK MERAWAT KESEHATAN MENTAL