Kesannya menari di atas penderitaan orang, tapi Kiky sebenernya berjualan peti mati demi kesehatan mental dan agar bisa menolong orang yang nggak mampu.
FROYONION.COM - Sebagaimana teman toksik yang bisa menguatkan mental lu dalam menjalani hidup, punya atasan yang toksik juga ternyata ada faedahnya.
Tau nggak sih? Kebanyakan orang yang bikin bisnis sendiri itu awalnya karena kerja dengan seorang manajer atau bos yang demotivating, nggak mau dengerin bawahan, nggak becus memimpin, demikian tulis Tomas Chamorro-Premuzic dalam artikelnya “How Bad Leadership Spurs Entrepreneurship” (Bagaimana Kepemimpinan yang Buruk Memacu Wirausaha) di situs Harvard Business Review.
Kiky Liushono (28) adalah salah satu di antara bawahan yang kesel sama bos semacam itu. Di tengah kondisi ekonomi Indonesia yang masih kayak benang kusut ini, pemuda asli Bangka ini nggak ragu buat resign dari kantornya saat bulan puasa 2021 lalu.
Meski udah nggak menyandang status pekerja formal di sebuah bank lagi, ia sudah ada strategi cari duit sendiri. Jadi setelah resign, ia justru merasa bebas.
Kini ia melakoni sejumlah pekerjaan untuk bisa membuat asap dapur rumahnya mengepul dan tetap bisa berinvestasi tentunya. Dengan mentalitas pedagang ala anak muda berdarah keturunan Tionghoa di Bangka, Kiky sekarang menyibukkan diri dengan membuka usaha warung makan dengan koki dari keluarganya sendiri.
Di samping menjadi agen reksadana berkat tren investasi yang akhir-akhir ini makin marak, Kiky juga melirik sebuah peluang bisnis ganjil: bisnis peti mati.
Diinterogasi kenapa ia pilih bisnis satu ini, Kiky menjawab dirinya terngiang dengan kalimat-kalimat seorang trainer asuransi saat masih bekerja di kantor dulu.
Orang itu nyerocos begini kira-kira: “Kalian itu masih enak kerja di bank. Kalian tau di Jakarta ada satu orang sales yang kalo kerja malah dimaki-maki dan kalian tau dia nawarin apa? Peti mati!”
Dari sanalah, Kiky yang rutin berlatih taichi bersama teman-temannya di Pangkalpinang itu terpicu untuk mengadu untung di bidang bisnis peti mati. Ia merasa terinspirasi dari situ.
Yang ia yakini dari kalimat si pelatih asuransi itu adalah meski si orang sales ini dibentak-bentak oleh calon pembeli tapi dagangannya tetep laku. “Bisa 10 peti mati laku dari 1 orang penjual,” kata Kiky.
Sebelum terjun penuh waktu di bisnis ini, ia masih bekerja kantoran sambil mengantongi banyak informasi dari para pelaku bisnis tersebut. Pelan-pelan ia merintis bisnisnya itu dengan survei pasar.
Dari ngobrol-ngobrol dengan orang-orang yang mengurusi pemakaman, ia tahu sebagian orang terutama yang berdarah Tionghoa memiliki tradisi untuk mempersiapkan lahan untuk makam mereka sendiri nanti dan juga tentu mempersiapkan peti mati yang akan digunakan.
Di bulan April 2020, ia mulai membuka bisnis peti matinya. Tiga bulan pertama merintis, Kiky harus menelan pil pahit. Nggak ada satu pun peti mati produknya yang dibeli orang.
“Ya udah aku minta tolong ke yayasan. Cari kenalan-kenalan yang tahu siapa pengurus gereja. Mulai perkenalan aja ke mereka ini. Slowly slowly, dari harganya yang dimiringin dikit, sekitar dua atau tiga bulan kemudian mulai ada hasil,” kenang Kiky yang di titik tersebut sudah hampir putus asa karena jumlah modal yang ia taruh di bisnis peti mati ini nggak bisa dikatakan sedikit buat dia. “Duit gua di situ semua!”
Konsumen terbaru produk Kiky ialah seorang pasien Covid-19. Ia dihubungi oleh kenalannya yang bekerja sebagai pemimpin ritual pemakaman jenazah setelah diminta bantuan oleh keluarga almarhum/ah suatu hari.
“Dia nyuruh aku anterin peti mati ke rumah sakit. Drop aja di depannya,” terang pemuda eksentrik ini.
Dalam lingkaran suku Khek di Bangka, pemimpin ritual yang disebut “sinsang” ini biasanya akan disewa jasanya untuk memimpin ritual pemakaman, diikuti dengan ritual 3, 7, 21, 49, 100 hari dan setahun pascakematian. Di kepercayaan Konghucu, harus ada juga tulisan nama di altar saat ritual nanti. Dan dia ini yang nantinya bisa menuliskan dengan aksara Mandarin yang tepat dan akurat. Nggak bisa sembarangan.
Kiky menawarkan peti-peti mati dengan sejumlah model ukiran, dari ukir-ukiran Delapan Dewa, (dewa-dewi dari mitologi Taoisme), naga, burung phoenix, serta sang Buddha.
Buat masyarakat keturunan Tionghoa, peti mati juga menjadi semacam simbol kemakmuran dari pihak keluarga yang sedang berduka. “Ya kalau keluarga ada uang masak sih tega belinya cuma peti mati termurah yang tipis banget kayunya dengan harga cuma sejutaan.”
BACA JUGA: YOHAN ANDREAN BAGIKAN TIPS SUKSES BANGUN BISNIS ‘ACCHA INDIAN SOUL FOOD’
Bergerak di bisnis yang nggak biasa seperti ini membuat Kiky jadi harus lebih jeli membaca perilaku masyarakat terutama yang berhubungan sama kematian.
Ia paham betul orang-orang keturunan Tionghoa yang jadi konsumennya bakal segan menawar harga produk peti mati yang sudah dipatoknya. Makanya ia nggak harus repot-repot ngelayanin konsumen jenis emak-emak yang suka nawar dagangan tukang sayur.
Dari pengalaman setahun ini, menurutnya kunci kesuksesan bisnis ini ialah stok barang.
“Ya peristiwa kematian ini kan kesempatan satu kali. Nggak akan bisa terulang lagi. Jadi kalau ada orang butuh, tapi aku nggak ada stok, nggak ada yang bisa dijual kan? Makanya aku harus berjuang gimana caranya supaya selalu ada stok peti mati. Jangan pernah sampai kosong.”
Untuk bisa terus memiliki stok, ia memiliki sebuah gudang milik sendiri. Kenapa nggak sewa gudang atau rumah aja? Ternyata nggak ada orang di sekitar rumahnya yang mau properti mereka dibuat nyimpen peti mati. Horor juga sih ya!
Kiky sendiri terpikir buat bikin showroom peti mati. Nggak worth the money sih buat buka showroom buat sekadar mamerin peti mati. Selain itu, pasti masyarakat yang liat jadi ngerasa cringe juga.
Kenapa nggak nawarin dagangan lewat katalog aja? Kiky juga terlintas menggunakan media foto via WhatsApp bahkan ia membuat akun Instagram khusus bernama @kehidupanke2 untuk nawarin peti matinya tapi orang-orang merasa nggak sreg cuma memilih dengan melihat foto.
Maunya mereka lihat langsung baru milih, komentar Kiky. Ini karena kebanyakan pembeli produknya adalah anggota keluarga almarhum/ah yang lebih memilih untuk melihat peti matinya secara langsung. Dan ada beberapa orang yang memang kadang mempersiapkan peti mati jauh-jauh hari sebelum orang tua atau dirinya sendiri meninggal dunia.
Niat Kiky untuk menjalani bisnis peti mati ini bukan alasan profit semata. Ia juga mengaku ada alasan lain.
“Aku milih kerja gini kan juga karena ada misi sosial juga,” ujarnya blak-blakan.
Kiky ternyata sudah mengontak banyak relasi dan kenalan yang ia akrabi sejak bekerja di kantornya dulu untuk memberitahukan bahwa jika mereka mendapati ada orang di sekitar mereka yang membutuhkan peti mati tetapi keuangan mereka jauh dari kata memadai, dirinya akan dengan sukarela mendonasikan peti mati jualannya untuk keluarga yang sedang berduka tersebut.
“Kalau butuh peti mati buat keluarga yang kayak kurang mampu, langsung telepon aku, nanti aku gratisin,” jelas Kiky.
Masyarakat Tionghoa Bangka yang menjadi lingkungan Kiky tumbuh sejak kecil memang meyakini bahwa menyumbang peti mati bagi keluarga yang membutuhkan dipandang sebagai suatu perbuatan yang mulia.
Meski bisnis peti matinya baru seumur jagung, ia sudah mengantongi beberapa nama donatur tetap dan lepas untuk sumbangan berupa peti mati bagi keluarga prasejahtera. Uang donatur itu akan Kiky belikan peti mati dari tokonya untuk kemudian diserahkan ke yayasan rumah duka setempat yang biasa mengurusi ritual pemakaman jenazah.
BACA JUGA: NGELANJUTIN BISNIS PAPA: BERKAH ATAU KUTUKAN?
Setelah menjalani bisnis peti mati dalam setahun terakhir, Kiky yakin banget prospek ke depan bisnis peti matinya ini bakal moncer.
“Aku mau full-time aja di sini, mengembangkan bisnisku sendiri,” ia membagikan rencananya mengenai ‘Kehidupan Kedua’, toko peti mati miliknya yang berlokasi di Jl. Minfo Beluluk, kota Pangkalpinang, Bangka ini.
Karena kerja untuk diri sendiri, Kiky juga kasih target untuk dirinya sendiri. Dan targetnya nggak muluk-muluk.
“Aku kan ada perhitungan juga. Asumsiku minimal sebulan bisa jual beberapa peti mati yang bisa menghasilkan pemasukan sejumlah gajiku dulu. Udah lumayan sih.”
Ia sendiri memiliki catatan target penjualan dan omset dan margin keuntungan. Ia menggunakan strategi subsidi silang karena ia menawarkan produk peti matinya dalam beberapa level harga.
Meski optimis, Kiky juga sadar sepenuhnya bahwa proyeksi atau ramalan pendapatan itu tergantung pada sejumlah faktor lain di luar dirinya, misalnya pilihan dan kondisi keuangan dari keluarga almarhum/ah.
Ia juga harus meminimalisir risiko rayap. Hewan satu ini bisa jadi sumber bencana besar. Pernah ia dihubungi seorang pembeli peti yang mengeluhkan petinya ada yang keropos dimakan rayap, lalu protes minta diskon.
Untuk mencegah kejadian serupa terulang, Kiky harus berinvestasi membeli cairan pembasmi rayap seharga puluhan ribu sebotol. Sepadan lah dengan pendapatan yang ia bisa kantongi, yang konon bisa melebihi gaji UMR DKI Jakarta. Wow! Lumayan bukan untuk sebuah ide bisnis yang se-edgy ini? (*/)
* edgy: tampil unik dan anti-mainstream