Pop

FENOMENA 'KOPLO WAVE' MEMBUAT DANGDUT KOPLO SEMAKIN EKSIS

Musik koplo dulu dicap miring, sekarang makin diterima masyarakat bahkan sama anak muda. Kok bisa ya? Begini alasannya.

title

Ada yang sadar nggak sih kalau lingkungan di sekitar kita itu sudah mulai bisa menerima musik dangdut koplo dengan baik? Atau mungkin dari kalian ada yang menjadi pelopor eksistensi dangdut koplo di tongkrongan dengan mengganti playlist musik-musik indie folk atau pop menjadi playlist musik-musik dangdut koplo?

Dangdut koplo yang selama ini dianggap sebagai sesuatu yang tidak gaul, ketinggalan zaman, bahkan dicap miring oleh beberapa orang beralih menjadi primadona baru dalam industri musik nasional. Kita bisa melihat ada begitu banyak tongkrongan, rumah makan, coffee shop, bahkan gigs musik yang semakin ramai menyuarakan musik-musik dangdut koplo. Ini yang agak bikin heran, kok bisa jadi gini ya, Civs? Ada apa sih sebenarnya?

MASYARAKAT BUTUH SESUATU YANG BARU

Pada dasarnya, musik dangdut merupakan salah satu komoditas dalam industri musik nasional yang tidak akan pernah bisa lepas dari kehidupan kita. Musik dangdut telah mendarah daging, mengakar dengan kuat, dan eksis di telinga kita untuk waktu yang sangat lama. Tahun demi tahun, perkembangannya semakin melesat dengan pencapaian yang luar biasa.

Hal ini tentu saja tidak  bisa lepas dari ekosistem industri itu sendiri yang begitu suportif dalam mempertahankan eksistensi musik dangdut. Terlebih lagi dengan adanya regenerasi penyanyi-penyanyi dangdut yang baik dengan hadirnya berbagai macam kompetisi dan ajang pencarian bakat.

Meskipun demikian, musik dangdut masih saja tidak bisa lepas dari stigma ‘musik orang tua’ atau ‘musik kalangan bawah’ yang terus digaungkan sampai hari ini. Namun, akhir-akhir ini situasi agak sedikit berubah. Stigma ini mulai bisa sedikit terminimalisir oleh hadirnya sub genre dari musik dangdut yang semakin eksis, yakni dangdut koplo.

Melansir dari buku Dangdut Stories: A Social and Musical History of Indonesia's Most Popular Music yang ditulis oleh Andrew N. Weintraub, dijelaskan bahwa dangdut koplo mulai meledak di khalayak luas pascareformasi. Istilah dangdut koplo sendiri mengacu pada karakteristik musiknya yang terletak pada tempo dan permainan gendangnya yang lebih dominan dibandingkan dengan instrumen yang lain.

Pada mulanya, sub genre ini hanya ada di Pulau Jawa saja, terutama di kawasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Namun, dewasa ini kita sudah bisa mendengarkannya di segala macam wilayah. Mulai dari Sabang sampai Merauke, masyarakat bergoyang bersama di bawah lantunan dangdut koplo.

Adapun membahas mengenai masifnya transformasi ini di era sekarang, gue akan mencoba membaginya melalui dua subjek utama yang begitu berpengaruh dalam dinamika yang ada. Pertama, ada musisi dangdut koplo yang eksis dengan alternatif baru, kemudian ada musisi dangdut koplo yang terus bertahan dengan tipikal paten musiknya.  

Meskipun sama-sama menggaungkan musik dangdut koplo, tetapi keduanya memiliki sedikit perbedaan. Dalam ranah alternatif, ada beberapa musisi yang merubah struktur musik yang mereka ciptakan tanpa membuang komponen atau esensi utama dari dangdut koplo. Hal ini dapat kita lihat dari Feel Koplo dan Prontaxan.

Baik itu Feel Koplo maupun Prontaxan, keduanya sama-sama mengemas musiknya dengan unsur modernisasi dan kontemporer. Musik-musik yang diciptakan atau dimixing ulang oleh Feel Koplo sayup-sayup terdengar seperti musik yang biasa kita dengar di bar, kelab malam, atau tempat hiburan malam lainnya. Hal ini sejalan dengan jawaban mereka dalam wawancara bersama HAI dalam pertanyaan mengenai apa sebenarnya mereka. “Kalo dideskripsikan, mungkin kami lebih suka disebut sebagai grup dangdut elektronik aja kali, yah?” Jawab Feel Koplo.

Sementara itu, musik-musik Prontaxan hadir dengan vibes yang lebih galak dan membelot dari dangdut koplo. Meskipun begitu, Prontaxan tidak serta merta meninggalkan esensi utama dari dangdut koplo itu sendiri, alias hanya sedikit meramu ulang musiknya dengan perpaduan bersama genre Funkot atau Funky Kota.

Kemudian, ada pula pelaku musik yang tetap dengan tipikal paten dari dangdut koplo seperti grup musik NDX A.K.A, Guyon Waton, Denny Caknan, dan Ndarboy Genk. Namun, mereka juga tetap menambahkan bumbu-bumbu agar musiknya dapat lebih relevan dan diterima oleh masyarakat luas. 

Elemen seperti lirik berbahasa jawa, lirik yang lebih relate dengan kehidupan kita sebagai manusia muda (patah hati misalnya), hingga pengemasan karya yang lebih menarik menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat. Instrumen musik dengan kombinasi voice over khas juga ditawarkan sebagai elemen yang tidak hanya membuat kepala naik turun, tetapi juga menggerakan tubuh.

Terlebih ketika berada di era pandemi seperti ini, kita cenderung mencari sesuatu yang baru, terutama dalam hal musik, film, dan produk penghilang bosan lainnya. Musik dangdut koplo dengan segala kebaruan dan alternatif yang ditawarkan menjadi jawaban bagi para manusia yang sudah suntuk dengan sesuatu yang ‘gitu-gitu aja’.

FENOMENA ‘KOPLO WAVE’

Sejalan dengan istilah ‘Korean Wave’ atau meningkatnya minat publik terhadap kesenian pop dan tradisional Korea di beberapa kawasan seperti Asia, Eropa, dan Amerika. Penggunaan istilah ‘Koplo Wave’ sepertinya cukup relevan mengingat antusias dan minat publik terhadap musik dangdut koplo semakin meningkat, meskipun hal ini belum meluas ke ranah global.

Muda-mudi lokal dapat menerima dengan baik bahkan tenggelam dalam fenomena ini. Batasan antara si muda dan si tua mulai hilang, kita dapat bersama-sama bergumul dan menikmatinya. Stigma-stigma buruk yang melekat lambat laun memudar dan berganti menjadi citra yang lebih positif.

Dangdut koplo sudah benar-benar menembus berbagai macam lapisan masyarakat secara menyeluruh. Gigs musik dengan guest star baik itu musisi maupun grup musik dangdut koplo dapat kita saksikan secara leluasa di mana-mana. Bahkan, tak jarang kita dapat melihat gigs lintar genre yang menampilkan musisi dangdut koplo yang berada satu panggung dengan musisi lain dengan genre yang berbeda.

Kemudian, tidak hanya warung makan Tegal atau acara hajatan saja, fenomena ‘Koplo Wave’ menyusur sampai ke tempat-tempat seperti kelab malam, pusat perbelanjaan, hingga pemutar musik di dalam transportasi online yang biasa kita tumpangi. Eksistensi musik dangdut, terutama dangdut koplo semakin tinggi. Muda-mudi sudah tak lagi malu untuk berjoget juga berdendang dalam gelora dan riuhnya musik dangdut koplo. (*/)

  • whatsapp
  • twitter
  • facebook
  • remix
Penulis

Haidar

Mahasiswa HI yang suka nulis, seni, musik, dan motor