Civs

BEGINI PERJALANAN GUE JADI FAN MELANCHOLIC BITCH, BAND ‘MITOS’ YANG JARANG MANGGUNG 

Di tahun ini, Melancholic Bitch sudah dan akan lebih banyak tampil untuk mengobati kerinduan dengan para pendengarnya dibandingkan rentang waktu dari 2013-2021. Beruntunglah gue bisa menyaksikan ketiga panggung dari Melbi.

title

FROYONION.COM - Gue mungkin terbilang telat dalam mengetahui Melancholic Bitch (Melbi). Sebab semenjak tulisan ini dibuat, belum genap empat bulan gue baru mengenalnya. Padahal band yang berasal dari Yogyakarta ini sudah eksis semenjak 1999 lalu, lebih tua dari umur gue saat ini. Tapi gue minta izin kepada para pembaca atau “si paling ngerti musik” agar jangan nge-bully karena telat mengetahuinya. Mending telat daripada tidak mengenal sama sekali, bukan? 

Nah, awal kali gue kenal sama Melancholic Bitch adalah sewaktu magang di iKonser. Waktu itu iKonser sedang ada proyek festival musik bernama Cherrypop. Festival itu menghadirkan band-band dari wilayah timur dan barat Indonesia, dan salah satunya adalah Melancholic Bitch.

Setelah kenal dengan nama Melbi, gue coba untuk mulai mendengarkan karya-karyanya. Dan gilanya, gue pun langsung jatuh cinta dengan berbagai karya dari band tersebut. Mulai dari lagu-lagu di album ‘NKKBS Bagian Pertama’ (2017) seperti “Bioskop dan Pisau Lipat”, “Selat Malaka”, “666,6”, dan merambat ke lagu-lagu dari album ‘Balada Joni & Susi’ (2009) dan ‘Anamnesis’ (2005). 

Tentu namanya juga udah jatuh cinta, akhirnya gue coba ulik seputar band tersebut. Gue pun cukup mendapatkan insight baru mengenai Melbi. Antara lain bahwa Ugoran Prasad sang vokalis yang menempuh pendidikan sampai program doktoral di Amerika, Yennu (gitaris) yang juga memiliki proyek bernama Raja Kirik, Danish Wisnu Nugraha (Dacong) yang juga merupakan drummer dari FSTVLST. 

Selain itu, ada fakta yang cukup populer bahwa eksistensi dari Melbi nyaris menjadi “mitos” di mata dan telinga para penikmatnya. Mitos di sini maksudnya bahwa band tersebut jarang sekali untuk menunjukkan dirinya ke permukaan. Gue pun cukup mengamini hal tersebut, lantaran memang faktanya, dalam setahun jadwal panggung Melbi bisa dihitung dengan jari. 

Gue coba buktikan panggung Melbi antara peringatan 100 Hari Gunawan Maryanto di Teater Garasi pada 23 Januari 2021 dengan acara di Liberates Creative Colony pada 13 Februari 2020, selisihnya lebih dari setahun bukan? Padahal band ini mempunyai lirik-lirik yang bermuatan intelektual, tajam, dan kompleks, ditambah dengan instrumen yang memanjakan telinga. Album ‘Balada Joni dan Susi’ saja mendapatkan penghargaan sebagai salah satu album terbaik 2009 versi Rolling Stone Indonesia. Dari situ tentunya Melbi juga memiliki penggemar yang cukup banyak dan militan dalam setiap pementasannya. 

Lalu kalo kita beralih ke 2022 ini,  Melancholic Bitch sudah dan akan lebih banyak tampil untuk mengobati kerinduan dengan para pendengarnya dibandingkan rentang waktu dari 2013-2021.  Dan beruntunglah, gue bisa menyaksikan ketiga panggung dari Melancholic Bitch. Berikut adalah cerita-cerita saat gue menyambangi panggung Melancholic Bitch. 

CHERRYPOP 2022

Seperti yang disinggung di awal tulisan, bahwa gue kali pertama mengenal Melancholic Bitch karena tempat magang gue sedang ada proyek Festival Cherrypop di Yogyakarta. 

Ceritanya kalo di festival ini ada movement berupa zine yang memuat latar belakang Cherrypop, band dan aktivasi yang ada di dalamnya. Kebetulan gue mendapat tugas untuk mewawancarai Teenage Death Star dan Silampukau melalui platform Google Meeting sebagai bahan tulisan zine. 

Lha singkatnya, saat gue menanyakan tentang kesan dari line up Cherrypop, Alvin Yunata (Teenage Death Star) dan Eki Tresnowening (Silampukau) menuturkan bahwa mereka ikut senang karena bisa satu panggung dengan Melancholic Bitch; sebuah band yang jarang sekali manggung. 

Pun saat hari-H Cherrypop ini kali pertama gue bisa menyaksikan perform dari Melancholic Bitch. Ceritanya, waktu itu posisi gue sebagai reporter tapi  gue hanya mendapatkan tugas untuk mewawancarai penggagas art exhibition; Arsita Pinandita, dan beberapa penontonnya. Selebihnya gue free. Pun waktu luang itu gue gunakan untuk menonton, dan berjoget ria tentunya. 

Melancholic Bitch sendiri tampil sebagai “gong” dalam Cherrypop. Gue menyaksikan sendiri bagaimana euforia dari penonton yang melepas kerinduan dengan Melancholic Bitch. Namun karena baru mengenalnya, gue sendiri tidak bisa ikut bernyanyi di semua song listnya. Saat jam 10 malam, Melancholic Bitch harus menyudahi aksi panggungnya, membuat penonton masih ingin melepaskan kerinduan itu sehingga Melbi memberikan bonus lagu yang rencananya akan dimasukan ke dalam album yang sedang digarapnya. 

Setelah acara selesai, gue pun menuju both tempat di mana signing session berada. Disitulah gue bersama penggemar lainnya meminta para personil Melbi untuk membubuhkan tanda tangan di poster yang gue bawa. Poster itulah yang kini menjadi salah satu hiasan dinding di kamar kontrakan. 

“SEWINDU MELEPAS RINDU” DARI PRAMBANAN JAZZ FESTIVAL 2022 

Setelah tampil di Cherrypop, hanya sela beberapa hari ada postingan dari akun instagram @melancholic_bitch yang menuliskan, “Eh, tanggal 1 Juli, kalian sibuk? Maaf mendadak” Melihat postingan itu banyak followers-nya yang kaget dan kebingungan. Memang, jika kita membaca postingannya di kala itu, seakan-akan kita sedang akan diajak nge-date oleh pasangan kita. Bikin deg-degan euy.

Lalu pada 29 Juni 2022, tiba-tiba Prambanan Jazz Festival (PJF) mengumumkan penambahan line up di hari pertama yakni Melancholic Bitch. Di tanggal 01 Juli itulah Melbi tampil di sore hari. Gue pun yang notabene mendapat tugas menjadi reporter dalam program iKonser Meliput PJF 2022 menyempatkan untuk menyaksikan dan bernyanyi di tengah para penonton Prambanan Jazz Festival yang waktu itu posisinya duduk di atas kursi.  

Terus terang, awalnya gue kurang begitu tertarik dengan line up Prambanan Jazz Festival, karena ada beberapa artis yang tidak terlalu gue ikuti atau kurang begitu menarik. Tapi untunglah, pihak promotor acara yakni Rajawali Indonesia menghadirkan Melancholic Bitch untuk mengisi panggung di hari pertama itu, sehingga  tema “Sewindu Melepas Rindu” dapat mengena bagi gue karena ada band yang bisa gue nikmati. 

Pun setelah selesai perform dari Melancholic Bitch itu, gue bersama salah seorang rekan reporter  dan wartawan lainnya bergegas menuju backstage untuk mewawancarai para personil Melbi. Di salah satu pertanyaan berupa kesan manggung di PJF 2022, Melbi menjawab ikut senang walaupun para penonton duduk. Pun kata Ugo, waktu dulu awal-awal Melbi meniti karier di belantika musik, para penontonnya juga menyaksikan dengan cara duduk. 

Melbi melalui Ugo juga menuturkan bahwa mereka sudah punya judul untuk album terbarunya, yakni ‘Hujan Orang Mati’. Gue juga berharap bahwa album itu sudah bisa gue, kita  maksudnya, nikmati di tahun 2022 ini. Semoga ya.

SEBUAH PUISI KONSER; 100 TAHUN CHAIRIL ANWAR DI YOGYAKARTA

Gramedia dan Penerbit Gramedia Pustaka Utama mengadakan acara yang bertajuk “Sebuah Puisi Konser” untuk memperingati 100 Tahun Chairil Anwar, penyair asal Medan yang juga merupakan pelopor angkatan 45 sekaligus puisi modern Indonesia. Ada tiga kota yang menjadi lokasi peringatan satu abad penyair kondang yang menciptakan puisi berjudul “Aku Binatang Jalang” ini, yakni Yogyakarta pada 14 Juli 2022, Bali pada 16 Juli 2022, dan Jakarta pada 23 Juli 2022, 

Jika Bali, pihak penyelenggara menggandeng Navicula dan di Jakarta mengajak Efek Rumah Kaca sebagai band yang mengisi panggungnya, di Yogyakarta mereka menghadirkan Melancholic Bitch sebagai satu-satunya band yang perform di acara tersebut. 

Gue pun senang karena bisa menyaksikan acara itu. Lantaran memang acara itu hanya bersyarat (HTM) untuk membeli buku “Aku Binatang Jalang” karya Chairil Anwar dengan harga yang dibandrol tidak lebih dari Rp.60.000. Sudah dapet buku, eh bisa nonton konser juga. Sungguh seperti peribahasa sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui, bukan? Hehehe. 

Dalam poster acara tersebut, pihak penyelenggara selain menghadirkan Melbi, juga ada public figure yakni Eka Kurniawan, Joko Pinurbo, dan Evawani Allissa (putri tunggal Chairil Anwar). Awalnya gue kira, acara itu berisikan cerita-cerita atau materi dari para tokoh-tokoh tersebut. Namun dugaan gue ternyata keliru, lantaran para public figures di atas cuma bercerita sekilas dan membacakan puisi dari Chairil Anwar, selebihnya adalah penampilan dari Melancholic Bitch. 

Secara konsep, awalnya para penonton disuruh untuk menyaksikan acara itu dengan duduk. Namun setelah pembacaan puisi yang juga diselingi dengan lagu-lagu Melbi, para penonton diperkenankan untuk berdiri sambil berjoget tipis-tipis dan bernyanyi. Di tengah aksi panggung Melbi, Ugo juga mengajak para penonton untuk membacakan puisi Chairil Anwar yang berjudul “HAMPA (Kepada Sri yang Selalu Sangsi).”

Ruangannya ber-AC, membuat gue dan mungkin penonton lainnya tidak berkeringat, padahal keringat sendiri adalah instrumen yang penting dalam sebuah konser, tapi hal itu tak jadi masalah. Setidaknya kami para penonton yang kurang lebih 200 ini disuguhkan dengan penampilan Melbi selama kurang-lebih satu jam dengan ruangan yang di samping kiri kanannya terdapat buku-buku. 

Pun setelah selesai, gue juga sempat menanyakan perihal kesan selama acara itu kepada dua teman yang gue ajak. Tanggapan mereka turut senang. Pun kata salah seorang teman, bahwa Ugo tidak hanya bernyanyi tapi memberikan aura khusus atas penampilannya. Gue pun cukup mengamini akan hal itu.  

Itulah cerita gue menyaksikan ketiga konser Melancholic Bitch di 2022 ini. Gue pribadi merasa bahwa menyaksikan secara langsung band yang eksistensinya nyaris menjadi mitos adalah suatu kebanggan tersendiri. (*/)  

  • whatsapp
  • twitter
  • facebook
  • remix
Penulis

Khoirul Atfifudin

Masih berkuliah di Universitas Mercu Buana, Yogyakarta. Saat ini sedang memiliki ketertarikan pada dunia musik dan tulis-menulis.