Tips

INI YANG HARUS KAMU LAKUKAN SAAT DIMINTA JADI NARASUMBER WAWANCARA UNTUK KONTEN ORANG LAIN

Permintaan wawancara untuk berita serius atau konten receh sekalipun tetap harus menaati beberapa aturan terkait keamanan dan privasi data. Salah-salah bisa kena rujak netizen!

title

FROYONION.COM Beberapa waktu lalu sempat viral unggahan TikTok dari seorang konten kreator yang isinya mewawancarai beberapa orang perempuan. Pertanyaannya sederhana: berapa idealnya gaji laki-laki yang mau dijadikan pasangan?

Seorang narasumber menjawab bahwa menurutnya, gaji ideal laki-laki ada di angka Rp10 hingga Rp15 juta. Jawabannya ini sontak memancing reaksi negatif netizen. Kolom komentar dipenuhi body shaming pada si narasumber yang menurut mereka berbadan gemuk sehingga wajar meminta jumlah sekian untuk biaya makannya.

Namun belakangan, terkuak kalau jawaban narasumber adalah settingan dari pihak konten kreator. Narasumber memberikan jawaban berbeda yang lebih realistis, akan tetapi konten kreator memintanya untuk mengganti jawaban sesuai keinginan mereka. Alhasil, narasumber yang jadi sasaran empuk hujatan netizen.

Hal ini terungkap dari thread viral di Twitter dengan lebih dari 3 juta penayangan. Teman narasumber menceritakan kronologi kejadian sebenarnya. Setelah viral, akhirnya pihak konten kreator menghapus video TikTok di akun mereka, namun belum diketahui apakah sudah ada permintaan maaf pada narasumber atau belum. 

Satu hal yang bisa dipelajari dari kasus ini adalah, bagaimana seharusnya sikap kita saat diminta untuk jadi narasumber wawancara sebuah konten? Baik itu konten berita serius atau konten receh lucu-lucuan sekalipun. 

Mungkin, saat diminta jadi narasumber, reaksi pertama kalian adalah senang karena dianggap penting dan menarik sampai bisa masuk akun media sosial orang lain. Terlebih jika yang mewawancarai adalah akun besar atau orang yang sudah punya nama. Tapi, kalian juga tetap wajib waspada dan memastikan beberapa hal berikut untuk menjamin kenyamanan dan keamanan saat dan sesudah wawancara.

BACA JUGA: 5 HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN AGAR LOLOS WAWANCARA KERJA

1. MINTA KONTAK PEWAWANCARA

Selalu ingat untuk minta kontak atau minimal nama dan tempat kerja dari si pewawancara sebagai bentuk pertanggungjawaban mereka atas hasil dan isi wawancaranya. Apa yang dimasukkan dalam konten itu adalah wajah dan kata-kata kalian, bahkan mungkin informasi yang bersifat pribadi dan sensitif seperti nama, usia, tempat tinggal bahkan gaji.

Pembuat konten harus bisa bertanggungjawab sepenuhnya karena sudah menggunakan semua data pribadi itu untuk kontennya. Salah satu cara dalam memastikan bahwa si pewawancara bisa bertanggungjawab adalah dengan memiliki kontak mereka agar dapat dengan mudah dihubungi jika hasil wawancara nantinya nggak sesuai kata-kata narasumber atau bahkan berdampak negatif pada si narasumber.  

Jangan ragu untuk menanyakan dari instansi mana si pewawancara ini berasal atau perusahaan mana yang ia wakili. Akan lebih bagus lagi jika pewawancara menunjukkan kartu nama sebagai bukti profesionalitasnya.

2. TANYAKAN TUJUAN KONTEN

Ini nggak kalah penting dari meminta kontak si pewawancara. Tanyakan juga kontennya mau dipakai buat apa? Akan diposting di mana? Goals apa yang ingin pewawancara capai dari konten itu?

Pastikan tujuan konten bukan untuk hal-hal negatif dan kata-kata kalian nantinya nggak akan dipelintir hanya demi mendukung ide-ide si pewawancara. Menanyakan tujuan konten juga merupakan hak narasumber dan pewawancara wajib untuk menjelaskannya. 

Kalau ternyata pihak yang mewawancarai kalian nggak bersedia menjelaskan tujuan konten itu untuk apa, sebaiknya tolak ajakan wawancaranya. 

BACA JUGA: TIPS MENGATASI GUGUP SAAT WAWANCARA KERJA

3. NARASUMBER BERHAK MENOLAK

Saat diminta untuk jadi narasumber, kalian berhak untuk menolak jika ternyata tujuan dari wawancara itu negatif atau simply kalau kalian memang nggak mau jadi narasumber. 

Kalian juga punya hak untuk nggak meneruskan wawancara jika pertanyaan yang diberikan membuat kalian merasa nggak nyaman, terlalu menjangkau ranah pribadi, triggering dan lain-lain. Bahkan, jika wawancara sudah selesai dan kalian berubah pikiran, kalian juga punya hak untuk membatalkannya.

Saatnya berhenti jadi orang nggak enakan. Kembali lagi bahwa isi wawancara bisa jadi mencakup informasi pribadi yang cukup sensitif dan bisa disalahgunakan jika nggak digunakan secara bijak. 

Ingat ini ya: jika kalian diminta jadi narasumber, artinya si pewawancara yang butuh kalian, bukan sebaliknya. Kalian punya hak untuk menolak, nggak melanjutkan atau bahkan membatalkan wawancaranya kalau memang nggak berkenan.

4. DILINDUNGI UNDANG-UNDANG

Hasil wawancara disebarluaskan tanpa izin, bahkan dibumbui narasi kebencian? Tenang, ada UU ITE Pasal 32 Ayat 1, 2, dan 3 yang dengan tegas melarang pemindahan data pribadi orang lain yang dilakukan tanpa hak dan juga tanpa izin.

Sementara untuk penyebaran foto serta video tanpa izin yang disertai informasi palsu maupun ujaran kebencian bisa dijerat UU ITE Pasal 28 Ayat 1 dan 2. Hukuman penjara maksimalnya bisa mencapai 10 tahun. 

Bahkan jika si pewawancara mustahil diseret ke meja hijau, hukuman netizen bisa lebih sadis lagi. Siap-siap ‘dirujak’ 7 hari 7 malam apalagi kalau kasusnya viral dan terbukti bersalah.

Itu dia beberapa hal yang wajib dilakukan apabila kalian diminta untuk jadi narasumber di konten orang lain. Mungkin memang agak ribet di awal, tapi demi kenyamanan bersama akan lebih baik jika kalian lebih berhati-hati.

Dari segi konten kreator yang hendak melakukan wawancara yang melibatkan partisipasi orang lain, selalu ingat untuk meminta consent pada narasumber, perkenalkan diri dengan baik dan pertanggungjawabkan sepenuhnya konten yang sudah dibuat. Apalagi jika kalian mewakili perusahaan atau media, jika salah langkah nama baik kantor bisa jadi taruhannya. (*/)

  • whatsapp
  • twitter
  • facebook
  • remix
Penulis

Wahyu Tri Utami

Sometimes I write, most of the time I read