Kemampuan mengelola kemarahan sebenarnya menjadi hal yang wajib dimiliki setiap manusia. Bila mampu mengelolanya, kita bisa marah secara tepat
FROYONION.COM – Marah menjadi salah satu perilaku alami manusia. Nah, saat marah, jangan sampai kemarahan yang mengendalikan diri kita. Tetapi, kita yang harus mampu mengelolanya. Bila kita tak mampu mengelolanya, kemarahan bisa mendatangkan berbagai masalah yang tak kita inginkan. Kita tentunya tak ingin kemarahan berujung menjadi seperti itu.
Salah satu penyebab kemarahan yaitu terkait perilaku orang lain. Terkadang, dalam kehidupan sehari-hari, ada perilaku orang lain yang membuat kita marah. Contohnya, umpamakan ada seorang teman kita datang ke rumah. Kita menyuguhkannya minuman teh. Karena kita baru saja membersihkan sofa, kita memintanya agar berhati-hati saat meminumnya. Terlebih, cangkir teh pun berukuran kecil sehingga rawan terlepas dari genggaman. Kita tak ingin air teh tumpah ke sofa. Namun, karena teman kita kurang berhati-hati, air kopi ini tumpah ke sofa. Kita lalu marah kepadanya.
Nah, dalam situasi ini, kita memang patut marah kepadanya. Kita sudah memberitahunya agar berhati-hati saat meminum nya. Namun, tak lantas kita marah secara berlebihan. Dengan kata lain, kita harus mampu mengelola kemarahan. Lalu, bagaimana agar kita bisa mengelola kemarahan? Beberapa tips untuk mengelola kemarahan.
Dalam buku berjudul The Interpersonal Communication karya Joseph A. Devito, kita disarankan mengambil sikap rileks saat muncul marah. Setelah merasa rileks, kita bisa mulai menyalurkan kemarahan. Dengan kata lain, kita harus menghindari marah secara spontan. Bila marah secara spontan, biasanya sulit mengendalikan kata-kata yang diucapkan. Umpamakan, kamu berada di dalam situasi yang saya ilustrasikan di awal tulisan. Karena marah secara spontan, tak tertutup kemungkinan, kamu akan melontarkan kata-kata kasar kepadanya. Misalnya, ”Dasar kamu to***l!, Gimana sih kamu itu? Saya kan sudah kasih tahu supaya hati-hati!-”
Nah, tak tertutup kemungkinan kata-kata kasar yang kita lontarkan mendatangkan masalah. Misalnya, memicu baku hantam dengan orang yang kita marahi atau merusak hubungan baik antara kita dengannya. Perlu diketahui, kita sebenarnya tak bisa menghapus kata-kata yang sudah kita ucapkan. Karenanya, bisa saja kata-kata kasar yang kita lontarkan akan berbekas dalam hatinya sehingga memunculkan rasa dendam dalam hatinya..Beda halnya bila kita merasa tenang. Dalam kondisi psikis yang tenang, kita akan lebih berhati-hati dalam mengucapkan kata-kata.
Masih bersumber dari buku yang sama, kita pun disarankan mempersiapkan sket hal-hal yang akan kita sampaikan setelah kita merasa rileks Apa yang kita tulis dalam sket akan disampaikan kepada orang yang membuat kita marah. Dengan membuat sket ini, kita bisa memilih diksi-diksi yang pantas untuk diucapkan. Dan juga, bisa menghindari adanya diksi-diksi yang kasar.
Umpamakan lagi, kamu berada dalam situasi yang saya ilustrasikan di awal cerita. Kamu kesal karena teman kamu itu kurang berhati-hati. Daripada langsung meresponnya dengan marah spontan, sebaiknya tenangkan diri terlebih dahulu. Setelah merasa tenang, kita dapat membuat sket. Misalnya, menulisnya di smartphone. Sket yang kita tulis misalnya seperti ini, “Saya kan udah bilang hati-hati saat minum. Tapi, saya melihat kamu kamu itu kurang hati-hati. Sekarang saya ingin kamu membersihkannya.”
Dalam dunia ilmu komunikasi, ada teknik komunikasi I-Message. Joseph A. Devito, dalam buku tersebut pun, menyarankan menggunakannya saat marah kepada orang lain. Dengan menggunakannya, mengurangi tekanan psikis yang dialami oleh orang yang membuat kita marah. Dengan berkurangnya tekanan psikis, menghindari emosinya terpancing. Cara menerapkannya, sesuai namanya, yaitu menggunakan kata “saya” atau memfokuskan pembicaraan kepada diri kita di awal kalimat. Kebalikan dari teknik I-Message yaitu You-Message. Dalam teknik You-Message, kita mengawali kalimat dengan kata kamu atau memfokuskan pembicaraan kepada orang yang kita tuju di awal kalimat.
Contoh penerapan teknik komunikasi I-Message, bisa kita lihat pada contoh sketsa pada tips kedua. Yaitu, “Saya kan udah bilang tadi, hati-hati saat minum. Tapi, saya melihat kamu itu kurang hati-hati tadi saat minum. Sekarang saya ingin kamu membersihkan sofa.” Nah, pernyataan tersebut lebih baik daripada pernyataan berikut, “Kamu itu hati-hati dong!. Kamu itu gimana sih? Kamu bersihkan sofa sekarang!”
Bila kedua pernyataan ini dibandingkan dalam hal kehalusan bahasa, pernyataan pertama ini lebih halus daripada pernyataan kedua. Sebabnya, menggunakan teknik komunikasi I-Message. Sedangkan pernyataan kedua, yang menggunakan teknik komunikasi You-Message, cenderung terkesan ofensif sehingga rawan memancing emosinya.
Setelah menyalurkan kemarahan, sebaiknya lekas meminta maaf kepadanya. Sebabnya, mungkin saja, perilaku kita ini menyakiti hatinya. Dengan kata lain, menyampaikan permintaan maaf sebenarnya menjadi bagian dari mengelola kemarahan. Nah, dengan menyampaikan permintaan maaf, akan menjaga hubungan baik antara kita dengannya. Ada baiknya juga permintaan maaf ini dilanjutkan dengan alasan kenapa kita marah. Contohnya, umpamakan lagi kamu berada di dalam situasi yang saya ilustrasikan di awal cerita. Contoh permintaan maaf misalnya, “Saya minta maaf bila perilaku saya ini. menyakitimu. Saya lelah membersihkan sofa ini. Namun, sofa ini menjadi kotor kembali.”
Itulah, beberapa tips mengelola kemarahan kepada orang lain. Dengan mengelolanya, maka marah yang kita lakukan akan menjadi hal yang berguna. Kita sudah melakukannya secara tepat. Sebaliknya, bila kita tak bisa mengelolanya, marah yang kita lakukan akan menjadi hal yang sia-sia. Selain akan mendatangkan masalah yang tak kita inginkan, marah pun akan membuang banyak energi kita. (*/)