Tekno

NFT PERMUDAH BAGIKAN DAN LACAK DATA KESEHATAN

NFT sejauh ini identik dengan artwork dan collectibles yang dihargai selangit. Tapi ternyata ada potensi bagi NFT untuk digunakan dalam bidang kesehatan. Seperti apa pemanfaatannya? Baca selengkapnya di sini, Civs.

title

FROYONION.COM - Selama ini di industri kreatif Indonesia, NFT blockchain technology dikenal sebagai alat berjualan karya seni digital dengan didukung oleh kontrak digital, Civs. Kita bisa lihat dari berita-berita soal NFT blockchain tutorial dan NFT blockchain koin bahwa nilai artwork dalam bentuk NFT bisa mencapai miliaran rupiah, seperti apa yang dialami oleh Ghozali yang menjual kompilasi swafoto (selfie) miliknya.

BACA JUGA: “MUNCUL DI PAPAN IKLAN, GHOZALI EVERYDAY GANTI NAMA?

Tapi dalam perkembangannya, ternyata nggak cuma soal artwork lho potensi penggunaan NFT itu. Pada kenyataannya NFT juga punya potensi penggunaan di bidang kesehatan. Wah, bagaimana cara adopsi NFT di sektor ini ya?

Secara sederhana, NFT yang diciptakan dengan teknologi blockchain ini memberikan kita sebuah metode baru dalam mengendalikan informasi kesehatan pribadi saat kita mesti memeriksakan diri ke dokter atau fasilitas medis saat berobat satu jatuh sakit, Civs.

Baru-baru ini sebuah tim penelitian lintas disiplin dari Baylor College of Medicine mengusulkan adopsi NFT dalam ranah kesehatan melalui jurnal Science.

Dikatakan bahwa NFT bisa membantu manusia yang sedang sakit untuk mengendalikan penggunaan dan akses informasi kesehatan pribadi mereka yang sangat berharga itu. 

Kontrak digital NFT bisa memberikan kita kemudahan dalam mengetahui dan melacak siapa saja yang mengakses informasi kesehatan pribadi dan mengetahui dengan pasti bagaimana informasi pribadi itu dibagikan.

BACA JUGA: “PENJUALAN NFT TURUN, TANDA BAKAL BERAKHIR?

Usulan penerapan NFT sebagai alat pelacak informasi kesehatan pribadi ini dilatarbelakangi oleh kondisi memprihatinkan saat ini yang membuat para pasien tidak tahu sama sekali bagaimana informasi kesehatan mereka dipakai dan disebarkan begitu sudah didigitalkan.

Ini penting sebab di era big data sekarang ini data kesehatan pribadi kita memiliki nilai, sehingga bisa diperjualbelikan, dikomersialisasikan dan dipertukarkan oleh pihak-pihak lain, terang Dr. Kristin Kostick-Quenet, peneliti utama dalam riset ini. Ia juga mengajar di Center for Medical Ethics and Health Policy di Baylor College of Medicine. 

"NFT bisa dipakai untuk mendemokratisasikan data kesehatan kita dan membantu para individu mendapatkan kembali kendali dan berpartisipasi lebih banyak dalam pembuatan keputusan-keputusan soal siapa dan pihak mana yang bisa melihat dan menggunakan informasi kesehatan kita,” terangnya panjang lebar.

Seperti data-data pribadi di media sosial, data kesehatan kita juga sesuatu yang harus dijaga ketat dan menjadi bagian privasi seseorang sehingga jika ada pihak manapun yang menggunakan, memperjualbelikan dan mengeruk keuntungan dari data pribadi kita tanpa sepengetahuan dan persetujuan dari kita sebagai pemilik, kita seharusnya bisa melacaknya dan menyeret ke ‘meja hijau’.

Hanya saja, adopsi dan penerapan NFT di bidang kesehatan ini tak semudah itu. Kita mesti pikirkan dengan masak bagaimana caranya menangani risiko dan dampak etis, hukum dan sosial yang bisa ditimbulkannya di kemudian hari.

Harus diakui bahwa NFT juga memiliki kelemahannya sendiri. Misalnya ada celah dalam NFT yang rawan tindakan pihak tak bertanggung jawab dalam hal keamanan data. Isu privasi juga harus dipikirkan masak-masak. Juga bakal ada potensi konflik hak kekayaan intelektual (HAKI).

Di AS, aturan pemerintah federal sudah memberikan izin bagi para pasien untuk menghubungkan aplikasi tertentu pilihan mereka sendiri ke rekaman kesehatan  elektronik milik dokter yang merawat dan mengunduh data itu ke format yang bisa diakses lewat komputer. (*/)

YANG TAK KALAH MENARIK: “IDE-IDE PENGGUNAAN NFT YANG BAKAL RELEVAN BUAT ORANG INDONESIA

  • whatsapp
  • twitter
  • facebook
  • remix
Penulis

Akhlis

Editor in-chief website yang lagi lo baca