Kenapa sekarang semua anak muda pengin jadi kreator konten, sih? Menurut kamu, kerjaan ini bisa nggak jadi profesi jangka panjang? Yuk kita cari tau bareng!
FROYONION.COM - Meningkatnya penggunaan media sosial di kalangan anak muda Indonesia bikin banyak bisnis mengalihkan media pemasaran melalui media sosial. Fenomena ini memunculkan sebuah pekerjaan baru yang biasa kita denger sebagai influencer, KOL (Key Opinion Leader), atau kreator konten.
Ngomongin soal kreator konten, pikiranku akan memunculkan satu nama yang mungkin cukup familiar buat kamu yang sering cari knowledge tentang copywriting di Instagram, Siauw Andreas atau biasa dipanggil followers-nya dengan panggilan Koh Siauw.
Siauw Andreas adalah seorang copywriter yang aktif membagikan ilmu tentang copywriting melalui Instagram dan beberapa media sosial lainnya. Aku berkesempatan untuk ngobrol bagaimana pandangan Koh Siauw tentang dunia content creation. Kurang lebih seperti ini hasil obrolanku sama Koh Siauw.
Di tahun 2019 Siauw Andreas sudah mulai jualan online memanfaatkan broadcast atau dalam kamus Koh Siauw menyebutnya sebagai “spamming” ke list kontak yang ia punya saat itu. Menggunakan strategi sederhana ini Koh Siauw berhasil mencapai omset penjualan hingga 500 juta-an.
“Dulu aku ngerasa jualan online itu gampang, ditambah aku diajak mentorku yang berpengalaman di dunia MLM untuk kerja sama dan jualan produk sendiri,” cerita Koh Siauw saat memutuskan untuk keluar dari perusahaan sebelumnya dan memulai bisnisnya sendiri.
Namun, petualangan ini kurang membuahkan hasil, padahal Koh Siauw sudah melakukan hal yang sama persis dengan yang ia lakukan di perusahaan sebelumnya. Akhirnya Koh Siauw melakukan hal yang “gila”, ia coba reach out semua expert yang aktif di Instagram membahas tentang digital marketing agar bisa connect dan belajar dari mereka.
Usahanya akhirnya membuahkan hasil, salah satu expert di digital marketing, Niko Julius membalas DM-nya dan long story short Koh Siauw bergabung sebagai Community Manager di Kelas Instagram Organik milik Niko Julius.
Di sinilah perjalanan Koh Siauw sebagai kreator konten dimulai, berawal dari kegelisahan Koh Siauw yang merasa sungkan jika seorang Community Manager di perusahaan yang mengajarkan tentang mengembangkan Instagram tapi ia sendiri tidak menerapkan hal itu.
BACA JUGA: BEGINI CARA JADI KREATOR KONTEN KAYAK DILAN CEPMEK
Pertanyaan berikutnya yang aku tanyakan adalah jika ada yang baru memulai masuk ke dunia kreator konten, apakah masih ada kesempatan buat mereka?
“Masih sangat potensial, asalkan harus punya pembeda,” jawab Koh Siauw.
Ia juga menambahkan, berbeda ini maksudnya bisa dengan mengambil micro niche, misalnya jika saat ini sudah banyak kreator yang membahas soal digital marketing sebaiknya kita mengambil turunan dari sana yang lebih spesifik seperti copywriting bahkan fokus ke storytelling saja.
“Selain pemilihan niche yang berbeda, cara mengemas konten juga bisa jadi faktor pembeda buat kita yang baru terjun ke dunia kreator konten,” tambah Koh Siauw.
Pertanyaan yang paling penting adalah apakah profesi kreator konten ini memang menguntungkan dan bisa kita jadikan sebagai penghasilan jangka panjang? Koh Siauw memberikan sebuah jawaban yang sangat menarik.
Menurut Koh Siauw, kreator konten itu bisa menjadi profesi jangka panjang kalau konten kita bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut:
BACA JUGA: 3 POIN PENTING DALAM MENENTUKAN KOL (KEY OPINION LEADER) DALAM INDUSTRI KREATIF
Kesempatan masuk, check.
Peluang menghasilkan, check.
Selanjutnya, kita akan cari tau sebenernya dari mana kreator konten bisa dapet cuan. Percuma dong kita tau ada kesempatan dan ada peluang menghasilkan tapi kita nggak ngerti gimana sebenernya kreator konten untuk menghasilkan cuan. Iya nggak, Civs?
Tapi sebelum bahas itu, kita perlu sepaham dengan ini. Agar pembahasan kita jadi lebih mudah, aku akan menggolongkan 2 tipe kreator konten secara sederhana.
Walaupun secara realita ada banyak sekali kreator konten yang menghibur sekaligus mengedukasi, penggolongan ini aku buat agar kita mudah membedakan cara cari cuan dari masing-masing kreator.
Menurut Koh Siauw cara monetisasi tiap kreator bisa cukup berbeda tergantung dari 2 tipe di atas:
Rasa penasaranku berikutnya membawaku ke sebuah pertanyaan soal lebih mudah yang mana? Maklum lah ya, aku kan pasti pengin sesuatu yang lebih gampang dan cepat hahaha.
“Kalau dilihat secara angka, mungkin kreator dengan tipe entertainer terlihat lebih “wow” namun, menurut pengamatan saya, kreator dengan niche entertaint biasanya lebih susah untuk monetisasi,” jawab Koh Siauw.
“Tapi, tipe educator juga tidak menjamin akan lebih mudah monetisasinya, karena akhirnya semua balik lagi ke market seperti apa yang kita punya dan offer apa yang kita tawarkan ke market itu,” tambah Koh Siauw.
Pada akhirnya monetisasi bisa kita lakukan kalau kita bisa menjadi solusi untuk masalah-masalah yang dihadapi audience kita, entah solusi secara emosional seperti menghibur hati yang gundah atau solusi yang menambah skill seperti ilmu copywriting, atau content writing.
Jadi gimana, Civs? Setelah baca ini jadi makin tertarik untuk jadi kreator konten?
Merangkum dari jawaban-jawaban Koh Siauw, sebenarnya semua profesi itu akan bisa bertahan lama dan jadi profesi jangka panjang asalkan apa yang dikerjakan tetap dibutuhkan oleh masyarakat yang mau mengeluarkan uang untuk itu. Kalo menurut kamu gimana, Civs?
Sedikit reminder, semua profesi membutuhkan proses untuk mempelajarinya. Semudah apapun tampilannya dari luar, kreator konten tetap membutuhkan pengorbanan waktu, tenaga, pikiran dan kemampuan menjalin koneksi yang baik agar bisa kita jadikan profesi jangka panjang.
So, jangan cepat menyerah ketika things get harder. SEMANGAT, Civs! (*/)