
Karim Benzema dikabarkan bakal menyusul Cristiano Ronaldo bermain di Liga Arab Saudi bersama Al Ittihad Jeddah. Apa yang membuat para pemain bintang dunia ini mau datang dan bermain di Liga Arab Saudi?
FROYONION.com - Pemain Real Madrid asal Prancis, Karim Benzema dikabarkan bakal menyusul jejak mega bintang Cristiano Ronaldo untuk bermain di Liga Arab Saudi.
Karim Benzema sendiri dilepas oleh klubnya, Real Madrid setelah 14 tahun ‘berbakti’ bersama klub berjuluk Los Galanticos tersebut meskipun kontrak beliau sendiri menyisakan satu tahun lagi. Selama memperkuat klub asal Madrid tersebut berhasil mencetak 353 gol dalam 647 laga berseragam Real Madrid.
Setelah resmi dilepas Real Madrid, Wak Haji dikabarkan diminati oleh klub Juara Liga Arab Saudi musim ini, Al Ittihad Jeddah.
Al Ittihad sendiri adalah klub sepak bola asal Jeddah, Arab Saudi yang berhasil meraih gelar Liga Arab Saudi musim ini sekaligus memutus dominasi klub asal ibukota Riyadh, Al Hilal selama tiga musim terakhir. Terakhir, klub berjuluk Al-Numoor ini meraih gelar juara liga pada musim 2006-2007.
Tawaran menggiurkan juga sedang disiapkan oleh klub dari Arab Saudi lainnya, Al Hilal untuk mendatangkan mega bintang asal Argentina, Lionel Messi.
Kalau memang benar adanya seperti itu, ini bisa menjadi rangkaian kedatangan para pemain bintang kelas dunia ke ekosistem sepak bola Arab Saudi di masa yang akan datang.
Ada satu pertanyaan bagi pecinta sepak bola sejagat bumi, mengapa para mega bintang ini mau bermain di Liga Arab Saudi menjelang masa-masa pensiun mereka. Mari kita bahas.
Ada beberapa faktor utama para pemain kelas dunia mau hijrah ke Arab Saudi. Salah satunya adalah faktor finansial. Gaji besar yang diberikan memang harus diakui menjadi faktor utama para pemain kelas dunia memilih hijrah untuk bermain di Arab Saudi.
Perlu diketahui, mulai musim depan klub sepak bola di Arab Saudi sudah mulai diprivatisasi. Tujuan privatisasi klub sepak bola di Arab Saudi untuk dapat menarik investasi ke dunia olahraga Arab Saudi khususnya sepak bola sesuai dengan amanat Saudi Vision 2030 yang digagas oleh putra Mahkota Arab Saudi, Mohammad bin Salman.
Dalam masa privatisasi awal, 4 klub besar Arab Saudi yang bermain di Pro League musim depan seperti Al Hilal, Al Nassr (Riyadh), Al Ittihad dan Al Ahli (Jeddah) telah resmi diakuisisi oleh Public Investment Fund, sebuah lembaga yang dibentuk oleh Kerajaan Arab Saudi untuk menginvestasikan dana atas perantaraan pemerintahan Arab Saudi.
Nantinya, PIF akan mengakuisisi kepemilikan empat klub besar Arab Saudi tersebut sebesar 75% dan 25% share sisanya akan dimiliki oleh yayasan klub masing-masing.
Selain mengakuisisi empat klub besar Arab Saudi, PIF juga berperan sebagai pemilik mayoritas klub Liga Premier Inggris, Newcastle United.
Selain PIF, beberapa perusahaan besar Arab Saudi seperti Saudi Aramco dan Neom juga mengakuisisi klub-klub yang bermain di divisi di bawah Pro League.
Dengan adanya privatisasi ini, pihak Public Investment Fund sendiri sudah menyiapkan dana untuk membiayai projek ini, seperti untuk mendatangkan pemain bintang kelas dunia, mereka sudah menyiapkan dana sebesar 1 miliar dollar AS untuk mewujudkan proyek tersebut.
Untuk perbandingannya, beberapa klub yang bermain di liga top Eropa bahkan valuasi klubnya tidak jauh dari angka tersebut.
Selain faktor gaji, faktor pajak juga mempengaruhi apakah pemain mega bintang dunia ini mau datang ke Arab Saudi.
Pada dasarnya, pajak penghasilan tidak berlaku di Arab Saudi. Maknanya, penghasilan bersih yang bisa didapat oleh sang pemain ada di angka yang besar.
Namun di sana terdapat pajak yang flat sebesar 20% untuk setiap orang yang tinggal di Arab Saudi.
Jika kita bandingkan dengan di Eropa, angka ini lebih kecil. Di Eropa sendiri, pajak bisa mencapai angka 40% sampai 60%.
Cuaca di daerah Timur Tengah, khususnya Arab Saudi mungkin tidak seenak cuaca di daerah khatulistiwa seperti Indonesia, tetapi cuaca hangat/panas dapat dirasakan sepanjang tahun di Arab Saudi.
Tidak seperti di Eropa yang memiliki cuaca dingin. Meski merasakan hangat/panas sepanjang tahun, dengan gaji besar tentu bisa tetap hidup lebih nyaman dengan fasilitas rumah dan lainnya.
Jarak penerbangan dari Eropa atau Amerika Selatan ke Arab Saudi dengan tujuan ibukota Riyadh atau Jeddah jauh lebih dekat dengan rataan 12.000 hingga 18.000 kilometer ketimbang jarak penerbangan ke Tiongkok yang lebih jauh dengan rataan 20.000 kilometer.
Ini tentu menjadi salah satu faktor pertimbangan pemain mega bintang mau hijrah bermain di Arab Saudi. Takutnya, kalau ada apa-apa tidak begitu jauh penerbangannya.
Saat ini, Liga Arab Saudi merupakan salah satu liga terbaik di benua Asia. Hal ini terbukti dengan prestasi wakil-wakilnya di Liga Champions Asia.
Faktor tersebut bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi para pemain bintang dari liga top Eropa untuk datang ke Arab Saudi.
Selain itu, gairah fans di Arab Saudi yang termasuk cukup meriah. Perlu diakui, atmosfer fans sepak bola Arab Saudi termasuk yang terbaik di Asia selain Jepang dan Indonesia.
Jika kita lihat ke belakang, apakah upaya Arab Saudi ini bakal amblas seperti Tiongkok?
Mendatangkan pemain bintang dari liga top Eropa untuk menaikkan valuasi sepak bola di sebuah negara, khususnya Asia sebenarnya sudah pernah dilakukan oleh Tiongkok.
Sayangnya, aturan salary cap kepada klub peserta Liga Tiongkok oleh federasi sepak bola Tiongkok dan banyak perusahaan di Tiongkok yang gulung tikar akibat pandemi COVID-19 dan krisis ekonomi mengakibatkan pengembangan sepak bola di Tiongkok tidak sustainable dan menyebabkan turunnya peringkat liga yang juga mempengaruhi alokasi pembagian klub yang bermain di Liga Champions Asia.
Tentu, Arab Saudi sudah banyak belajar dari kejadian yang terjadi di Tiongkok. Menurut tulisan Tariq Panja di The New YorkTimes, Arab Saudi menggunakan model yang diterapkan oleh Major League Soccer di Amerika Serikat untuk pengembangan sepak bola dan membangun profil global dari MLS itu sendiri.
Bisa kita lihat sekarang jika MLS jauh lebih bisa bertahan lama (sustainable) daripada CSL. Selain itu, faktor privatisasi yang terus didorong oleh putra mahkota, Mohammad bin Salman akan mendorong investasi di dunia olahraga Arab Saudi, khususnya sepak bola sesuai dengan Saudi Vision 2030 yang sering digaungkan.
Dengan privatisasi ini juga menjadi langkah awal arus kedatangan pemain bintang dari liga top Eropa untuk bermain di Liga Arab Saudi dan sesuai dengan visi misi pemerintah Arab Saudi yang ingin menjadikan Liga Arab Saudi menjadi salah satu liga sepak bola terbaik di dunia. (*/)