Sports

JANGAN BULLY TIMNAS SEPAKBOLA PUTRI INDONESIA!

Kekalahan yang menimpa timnas sepakbola putri Indonesia emang nggak sepantasnya dijadiin bahan olokan. Terlebih, ada banyak faktor yang mengakibatkan kekalahan ini. Toh, kekalahan adalah kemenangan yang tertunda, kan?

title

FROYONION.COM - Tim nasional sepakbola putri Indonesia baru saja mencetak "rekor baru" di Piala Asia Perempuan 2022 yang berlangsung di India, 21 Januari kemarin. Sudah disangka sebelumnya, saat menghadapi tim terbaik di dunia, Australia, Indonesia kalah telak 18-0 dari The Matildas. Gol kemenangan telak Australia dicetak oleh Sam Kerr (5 gol), Emily Van Egmond (4 gol), Hayley Raso, Kyah Simon, Ellie Carpenter (masing-masing 2 gol), Mary Fowler, Aivi Luik dan Caitlin Foord. 

Indonesia sendiri berhasil lolos ke putaran final piala Asia Perempuan setelah berhasil mengalahkan Singapura dua leg masing-masing dengan skor 1-0. Keberhasilan Tim nasional Sepakbola Perempuan Indonesia lolos ke putaran final Piala Asia Perempuan juga didukung oleh mundurnya dua negara dalam grup di babak kualifikasi, yaitu Korea Utara dan Irak karena alasan pandemi. 

Dalam gelaran piala Asia perempuan 2022 yang berlangsung di India, Indonesia tergabung di grup B dengan tim kuat seperti Australia, Thailand dan Filipina. 

Saat dikalahkan dengan telak oleh Australia, tidak sedikit orang yang menganggap lebih baik kalah WO ketimbang dibantai, timnas selebgram, timnas sepakbola gembira dan lain-lain. Jika kita bedah, mengapa tim nasional sepakbola putri Indonesia bisa kalah sampai belasan gol tanpa balas melawan Australia, banyak faktor yang mempengaruhi hasil laga tersebut dan menunjukan bahwa mereka harus terus didukung. 

Masa Persiapan yang Pendek 

Salah satu faktor yang mempengaruhi kekalahan telak belasan gol melawan The Matildas-julukan tim nasional sepakbola putri Australia adalah masa persiapan yang pendek. 

Tim nasional sepakbola putri Indonesia baru memulai persiapan menuju Piala Asia Perempuan pada 12 Desember 2021 yang lalu. Jika kita bandingkan dengan negara peserta yang lain seperti Jepang misalnya, mereka sudah memulai pemusatan latihan sejak awal November yang lalu meskipun pemusatan latihan jangka pendek dan dilakukan saat FIFA Matchday. Negara yang satu grup dengan Indonesia, Filipina juga sudah memulai pemusatan latihan sejak November 2021 dibawah pelatih baru mereka asal Australia, Alen Stajcic. Padahal, kualifikasi Piala Asia perempuan sendiri berakhir akhir September 2021 yang lalu. 

Minimnya Laga Ujicoba Internasional 

Untuk persiapan piala Asia perempuan tahun ini, tim nasional sepakbola perempuan Indonesia sudah melakukan 12 ujicoba hanya dengan tim lokal, baik tim perempuan maupun tim usia muda laki-laki sejak pemusatan latihan dimulai 12 Desember 2021. Padahal, ujicoba internasional sangat penting untuk skuad Garuda Pertiwi. 

Jika kita bandingkan dengan lawan Indonesia di babak penyisihan grup, contoh seperti Australia misalnya, mereka terakhir melakukan lima ujicoba dengan tiga negara pada tiga periode terakhir FIFA Matchday di tahun 2021 dengan melawan Republik Irlandia di Irlandia serta melawan Brazil dan Amerika Serikat (masing-masing dua kali) di Australia, sedangkan Indonesia terakhir memainkan pertandingan internasional resmi pada 24 September melawan Singapura di Tajikistan sebagai laga kualifikasi Piala Asia Perempuan 2022, bukan ujicoba. 

Ketiadaan Liga Sepakbola Putri 

Vakumnya Liga 1 Putri musim 2020 dan 2021 karena pandemi dan PON 2020 menyebabkan pemain sepakbola perempuan kehilangan platform untuk berkompetisi jangka panjang. Hal ini menyebabkan pelatih tim nasional mencari pemain yang berasal dari Database Asprov atau pemain yang tergabung dan skuad PON Papua 2020. Dari 23 pemain skuad timnas yang dibawa ke India, hanya empat pemain saja yang memiliki klub, yaitu Shalika Aurelia (Roma Calcio Feminile, Italia), Sabrina Mutiara (Arema FC Women), Oktavianti Dwi Nurmalita (Persiba Female, klub futsal) dan Riska Aprilia (PSS Sleman Putri). Sedangkan, pemain dari timnas yang tergabung dalam grup yang sama dengan Indonesia semua bermain di klub, bahkan seperti Australia dan Filipina banyak pemain yang berasal dari klub luar negeri, seperti dari Liga Eropa atau Liga antar kampus Amerika Serikat. Hal ini menunjukkan bahwa liga sangat penting untuk pengembangan sepakbola putri yang nantinya akan bermuara ke tim nasional. 

"Dianak-tirikan" oleh PSSI 

Sepakbola putri di Indonesia bisa dibilang kurang populer, tetapi sepakbola putri di Indonesia sudah mulai dikenal banyak orang. Sayang, federasi terkesan menganggap sepakbola putri sebagai "anak tiri" ketimbang sepakbola putra atau futsal. 

Ketidaksetaraan ini bisa dilihat dari persiapan yang dilakukan timnas putra asuhan Shin Tae-Yong menjelang piala AFF dan persiapan Timnas U-18 menuju piala dunia U-20 2023 di Indonesia. Timnas putra selalu melakukan pemusatan latihan di luar negeri dengan jangka waktu lama bahkan sampai berbulan-bulan lamanya. Sedangkan itu, timnas putri hanya melakukan pemusatan latihan di Jakarta dan beruji coba dengan tim lokal tanpa uji coba internasional. Jika pemusatan jangka panjang timnas putri tidak bisa dilakukan karena alasan pandemi dan susahnya mencari lawan uji coba internasional, mengapa timnas putra bisa melakukannya? Hal ini bakal menjadi pertanyaan para penggemar sepakbola nasional hingga piala Asia perempuan usai. 

Sepakbola Gembira Tidak Bisa (Sepenuhnya) disalahkan 

Kembali ke permasalahan awal, ketiadaan liga menyebabkan para pemain mencari alternatif lain untuk meningkatkan fitness match level mereka. Salah satunya adalah dengan bermain sepakbola gembira atau fun football. Banyak netizen menganggap timnas putri kalah dari Australia karena kebanyakan ikut main sepakbola gembira, padahal faktanya sudah dua tahun liga sepakbola putri tidak bergulir. 

Wajar saja kalau pemain lebih banyak membuat konten bermain sepakbola gembira daripada latihan dan bertanding. Tidak sedikit juga yang membandingkan dengan Shalika yang bermain di Italia, sebenarnya itu juga tidak ideal karena Shalika baru sign contract dengan klub Italia, Roma Calcio Femenile tersebut seminggu sebelum piala Asia perempuan bergulir. Kembali ke permasalahan awal, mencetak pemain bisa dilakukan lewat kompetisi domestik yang rutin, berjenjang dan berlangsung dengan jangka waktu yang panjang, bukan turnamen yang berlangsung hanya dua hari saja. 

Perbedaan Rangking FIFA yang Sangat Jauh 

Sebelum piala Asia perempuan bergulir, timnas sepakbola putri Indonesia menduduki peringkat ke-94 sekaligus menjadi tim peserta dengan peringkat paling rendah yang mengikuti piala Asia perempuan tahun ini dibandingkan dengan Australia yang menduduki peringkat ke-11 sekaligus menjadi tim dengan rangking FIFA lebih tinggi dari negara peserta Piala Asia perempuan yang lain. Gap yang sangat jauh tersebut tercemin dari skor telak pada pertandingan itu. 

Kalah WO Mencederai Semangat Sportivitas 

Meskipun kalah telak dengan skor belasan gol tanpa balas dari Australia, pemain timnas putri setidaknya sudah menunjukkan perjuangan mereka untuk bangsa ini tanpa mengalah sebelum bertanding. Ada beberapa netizen menganggap mending kalah WO yang skornya "cuma" 3-0 daripada dibantai belasan gol. Tentu saja kalah sebelum bertanding, kalah WO sangat mencederai semangat sportivitas dari olahraga itu sendiri. 

Dibalik kekalahan telak tersebut, rasa salut dan hormat harus diberikan setinggi-tingginya kepada timnas sepakbola putri Australia yang sudah bermain serius dan tidak menganggap remeh Indonesia yang notabene tim dengan peringkat paling rendah dari 12 negara peserta Piala Asia perempuan dengan lebih memilih menurunkan skuad utama ketimbang lapis kedua. 

Terlepas dari itu, pelatih timnas putri Australia, Tony Gustavsson memiliki alasan tersendiri untuk pemilihan pemain utama. “Saya pikir ada banyak alasan terkait pemilihan skuad. Salah satunya adalah kami harus memulai turnamen dengan baik,” kata Gustavsson dalam konfrensi pers dikutip dari laman website timnas Australia. 

"Saya pernah berada di situasi sama sebelumnya, yakni melawan tim berperingkat lebih rendah, Kami harus memperlakukan semua tim dengan rasa hormat dan berpegang kepada nilai-nilai dan standar kami di setiap pertandingan," ujar pelatih yang sebelumnya menjadi asisten pelatih timnas putri Amerika Serikat. 

Hal serupa juga diucapkan oleh kapten timnas putri Australia, Sam Kerr saat press conference setelah pertandingan. "Saya pikir kami tadi telah menunjukkan rasa hormat yang tertinggi kepada Indonesia pada laga tadi dengan menurunkan tim terbaik yang kami miliki, Kami memantau mereka sebelum pertandingan dan tahu mereka memiliki beberapa pemain yang berkualitas sehingga kami tidak ingin menganggap remeh mereka. Ini Piala Asia, dan kami di sini untuk melaju sejauh mungkin." ujarnya. 

Bentuk rasa hormat luar biasa lainnya yang ditunjukkan oleh timnas Australia adalah Seusai pertandingan, mereka melakukan sesi foto, baik  bersama maupun satu persatu dengan skuad timnas Australia, terutama kapten mereka, Sam Kerr yang notabene adalah Runner up pemain terbaik dunia untuk kategori perempuan versi FIFA dan topskor sepanjang masa timnas Australia (baik putra maupun putri) dengan 54 gol dari 105 penampilan. Tentu ini merupakan kesempatan ini tidak bisa dilewatkan oleh punggawa timnas putri Indonesia karena kesempatan tersebut tidak akan datang dua kali, kapan lagi mereka bermain satu lapangan sebagai lawan dengan pemain yang mungkin menjadi salah satu idola mereka yang sebelumnya hanya mereka lihat di televisi. 

Kapten Timnas Australia, Sam Kerr bersama rekan-rekannya berfoto bersama skuad timnas Indonesia seusai laga. Sumber: twitter womensfootie_id

 

"Setelah pertandingan tadi, kami menunjukkan itu (berfoto bersama). Kamu tahu, Mereka itu imut-imut banget. Jadi kami menunjukkan rasa hormat kami kepada mereka dan mereka pun juga menunjukkan itu kepada kami" ujar pemain berusia 28 tahun tersebut. 

Sayangnya, rasa hormat dari kedua tim nasional yang bertanding justru jadi bahan bullying netizen Indonesia dengan berbagai macam komentar pedas seperti menganggap pemain timnas putri Indonesia cengas-cengis, tidak punya attitude, tidak punya rasa malu setelah dibantai belasan gol, bahkan ada sexual harassment untuk pemain Australia seperti Ellie Carpenter dan Sam Kerr di kolom komentar akun media sosial mereka karena salah satu dari mereka mendeklarasikan diri sebagai kelompok LGBT dan paras fisik mereka, bukan skill yang ditunjukkan sang pemain. Sungguh sangat disayangkan. 

Meskipun kita dibantai belasan gol oleh The Matildas, masih ada dua tim yang sudah menunggu kita di pertandingan selanjutnya, yaitu Thailand (24/1) dan Filipina (27/1). So, tetap dukung timnas putri apapun kondisinya, apapun hasilnya biarkan mereka berproses setelah 33 tahun absen di kompetisi selevel ini. Tetap percaya proses ya, Civs. (*/)

  • whatsapp
  • twitter
  • facebook
  • remix
Penulis

Satrio Adi Pradipto

Hamba tuhan yang selalu mencintai sepakbola (dan kamu).