Sports

DAVID JOHNSON, MESIN GOL LIVERPOOL SEBELUM IAN RUSH

Sebelum Ian Rush, David Johnson merupakan penyerang terbaik Liverpool. Mengawali karier bersama Everton, Johnson kemudian menjelma menjadi pencetak gol andalan Si Merah.

title

FROYONION.COM - Pamor David Johnson barangkali tak lebih hebat dari Kenny Dalglish, Ian Rush, atau bahkan Kevin Keegan. Meski begitu, Johnson merupakan sosok sentral dalam skuad emas Liverpool di era Bob Paisley.

Selama enam tahun berseragam Liverpool (1976-1982), Johnson telah melakoni 213 pertandingan di semua kompetisi. Dalam rentang waktu tersebut, pemain yang akrab disapa Dok itu berhasil membukukan 78 gol, 27 asis, dan menyumbang 12 trofi untuk Si Merah.

Johnson merupakan pemain asli kelahiran Merseyside. Ia tumbuh besar di Halewood. Sejak kecil, Johnson telah menetapkan hatinya untuk mendukung panji Si Merah. 

Kendati demikian, Johnson lebih memilih untuk memulai karier sepak bola bersama tim rival sekota Liverpool, Everton.

Pasalnya, Everton tak ubahnya seperti tanah menjanjikan bagi Johnson. Dengan jaminan mendapat lebih banyak kesempatan bermain di skuat utama Everton, membuat Johnson tak ragu membelot ke kubu biru.

“Saya telah menonton banyak pertandingan Liverpool. Mereka menurunkan tim yang hampir sama di setiap minggunya.  Sedangkan pencari bakat Everton, menunjukkan bahwa mereka akan memberi kesempatan kepada para pemain muda,” kata Johnson dikutip dari liverpoolecho.co.uk.

BACA JUGA: MENGENAL STRATEGI TIKI TAKA YANG KERAP DIKAITKAN DENGAN TIMNAS INDONESIA

David Johnson
Sumber: PlanetSport

Johnson memulai debut profesionalnya bersama tim utama Everton pada Januari 1971 di usianya yang ke-19 tahun. Meski gagal membawa Everton meraih poin penuh melawan Burnley, Johnson berhasil membukukan satu gol pada pertandingan debutnya itu.

Kebersamaan Johnson dengan The Toffees pun berakhir pada musim 1972/73. Ia kemudian hijrah ke Ipswich.

Empat musim berada di Portman Road, nama Johnson perlahan mulai bersinar. Bersama Trevor Whymark, Dok  sukses mengantarkan tim berjuluk The Tractor Boys itu mengamankan satu tiket ke kualifikasi Piala UEFA 1973/74.

JALAN TERJAL MENEMBUS SKUAT UTAMA LIVERPOOL 

Pada musim 1976/77, mimpi Johnson untuk membela tim kesayangannya itu akhirnya tercapai. 

Suksesor Shankly di Liverpool, Bob Paisley menebus Johnson dari Ipswich dengan mahar sebesar 200.000 poundsterling. Harga tersebut membuat penyerang berusia 24 tahun tersebut menjadi pemain termahal Liverpool.

Johnson memulai debutnya bersama Liverpool di pertandingan pembuka Liga Inggris musim 1976/77 dalam kemenangan 1-0 atas Norwich. Satu pekan kemudian ia berhasil mencetak gol pertamanya bagi Liverpool saat menghadapi Birmingham.

Kendati turut mencicipi manisnya gelar juara Liga Inggris serta Piala Champions di musim perdananya, Johnson bukanlah pilihan utama di lini serang Liverpool. Ia lebih banyak dijadikan sebagai super-sub. Saat itu, Paisley lebih mengandalkan John Toshack ataupun Steve Heighway sebagai tandem Kevin Keegan.

Memasuki musim keduanya berseragam Liverpool, nasib Johnson malah semakin suram. Kendati Keegan telah hijrah ke Hamburg SV, tidak lantas membuat Johnson menjadi pilihan utama di lini serang Liverpool.

Cedera lutut yang kerap menerpa Johnson, membuat Paisley lebih memilih mendatangkan Kenny Dalglish dari Celtic untuk menggantikan peran Keegan.

Kendati demikian, Johnson tidak patah arang. Ia selalu berusaha untuk memberikan seluruh kemampuan terbaiknya ketika diberi kesempatan bermain.

Hal tersebut coba ia buktikan ketika Liverpool bertandang ke markas Borussia Moenchengladbach, Rheinstadion dalam leg pertama semifinal Piala Champions 1977/78. 

Bermain sejak menit ke-63, Johnson sukses menyarangkan gol penyeimbang  melalui sundulan setelah memanfaatkan umpan silang Dalglish 

Berkat penampilannya itu, Johnson kemudian diberi kesempatan untuk bertanding melawan Everton di Goodison Park. Ia menjadi pencetak gol satu-satunya dalam pertandingan tersebut. Hal itu membuat Johnson menjadi pemain pertama yang mencetak gol kemenangan untuk Liverpool dan Everton di derbi Merseyside.

Jelang leg kedua semifinal Piala Champions, Johnson kembali mengalami cedera ligamen. Ia terpaksa menepi hingga akhir musim, yang membuatnya absen dalam kemenangan 3-0 Liverpool atas Borussia Moenchengladbach, dan partai final melawan Club Brugge.

TITIK BALIK JOHNSON

Mengawali musim ketiganya di Liverpool, nasib Johnson tidak banyak mengalami perubahan. Ia masih kerap mengawali pertandingan dari bangku cadangan. Kendati demikian, Johnson selalu menyumbang gol ketika diberikan kesempatan bermain.

Misalnya saja saat Liverpool menghadapi Tottenham pada September 1978. Johnson yang menggantikan peran Emlyn Hughes di lini serang, berhasil menyarangkan dua gol ke gawang Tottenham. Sekaligus, mengantarkan Si Merah menang telak 7-0 atas tim London Utara itu.

Sejak saat itu, Johnson diplot sebagai tandem ideal King Kenny. Bersama dengan Dalglish, Johnson membawa Liverpool merebut gelar juara liga dari tangan Nottingham Forest pada musim 1978/79. 

AKHIR KEJAYAAN JOHNSON DI ANFIELD 

Pada musim 1979/80, peran Johnson di lini depan Liverpool tidak tergantikan. Ia telah menjelma menjadi salah satu striker paling produktif di tanah Eropa dengan torehan 27 gol dari 54 pertandingan di semua ajang.

Johnson juga kembali membawa Liverpool ke tangga juara liga di musim tersebut. Ia membukukan dua gol dalam kemenangan Liverpool atas Aston Villa 4-1 di Anfield. Sekaligus, memastikan Si Merah mengunci gelar juara liga untuk yang kelima kalinya dalam delapan musim terakhir.

Setelah menjalani musim paling subur di Anfield, Johnson kembali mengalami serangkaian cedera. Kondisi tersebut memaksa Paisley mengurangi jatah bermain Johnson pada musim 1980/81.

Johnson juga beberapa kali absen di pertandingan penting Liverpool. Salah satunya adalah partai final Piala Liga melawan Aston Villa. Peran Johnson kemudian digantikan oleh Ian Rush, yang pada saat itu masih berusia 21 tahun.

Munculnya pemuda asal Wales tersebut seolah menjadi pertanda bagi Johnson jika kariernya di Anfield sudah berada di ujung tanduk.

Kendati demikian, pengalaman Johnson sebagai ujung tombak tidak bisa disepelekan begitu saja. Hal tersebut yang membuat Paisley lebih memilih untuk memasang Johnson ketimbang Rush di partai final Piala Champions menghadapi Real Madrid.

Hasilnya pun terbukti bagus. Liverpool berhasil mengalahkan raksasa Spanyol itu dengan skor tipis 1-0 melalui gol Alan Kennedy pada menit 81.

Memasuki musim 1981/82, pamor Johnson sebagai striker unggulan kian meredup. Perannya mulai digantikan oleh sosok Rush, yang seketika menjadi mesin gol Liverpool dengan torehan 30 gol dari 49 pertandingan di semua kompetisi. 

Johnson kemudian kembali ke Everton pada Agustus 1982. Setelah menjalani dua musim di Goodison Park, sisa karier Johnson dihabiskan dengan berpindah-pindah kesebelasan. Mulai dari Barnsley, Manchester City, Tulsa Roughnecks, Preston, Barrow, dan pensiun di salah satu tim Liga Malta, Naxxar Lions pada tahun 1987.

Pada 23 November 2022 lalu, Johnson menghembuskan nafas terakhir di usianya yang ke-71.

Meski kariernya di Anfield tak berlangsung mulus, bagi Johnson Liverpool adalah klub terbaik yang pernah dibelanya.

“Ketika saya melihat kembali masa-masa saya bersama Liverpool, saya memenangkan 18 medali. Saya memiliki medali untuk disimpan. Dan saya bermain untuk tim terbaik di Eropa,” ucapnya seperti dilansir liverpoolecho.co.uk. (*/)

  • whatsapp
  • twitter
  • facebook
  • remix
Penulis

Aldi Fathurahman

Writer