Potensi Diri

MALU BERTANYA, SESAT DI KERJAAN: KENAPA ‘ANAK BARU’ PERLU AKTIF SPEAK UP DI KANTOR

Anak baru biasanya suka malu-malu dan takut berpendapat. Alhasil, dirinya jadi kurang terlihat dan masa depan karier pun jadi sulit dipahat. Simak strategi yang bisa lo terapkan untuk bisa tetap aktif di kantor meskipun lo masih anak baru!

title

Buat lo yang baru jadi fresh grad tentunya punya ketakutan tersendiri, utamanya soal masa depan yang belum pasti. Sekian lama menempuh pendidikan di perguruan tinggi dan akhirnya bisa lulus pastinya butuh usaha yang keras. Belum lagi kalo udah diterima bekerja di sebuah perusahaan, lo harus bisa untuk adaptasi dan juga nunjukin kalo lo bisa perform secara maksimal di perusahaan itu.

Awalnya memang nggak mudah, terlebih, lo adalah ‘anak baru’ yang serba nggak tau kondisi di kantor. Ketemu sama orang-orang yang masing-masing punya sifat yang berbeda mengharuskan lo untuk punya strategi khusus untuk bisa membaur dengan mereka. Ini baru dari sisi sosial, belum dari sisi pekerjaannya itu sendiri.

Sebagai anak baru, cepat atau lambat pasti lo akan menghadapi sebuah masalah yang mungkin nggak bisa lo pecahkan sendiri, sehingga itu menghambat workflow yang ada di kantor, ataupun bisa bikin kehidupan sosial di kantor jadi ikut-ikutan stuck.

Dan tentu sebagai anak baru, lo pasti takut untuk speak up. Bahkan, membayangkan rasanya untuk ngomong di depan para senior itu terkadang bisa membuat lo jadi lemes, bahkan sampe overthinking kayak “Gue takut omongan gue bikin si A sakit hati deh” atau “Kayaknya gue belum pantes untuk ngomongin hal ini di depan senior, takut dibilang sok tau” dan narasi-narasi serupa lainnya.

Dari sebuah penelitian tahun 2015 tentang pandangan dan pengakuan supervisors terhadap staff-nya di tempat kerja, ditemui bahwa para supervisors lebih mengakui opini dan pendapat dari staff yang lebih berpengalaman secara achievements dan full-time work hours, kasarnya, ada semacam diskriminasi yang terjadi untuk lo yang masih jadi ‘anak baru’ di kantor, di mana opini lo belum terlalu berpengaruh di lingkungan kerja itu.

Nah, keadaan ini bukan berarti lo harus terus tinggal diam dan nggak bisa bersosialisasi, atau bahkan menyampaikan opini lo terhadap suatu permasalahan. Lo harus bisa menerapkan strategi-strategi khusus untuk melawan rasa malu atau rasa takut untuk speak up.

OPINI LO NGGAK PERLU DIDENGAR SAMA SEMUA ORANG

“Apa sih maksudnya? Kok pendapat gue nggak butuh didengar sama semua senior yang ada di kantor?”

Jadi, untuk bisa speak up secara efisien artinya lo harus bisa menyampaikan pendapat dengan tepat dan make sense ke orang yang tepat juga. Misalnya, ketika lo ingin menyampaikan sebuah pendapat ke bos, lo bisa memulai dengan meminta pendapat dan perspektif dari rekan sebaya, atau orang se-divisi yang lebih dekat sama lo.

Lo bisa tanya ke mereka hal-hal kayak “Kira-kira hal ini bisa bikin bos kita lebih enak nggak ya kerjanya?”, “Mungkin nggak sih ide ini bisa diterapkan di kantor kita?”, “Bos kita sebelumnya pernah ngomongin tentang hal ini nggak sama kalian?”.

Dari situ, lo bisa dapet sudut pandang baru tentang sebuah masalah. Karena bisa jadi, ide atau opini lo yang lo pikir cukup bagus dan efektif, ternyata udah pernah diterapkan di kantor sebelumnya, dan hasilnya kurang bagus. Jadi, lo bisa lebih efisien lagi ketika mau menyampaikan sesuatu.

LIAT SITUASI, KONDISI, NADA, DAN CARA LO MENYAMPAIKANNYA

Poin ini juga jadi krusial buat menjaga kredibilitas lo di kantor. Nggak semua opini bisa lo sampaikan pas lagi meeting, juga nggak semua pendapat bisa lo sampaikan dengan lantangnya ketika lo tau tim/ anak-anak kantor lagi pada pusing sama kerjaannya masing-masing.

Terkadang, opini juga bisa lo sampaikan ketika lagi jam istirahat, atau ketika bos lo lagi nyantai dan kelihatannya lagi nggak terlalu hectic sama kerjaannya.

Kalo lo bingung nentuin kapan lo bisa speak up, lo bisa pikirin beberapa hal kayak “Kira-kira si A lagi mikirin project apa ya? Apakah pendapat gue bisa membantu dia? Atau malah pendapat gue lagi nggak relevan sama yang dia pikirkan sekarang?”.

Lo juga bisa menimbang-nimbang sosok siapa yang bisa membantu memperkuat opini dan pendapat lo. Mungkin nggak ide lo jadi lebih make sense ketika lo menyampaikannya bareng temen se-divisi lo? Atau malah topik ini lebih baik dibicarain secara private?

Selain itu, nada dan cara penyampaian juga sama pentingnya. Ada riset lain yang bilang kalo cara menyampaikan pendapat dengan nada yang lebih terbuka dan konsultatif lebih dihargai ketimbang memakai nada yang terkesan dominan dalam diskusi. Jadi, lo harus lebih menghargai orang lain ketika lo memutuskan untuk speak up.

PERHATIIN CARA LO ‘MEMBINGKAI’ SEBUAH PENDAPAT

Dalam sebuah permasalahan, biasanya ada dua frame atau ‘bingkai’ pendapat yang sering muncul dan dilontarkan. 

Pertama, lo menganggap sebuah masalah terjadi karena sebuah faktor, dan faktor itu harus segera disetop atau dieliminasi. Kedua, masalah yang terjadi adalah sebuah jalan menuju kemajuan dan nantinya bisa membantu mencapai tujuan perusahaan.

Dari keduanya, peneliti menganggap framing yang kedua dirasa lebih sukses dalam menyelesaikan masalah dan juga membantu meningkatkan kredibilitas lo di mata rekan kerja, karena dalam framing yang kedua, masukan lo dirasa mampu menunjukkan loyalitas terhadap perusahaan dan juga membantu perusahaan mencapai tujuannya.

Masih banyak lagi strategi lain yang bisa lo terapkan untuk membantu lo lebih aktif di tempat kerja. Meskipun masih tergolong ‘anak baru’ bukan berarti lo hanya tinggal diam menerima delegasi tugas dan takut menyampaikan opini. Yang terpenting, lo harus punya kesadaran diri dan tau bagaimana cara menyampaikannya dengan tepat, karena opini yang membangun nggak cuma bermanfaat buat kantor lo, tapi buat diri lo sendiri juga! (*/)

  • whatsapp
  • twitter
  • facebook
  • remix
Penulis

Garry

Content writer Froyonion, suka belajar hal-hal baru, gaming, dunia kreatif lah pokoknya.