Potensi Diri

‘KEPOIN’ DIRI SENDIRI DENGAN FIRST PRINCIPLE THINKING

Di abad digital, kita dibanjiri informasi tentang orang lain dan hal-hal lain di luar kita tanpa henti. Tapi pernahkah kita mencoba ‘kepo’ terhadap diri sendiri, daripada urusan pribadi orang lain?

title

FROYONION.COM - Rasa-rasanya makin hari itu makin banyak banget hal yang sebenernya gak pengen kita tau tapi secara nggak sengaja kita tau tentang hal itu. Suatu hari pasti kita gak pengen tau apa yang direncanakan sama elit global dalam memanipulasi umat manusia, atau apa yang dimakan Atta Halilintar sama Aurel setiap harinya. Mungkin lo juga ngerasain hal yang sama kaya gue.

Begitulah hari-hari kita saat ini, selamat datang di era informasi. Era dimana kita setiap hari dapet informasi tanpa mendadak nanyain dulu ke cenayang, atau kita nggak perlu belanja di tukang sayur yang dipenuhi sama emak-emak yang lagi nge-gosip. Cukup kita buka handphone kita, langsung dibombardir sama berbagai informasi yang bisa dibilang penting juga engga, dibilang sepele tapi dibicarakan terus sama orang-orang.

Guru gue waktu dulu pernah ngebayangin kalau di masa depan itu enak kalau mau cari tau apa-apa gak sesulit apa yang dirasain sama generasi tua kaya guru gue waktu muda dulu. Gue waktu itu juga jadi ikut ngebayangin kalau gue tau segalanya nanti, gue jadi jenius atau menjadi seorang yang serba tau. Sebut aja gue adalah wikipedia berjalan. Namun ternyata enggak, gue jadi bingung sama pikiran gue sendiri. Semakin sering gue dapet informasi, semakin gue nggak tau mana yang bener yang bener dan mana yang salah.

Karena fenomena itulah gue jadi ngerasa susah atau kebingungan buat meyakini keyakinan yang ada di dalam diri gue, misalnya tuh sebelumnya gue menganut keyakinan bahwa bubur diaduk itu lebih enak daripada bubur yang nggak diaduk. Tapi karena gue dibombardir sama informasi dari temen atau dari sosmed kalau bubur diaduk itu kek muntahan kucing dan lebih enak nggak diaduk karena tampilannya masih enak buat dimakan, dari situlah keyakinan yang gue anut selama ini terasa goyah di hati dan pikiran gue.

Keyakinan gue yang jadi kurang berdasar membuat gue akhirnya bikin gue jadi enteng buat berasumsi, ngomong ngalor-ngidul soal fenomena yang terjadi saat itu padahal belum tentu apa yang gue pikirin itu bener.

Gue juga berpikir gue nggak mau lama-lama memposisikan diri kayak gitu, akhirnya gue menemukan sebuah artikel tentang first principle thinking, cara berpikir ala filsuf kuno Aristoteles tentang bagaimana cara kita memutuskan sebuah kebenaran dengan terus bertanya sampai ketemu akar permasalahannya dimana. Cara berpikir itu juga bisa berguna buat menguatkan keyakinan kita. Dari situlah kita sebagai orang awam menganggap filsuf itu kebanyakan nanya mulu kok nggak gerak-gerak. Tapi menurut gue justru dengan cara bertanya, kita jadi tau apa dan kenapa sih masalah kita itu bisa terjadi.

First principle thinking itu gimana sih konsepnya? Nah, gini konsepnya. Dari artikel yang gue baca dari situs web Farnam Street, First Principle mengajak kita buat menyelesaikan masalah yang kita hadapi dengan cara mengirisnya jadi beberapa pertanyaan yang mendasar dimana pertanyaan yang kita tanyain bener-bener sesuai sama atas dasar apa kita bertanya dan diharapkan kita bisa menyusun sebuah masalah itu dengan cara yang kreatif. Dengan itu kita jadi nggak gampang buat menyimpulkan permasalahan kita kalau pemahaman kita tentang masalah itu sendiri bisa dibilang masih mentah.

Terus gimana sih teknik atau tata cara penerapan first principle thinking itu sendiri? Nah, sekarang gue jelasin. Yang pertama itu ada yang namanya metode Socratic Questioning ini merupakan proses mengetahui permasalahan dengan menganalisisnya. Bagaimana cara menganalisisnya? Ya dengan bertanya dengan pertanyaan yang dianggap bisa mengungkapkan akar permasalahan kita. 

Hal pertama yang harus kita lakuin dalam proses Socratic Questioning adalah kita harus bisa menjelaskan dari mana dan bagaimana kita bisa dapat asumsi itu dengan bertanya “Kenapa ya gue bisa kepikiran begini?” atau “Apa sih yang sebenernya gue pikirin?”. 

Yang kedua menantang asumsi kita dengan bertanya “Gimana bisa kok gue berpikir apa yang gue pikirin selama ini bener?” atau “Semisal gue berpikir hal sebaliknya, apa itu jadi bener juga?”

Langkah ketiga, mencari bukti yang bisa memperkuat asumsi kita dengan bertanya “Apa gue ada bukti yang bisa memperkuat asumsi gue?. 

Lalu langkah yang keempat adalah mempertimbangkan sudut pandang yang lain dengan bertanya “Apa yang dipikiran orang lain tentang apa yang gue pikirin?”. 

Yang kelima adalah mempertimbangkan konsekuensinya kalau ternyata apa yang kita asumsiin itu salah dengan bertanya “Kalau misal ternyata selama ini salah, gue bakalan gimana? Apa konsekuensinya?”.

Dan terakhir, kita harus konfirmasi tentang apa yang kita pikirin dengan bertanya lagi seperti “Nah, apa sih sebenarnya apa yang gue pikirin?”, “Menurut jawaban pertanyaan tadi, gue sebenernya bener gak sih?” atau “Apa kesimpulan dari jawaban-jawaban yang dari tadi gue tanyain pada diri sendiri?”.

Nah kurang lebihnya seperti itu soal socratic questioning, kita bisa praktekin ini nggak cuma pas dengerin informasi doang tapi kita juga bisa terapkan ini pas lagi overthinking sama keyakinan atau pemahaman kita terhadap sesuatu. Misal, keyakinan tentang jalan hidup kita yang kita lewatin sekarang, misalnya lagi pas mau ambil keputusan mau kerja atau kuliah di bidang apa, atau bisa buat kita mempertajam pengetahuan kita. Cara bertanya pun fleksibel aja, asal apa yang kita tanyakan bisa mematangkan apa yang kita pikirkan sekarang.

Kalau misal cara di atas menurut lu sedikit ribet, atau istilahnya orang jawa itu mbulet kita juga bisa kok pake metode yang paling simple dan mudah karena kita pasti pernah seperti ini waktu dulu. Metode yang gue omongin itu adalah metode yang gue sebut “Anak kecil yang kepo”, atau istilah bahasa inggrisnya itu “The Five Why”

Gue juga gak ngejelasin belibet lagi soal tata caranya, intinya cuma butuh rasa keingintahuan kita dan terus terusan kepo sama diri sendiri soal apa yang barusan kita pikirin. Karena apa? Secara gak sadar, anak kecil itu secara alaminya menerapkan First Principle ini. Pernah gak sih saat lu kecil, lu penasaran sama sebuah hal yang bener-bener lu pengen buat tau, tapi saat lu nanya sama orang tua lu jawabannya cuma “Ya udah dari sononya begitu” atau “Ya gak tau katanya mbah-mbah jaman dulu kaya gitu kok”. Terus bertanya pada diri sendiri Why Why Why, semakin terjawab Why-nya kayak cara buat ngertiin apa sebenarnya masalah kita dan semakin kita gak kesulitan buat How-nya kayak solusi kita dalam mecahin masalah.

Dengan first principle thinking, kita jadi nggak perlu lagi yang namanya bingung dengan berbagai opini, informasi, atau fakta baru. Memang kesannya ribet banget pas awalnya, tapi itu cuma ribet di awal kok daripada kita selama ini kita menjalani hidup dengan keyakinan, pengetahuan, prinsip, dan pemikiran yang gak sesuai sama kita. Panjang umur kebenaran,Civs! (*/)

  • whatsapp
  • twitter
  • facebook
  • remix
Penulis

Luki Setiawan

Pernah jadi jurnalis waktu SMA, tahun ini gapyear tapi nyambi jadi penulis dan desainer freelance