Potensi Diri

KENALI NILAI HIDUPMU SEBELUM MENGEJAR BAHAGIA

Usia kita yang udah mau menginjak 20 an tentunya banyak banget plan, goals, cita-cita, atau impian. Tapi apa itu sesuai dengan nilai hidup kita? 

title

FROYONION.COM - Kita pasti pernah denger orang yang bilang umur 25 tahun harus punya mobil, apartemen, punya banyak pegawai... etc etc

Lalu BOOMMM!!

Karena fenomena seperti itu sebagian dari kita jadi mematok sebuah ekspektasi hidup yang kurang realistis dan lebih ke arah maksain diri. 

Lebih parahnya lagi ekspektasi itu bukan milik dirinya sendiri tapi diambil dari patokan kebahagiaan orang lain. Mungkin ada salah satu dari kita melakukan hal seperti itu termasuk gue dulu masih polos-polosnya anak SMA pernah begitu. xD

Apa sih sebenarnya yang ingin kita capai dalam hidup kita? 

Gue dulu pernah banget denger pengakuan temen gue: “Gue pengen jadi orang sukses!”. 

Nah di sini menurut gue ada titik biasnya. 

Sukses itu seperti apa sih? Gimana cara mengukur kesuksesan itu? Kita kalau sukses kita harus jadi apa? 

Bingung kan? Sama banget. 

Jujur gue juga masuk fase seperti ini. You're not alone!

Katakanlah ada seseorang bernama Robby yang terobsesi dengan hal yang bernama kesuksesan. Dia ini bener-bener push dirinya secara gak masuk akal, memaksa diri bekerja keras jadi kaya crazy hustle banget. 

Karena itu Robby jadi jarang banget kontakan sama keluarganya, teman nongkrong, atau bahkan pasangannya. Demi pencapaian yang ‘abstrak’ itu (gue bilang abstrak karena seperti yang gue bilang tadi karena kesuksesan itu gak ada ukuran pastinya), Robby jadi mengabaikan hal-hal atau orang-orang yang sebenarnya berarti buat dia.

Akhirnya Robby ini berada di fase puncak, tapi merasa overwhelmed. Selama dia mengejar kesuksesan dia selalu merasa kurang dan alhasil menjadi nggak bahagia karena dia selalu merasa belum sukses. 

Kenapa Robby merasa dirinya belum sukses padahal sudah kerja keras siang malam sampai burnout

Ternyata selama ini dia melihat kesuksesan itu dengan menggunakan standar kesuksesan orang lain. Dia berpikir dia harus seperti orang lain yang dia anggap bagus atau keren. 

Padahal menurut pendapat gue, kesuksesan orang itu ukurannya beda-beda, tergantung kondisi atau keadaan dari bayi sampai berdiri saat ini. 

Dengan kata lain, kondisi dia berbeda dengan kondisi orang lain. Karena perbedaan kondisi itulah, jelas ukuran sebuah kesuksesan itu berbeda juga.

Dari cerita Robby tadi, ada beberapa insight yang bisa kita ambil. Pertama, kesuksesan itu bervariasi alias gak punya standar yang sama persis antara satu orang dengan yang lain. 

Kedua, karena sifatnya yang bervariasi itulah kita gak bisa maksain jadi orang lain demi mendapatkan standar kesuksesan yang sama.

Ketiga, ternyata ada hal yang lebih berarti daripada semua standar kebahagiaan milik orang lain itu. Dan sayangnya kita sering malah mengabaikannya.

Jadi, gimana sih cara kita biar bisa menentukan diri kita hidup seperti apa misalnya tentang kesuksesan, prioritas hidup, kebahagiaan, goals dan lain-lain? 

Caranya, kita harus punya personal value!

Apa itu personal value

Istilah ini bisa dijelaskan sebagai sebuah nilai, standar atau pedoman hidup yang kita yakini cocok dan sesuai dengan kondisi kita. Kita pernah lah mendengar yang namanya “kearifan lokal”.

Kearifan lokal itu artinya sebuah nilai kebijaksanaan yang dianut oleh segelintir masyarakat di sebuah tempat. 

Apa persamaan dan perbedaannya? Persamaannya adalah sebuah nilai yang dianut. Perbedaanya adalah kearifan lokal itu dianut oleh katakanlah sebuah kaum yang menghuni di suatu tempat, sedangkan personal value itu sifatnya lebih unik secara personal atau berbeda dari orang lain meskipun in case ada sebuah kemiripan. Jadi kita bisa mengerti siapa diri kita, dan kenapa kita berbeda dari yang lain.

Karena keunikan itulah nilai hidup satu orang dengan yang lain itu berbeda. Nilai hidup gue beda sama lo, nilai hidup gue dengan orang tua gue juga berbeda. Gak ada yang bisa nyamain, tapi emang ada orang yang maksain atau dipaksa harus mengikuti nilai hidup orang lain. Ini yang menurut gue salah. Karena kesamaan nilai yang dipaksakan itu jadi biang kerok fenomena seseorang meninggalkan nilai hidupnya sendiri demi menganut nilai hidup yang lain.

Ngomong-ngomong soal nilai hidup, ternyata ada nilai hidup yang baik dan ada juga nilai hidup yang jelek. Tetapi gue gak mau menghakimi nilai hidup orang lain tetapi ingin menjadikan hal ini sebagai koreksi terhadap nilai hidup kita sendiri.  

Nilai hidup mana yang baik? Nilai yang baik itu tidak mengedepankan ego dan menganggap orang lain rendah, bisa mengembangkan diri menjadi naik level, dan bisa dikontrol oleh diri kita. 

Jadi yang jelek itu sebaliknya, apakah nilai hidup kita membuat ego kita semakin besar? Membuat kita hidup kita stuck atau bahkan sampai hancur? Apa nilai hidup gue bisa gue atur sebaik mungkin? Untuk nilai yang jelek, jangan serta merta membenci nilai hidup tersebut sampai nilai orang yang menurut kita jelek pun ikut dibabat juga.

Tapi sebelum itu, jika lo sampai saat ini belum menemukan nilai hidup pasti bertanya gimana sih cara menemukannya? Apa gue bakalan dapetin nilai baik itu? 

Sebenarnya kita gak perlu mencari ke mana-mana nilai hidup kita. 

Kenapa? 

Karena sebenarnya nilai hidup itu sudah ada di dalam diri kita. Kasarannya, andai nilai hidup sebuah barang yang jarang dipakai pasti ditaruh di gudang kan? Nah sama halnya nilai hidup. 

Kita gak perlu lagi merasa iri menyaksikan influencer yang bilang bisa dapet Rp5 miliar dalam sebulan karena bangun tidur setiap jam 2 malam. Nilai hidup kita adalah diri kita yang sebenarnya. 

Tapi ada banyak nilai hidup yang bisa kita terapkan yaitu keluarga, kejujuran, kreativitas, integritas, empati, atau lain sebagainya. Lo bisa membaca ini kalau lo pengen belajar lebih lanjut tentang personal value.

Mungkin selama ini kita telah menyembunyikan nilai hidup kita karena terpengaruh nilai orang lain, mungkin juga karena kita malu buat menunjukkannya, atau mungkin lagi karena tidak yakin. Apapun nilai hidup kita, lakukan itu. Jika kita menjalani hidup dan mencapai sesuatu yang sesuai dengan nilai hidup kita, kita juga merasa jauh lebih bahagia daripada mencapai hal yang sebenarnya gak pengen kita kejar. 

Jadi, apa lo udah menyadari pentingnya nilai hidup, Civs? (*/)

  • whatsapp
  • twitter
  • facebook
  • remix
Penulis

Luki Setiawan

Pernah jadi jurnalis waktu SMA, tahun ini gapyear tapi nyambi jadi penulis dan desainer freelance