Potensi Diri

JANGAN SEMBARANGAN BACA BUKU ‘SELF-HELP’

Buku genre self-help selalu laris manis dari dulu. Anak-anak muda kreatif di Indonesia juga sering baca buku jenis ini. Tapi di balik manfaatnya, ternyata ada juga risiko baca buku jenis ini, Civs.

title

FROYONION.COMMembaca buku bagi banyak orang adalah suatu aktivitas kultural dan intelektual yang dilakukan banyak anak muda kreatif di Indonesia. Di antara berbagai genre/ jenis buku yang populer di Indonesia, genre self-help sering dibaca oleh generasi muda kita.

Buku-buku self-help ini ditulis dengan tujuan untuk memberi saran untuk memecahkan masalah-masalah hidup mereka. Buku-buku ini menawarkan beragam nasihat dan saran mengenai cara-cara mengatasi problem-problem spesifik seperti isu finansial, penanganan stres, penanganan insomnia, cara meningkatkan karier di masa depan, dan sebagainya.

Gue sendiri pernah menjadi salah satu penikmat buku self-help. Dan entah kenapa gue ngerasa kurang ‘klik’ aja sama pembahasannya dan nggak pernah baca sampe habis. Dari sini, gue jadi penasaran, kenapa ya baca buku jenis self-help ini kurang menarik buat gue.

Meski manfaat buku self-help ini sudah jelas (untuk memotivasi dan mendorong kita mengatasi masalah hidup), siapa sangka bahwa buku genre ini juga bisa memberikan dampak yang kurang baik buat kesehatan mental kita jika dibaca terus-menerus?

MAKIN STRES

Menurut sebuah penelitian oleh Centre of Studies on Human Stress (CSHS), diketahui bahwa para pembaca buku self-help memiliki level kortisol (hormon stres) dan menunjukkan gejala-gejala depresi yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak membacanya.

Sekilas para pembaca buku self-help tidak berbeda dari pembaca buku-buku lain. Tapi saat dihadapkan pada situasi yang membuat stres, mereka mengalami kenaikan level hormon kortisol yang lebih tinggi.

Buku-buku self-help yang dimaksud di dalam riset ini adalah buku-buku yang memfokuskan pembahasan pemecahan masalah (problem solving) dan buku yang berorientasi pada perbaikan diri (self growth).

Dari hasil penelitian, diketahui mereka yang membaca buku problem solving mengalami peningkatan gejala-gejala depresi. Sementara itu, di saat yang sama para pembaca buku self growth menunjukkan tingkat reaktivitas stres yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak membaca buku-buku sejenis.

Peneliti mengatakan bahwa alasan hal ini bisa terjadi adalah karena membaca buku-buku self-help tidak serta merta memecahkan masalah hidup yang dialami seseorang. Membaca buku cuma bisa membantu kita memahami masalah yang dialami. 

Untuk mengatasi dampak negatif ini, kita disarankan untuk membaca buku self-help yang ditulis oleh para peneliti atau tenaga profesional berpengalaman yang mendukung isi buku mereka dengan fakta-fakta yang telah teruji secara ilmiah oleh universitas bereputasi baik, lembaga-lembaga yang diakui, fasilitas kesehatan, atau badan penelitian.

BERKEBALIKAN

Banyak kalimat motivasional dan positif yang dimasukkan ke dalam sebuah buku self-help. Tujuannya untuk memberikan optimisme dan suntikan semangat bagi pembacanya yang tengah membutuhkan dorongan, panduan, dan afirmasi untuk dirinya.

Namun, dengan ekspektasi tersebut, risiko dari membaca buku yang terlalu banyak mengandung motivasi begini adalah efeknya justru bisa berkebalikan. Setidaknya inilah temuan dari sebuah riset di Psychological Science.

Sebuah eksperimen melibatkan sejumlah partisipan yang memiliki kepercayaan diri rendah dan tinggi. Lalu mereka disuruh mengulang-ulang sebuah kalimat dalam buku self-help: “Saya orang yang menyenangkan.”Kemudian mood dan perasaan mereka diukur. 

Hasilnya mereka yang berkepercayaan diri rendah mengatakan perasaan dan mood mereka memburuk setelah mengucapkan kalimat tadi berulang kali dibandingkan mereka yang nggak membaca buku self-help.

Anehnya bagi mereka yang kepercayaan dirinya sudah tinggi, mengulang-ulang kalimat positif seperti ini bis meningkatkan kepercayaan diri mereka, meski tidak signifikan. 

Justru saat para peserta yang berkepercayaan diri rendah diperbolehkan menuangkan pikiran negatif mereka bersamaan dengan pikiran positif, kepercayaan diri mereka meningkat lebih baik daripada saat pikiran negatif mereka dikekang.

Dari sini kita tahu bahwa terlalu banyak mendapatkan pujian dan kalimat motivasional juga efeknya nggak bagus buat diri kita. Karena saat kita dipaksa cuma fokus ke hal positif, pikiran negatif kita ditekan dan akibatnya malah nggak bagus juga.

6 CARA PILIH BUKU SELF-HELP

Meski membaca buku self-help ada efek buruknya, bukan berarti lo harus menghindari semua buku self-help, Civs.

Lo masih bisa kok baca buku self-help untuk meningkatkan kualitas diri dari waktu ke waktu. Asal lo pilih dengan lebih bijak. 

Begini caranya menurut Susan Krauss Whotbourne, Ph.D. di psychologytoday.com. Cara pertama, cek dulu latar belakang penulis bukunya. Disarankan pilih penulis-penulis yang emang punya pengalaman dan pengetahuan yang teruji di topik atau bidang yang dibahas dalam buku itu. Misalnya penulis dengan gelar doktor (S3) di bidang psikologi atau disiplin ilmu yang berkaitan akan lebih disarankan.

Cara kedua, cek tahun penerbitan buku itu. Karena pengetahuan berkembang, buku juga bisa kadaluarsa, Civs. Makin baru tahun rilisnya, makin direkomendasikan buat dibaca.

Cara ketiga, pandanglah buku sebagai terapis lo. Buku self-help yang ideal harusnya ditulis dengan prinsip terapi yang profesional. Jadi nulisnya nggak asal, Civs. Buku self-help yang baik membuat lo bisa relate dengan pembahasannya. Dengan demikian, lo paham juga isinya dengan mudah.

Cara keempat, utamakan kualitas penulisan bukunya. Hindari buku-buku self-help yang membahas hal-hal yang sudah jelas dan diketahui banyak orang. Misalnya, penulisnya menyatakan: “kalau kamu mau berubah lebih baik, kamu harus benar-benar berusaha keras” dan ini udah jelas. Googling juga sebelum beli buku self-help supaya tahu gaya penulisannya.

Cara kelima, putuskan apakah buku itu bisa membantu memotivasi lo. Pikirkan masak-masak apakah lo bisa mempercayai nasihat dan rekomendasi yang dicantumkan dalam buku itu. Ini lebih ke sisi psikologis sih. dengan kata lain, buat apa baca kalau kita dari awal udah skeptis, nggak percaya, atau meremehkan topik atau penulisnya.

Cara terakhir, jangan sungkan tetap berpikir kritis saat membaca. Jangan begitu aja telan mentah-mentah isi buku self-help. Kalau ada yang kurang cocok buat lo, ya nggak usah diterapin. Kalau isi bukunya nggak cocok buat lo, itu normal aja kok meski bukunya mungkin udah best seller atau penulisnya smart banget menurut lo. Tetaplah berpikir kritis saat membaca, Civs. (*/)

  • whatsapp
  • twitter
  • facebook
  • remix
Penulis

Akhlis

Editor in-chief website yang lagi lo baca