Potensi Diri

GROWTH MINDSET DI TWENTY FIVE TWENTY ONE

Rampungnya serial Twenty Five Twenty One masih hangat dibicarakan. Plot yang disajikan mengandung pesan yang dalam namun terkemas dalam kesan yang fresh sehingga digemari banyak orang. Berlatar pada tahun 1998 dimana krisis IMF terjadi di Korea, tidak membuat semangat Na Heedo surut untuk meraih mimpinya. Apa sih yang bisa kita pelajari dari optimisme Na Heedo? Simak artikel berikut!

title

FROYONION.COM - Drama korea yang belum lama tamat baru-baru ini, Twenty Five Twenty One mendapat banyak perhatian publik. Setiap episodenya yang ditayangkan melalui Netflix dan saluran televisi tvN selalu menjadi trending topic di Twitter. Twenty Five Twenty One atau yang biasa ditulis 2521, dibintangi oleh Kim Tae-ri sebagai Na Hee-do dan Nam Joohyuk sebagai Back Yi-jin. Teman-teman bisa menjumpai akting mereka di film Little Forest (Kim Taeri sebagai Hye-won) dan serial Netflix lain, Start Up (Nam Joo-hyuk sebagai Nam Do-san).

Drama ini mengisahkan tentang perjalanan meraih impian yang seolah mustahil terwujud pada era krisis IMF 1998. Disajikan dengan nuansa segar anak muda yang optimis menghadapi perubahan, 2521 tidak hanya mampu membagikan nilai persahabatan yang hangat namun juga proses tumbuh yang bermakna bagi pemirsanya.

Alur yang digunakan dalam 2521 adalah kilas balik. Alur ini dibuka dengan latar waktu masa kini yang menceritakan Kim Min-chae, putri Na Hee-do yang menyerah begitu saja pada sebuah kompetisi balet. Kim Min-chae berniat bertanding untuk mendapat juara satu. Namun, ketika melihat peserta lain Min-chae enggan melanjutkan kompetisi. Ia menyimpulkan bahwa dirinya tidak akan bisa menang karena penampilan peserta lain lebih baik dari dirinya. Menurut Min-chae, kesempatan itu percuma dan berakhir pada keputusannya untuk meninggalkan balet.

Pernah nggak sih kalian merasa berada di posisi seperti Min-chae, Civs

Kegagalan yang dirasakan oleh Min-chae juga pernah dialami oleh Hee-do yang berkeinginan menjadi seorang atlet anggar. Hee-do telah melewati banyak masa-masa sulit untuk meraih impiannya. Saat itu, kemampuan Hee-do dalam beranggar tidak diakui oleh orang lain, bahkan oleh Ibunya sendiri. Bedanya, Hee-do tidak serta-merta menyerah pada keadaan.

Keputusan seperti yang diambil oleh Min-chae pasti pernah dirasakan oleh orang lain ketika merasa gagal dan berakhir pesimis pada kemampuan diri sendiri. Sebagian lainnya bersikap gigih seperti Na Hee-do untuk mencapai tujuannya. 

Kira-kira apa sih yang mendasari perbedaan sikap ini?

Secara garis besar, kita bisa melihat perbedaan di cara pikir mereka dalam memandang tantangan terhadap kemampuan mereka. Perbedaan cara pikir ini dapat dijelaskan dengan fixed mindset dan growth mindset.

Fixed mindset artinya seseorang mempercayai bahwa kemampuan dan siapapun dirinya tidak akan berubah sekeras apapun mencoba. Dia beranggapan bahwa kemampuannya hanya sampai pada titik tertentu sehingga pada saat dia merasa kemampuannya buruk, dia pun akan terus berpikir demikian. Sebaliknya, growth mindset merupakan cara berpikir seseorang yang percaya bahwa kemampuan dapat berkembang dengan berusaha, berlatih, dan kegigihan. 

Perbedaan menonjol antara fixed mindset dan growth mindset yang dapat terlihat seperti scene di atas adalah pada cara melihat kesuksesan orang lain dan menyikapi kegagalan. Seseorang dengan growth mindset memandang kesuksesan orang lain sebagai sumber inspirasi. Kegagalan dianggap sebagai kemunduran sementara saja untuk bisa berproses lebih baik lagi. Ketika merasa gagal, seorang dengan growth mindset akan berpikir bahwa kegagalan tersebut disebabkan oleh kurangnya berusaha sehingga perlu ditingkatkan kembali. 

Seseorang dengan fixed mindset akan merasa terancam atau terintimidasi oleh kesuksesan orang lain dan kegagalan dianggap sesuatu hal yang sangat memalukan sehingga berusaha menutupinya agar tidak terlihat buruk. Fixed mindset cenderung menghindari tantangan untuk menghindari kesalahan. Ia mempercayai bahwa kegagalan merupakan bentuk ketidakmampuan. Bakat atau kecerdasan bukan dilihat sebagai hal yang bisa ditingkatkan, melainkan hal yang sudah ada secara alamiah yang menentukan siapa dirinya.

Carol S. Dweck seorang Profesor Psikologi dari Standford University yang pertama kali menyebutkan fixed dan growth mindset menyebutkan bahwa mindset mempengaruhi kebiasaan seseorang dan mendorong motivasi. Mindset ini mengatur tujuan, atribusi, dan ketidakberdayaan seseorang dalam sebuah kepercayaan yang dinamakan effort beliefs. Pada growth mindset akan menciptakan efek positif, yaitu mempercayai kerja keras akan meningkatkan kemampuan. 

Hal ini kontras dengan fixed mindset yang percaya bahwa kerja keras menggambarkan ketidakmampuan seseorang [1]. Lebih lanjut, Dweck mengatakan growth mindset mampu menstimulasi seseorang untuk belajar, terbuka kepada tantangan dan feedback dari orang lain, dan menyadari peran usaha dalam membangun kemampuan [2]. 

Growth mindset tidak hanya mempengaruhi perilaku seseorang namun juga menstimulasi perubahan struktural pada otak yang disebut neuroplasticity. Otak secara metafora serupa dengan ‘plastik’ yang dapat dibentuk kembali. Dalam TED Talks oleh Dr. Lara Boyd seorang peneliti otak dari University of British Columbia mengatakan bahwa otak secara fungsional dan struktural terbentuk berdasarkan apa yang kita lakukan. Tidak ada yang lebih efektif selain berlatih secara terbuka pada tantangan untuk membantu kita menguasai skill baru [3]. 

Kita balik lagi ke 2521 nih, Civs. Adegan atau perilaku mana sih menurut kalian yang paling berkesan menunjukkan perilaku growth mindset ini?

Kalau diingat-ingat lagi, scene favorit penulis sih saat Heedo bertingkah ‘banyak akal’ agar tidak terancam melepas mimpinya bisa beranggar lagi. Siapa sih yang nggak akan terhibur sama tingkah lucunya itu? Meski bertingkah impulsif, tindakannya tersebut membuktikan bahwa Heedo tidak mudah menyerah di tengah krisis yang melanda. Terlebih lagi mantan pelatihnya bahkan Ibunya sendiri tidak mendukungnya dan menganggap dirinya tidak berbakat. Heedo sadar bahwa kemampuannya memang merosot tapi pasti bisa diatasi.

Ada lagi nih yang menurut penulis nggak semua orang bisa kayak Heedo. Kita tau nih, dia dan Ko Yurim sempat punya hubungan yang kurang baik. Kendati demikian, Heedo tidak pernah dengki dengan kemampuan Yurim. Dia mampu mengobservasi kesuksesan Yurim secara objektif sehingga dapat dijadikan motivasi. Kenyataan yang tidak sesuai harapan saat masuk klub anggar bersama Yurim tidak membuat dirinya mundur akibat terintimidasi.

Memang sih kisah tersebut sepertinya mustahil, cuma ada di drama saja. Bisa nggak sih kita mengubah mindset? Apakah fixed mindset dapat diubah jadi growth mindet

Tentu bisa, dong. Jika seseorang ingin berubah, ya harus percaya dulu bahwa proses perubahan itu ada. Secara saintifik mindset bisa dirubah melalui kebiasaan atau usaha yang secara konsisten dilakukan. Growth mindset tidak hanya mempengaruhi perasaan seseorang namun juga mengatur pencapaian, kebiasaan, dan pengembangan skill baru. Dengan growth mindset, seseorang akan lebih merasa butuh tantangan, punya kapasitas recovery dari kesulitan yang cepat, dan menghasilkan outcome yang positif.  

Gimana sih cara menumbuhkan growth mindset? 

1. Menyadari bahwa secara saintifik seseorang bisa berkembang

Banyak mencoba pengalaman baru melalui tantangan bisa membuat seseorang menjadi lebih pandai. Effort leads to mastery. Ingat tentang neuroplasticity di atas? Usaha yang seseorang lakukan dapat memperkuat koneksi saraf pada otak. Selain itu, Civillions ingat nggak sih pelajaran saat SD yang menjelaskan ciri-ciri makhluk hidup? Yup! Tumbuh dan berkembang. Sudah menjadi kodrat alamiah bahwa seseorang bisa berkembang menjadi lebih baik.

2. Membuang fixed mindset dari dalam diri

Kurangi self-talk yang negatif. Sadari bahwa semua orang payah dalam hal baru. Untuk itu hindari menyalahkan diri sendiri.

3. Menghargai proses

Penelitian Profesor Dweck menunjukkan bahwa murid yang diberi pujian terhadap hasil yang dicapai cenderung memilih zona aman dan nggak mau ambil risiko. Ketika menghadapi kesulitan, mereka menjadi tidak percaya diri lagi. Nah, ketika usaha seseorang dihargai, maka dapat memberi sugesti agar lebih semangat dan enjoy saat berproses.

4. Menerima feedback

Gunakan feedback dari orang lain sebagai kesempatan untuk memperbaiki diri bukan suatu hal yang menggambarkan siapa diri kita.

5. Menerima kegagalan sebagai bagian dari proses

Sama seperti Heedo, sebelum menjadikan kegagalan sebagai titik balik, kegagalan perlu diterima dulu nih sebagai tanda kalau kemampuan memang merosot tapi hanya untuk sementara. Supaya bisa pulih kembali seseorang harus bangkit dan berusaha agar kemampuannya berkembang.

Nah, sekarang Civillions nggak perlu khawatir ketika menghadapi kegagalan. Wajar kok kalau merasa kecewa, tapi harus diingat bahwa kegagalan tersebut sama sekali tidak menentukan siapa diri kita. Mindset itu diibaratkan tools yang bisa kita gunakan saat kita butuhkan. Salah satunya adalah growth mindset yang cocok digunakan untuk membantu seseorang meraih kesuksesan dan memotivasi skills improvement. (*/)

  • whatsapp
  • twitter
  • facebook
  • remix
Penulis

Ulis

Nulis soalnya suka lupa