Potensi Diri

CARA MENYIMBANGKAN DISTRAKSI DAN KONSENTRASI

Distraksi dicap buruk oleh sebagian besar orang. Tapi belum tentu sebenernya, karena ternyata ada distraksi yang justru kita perlukan dalam hidup.

title

FROYONION.COM - Distraksi atau apa yang biasa kita sebut sebagai suatu hal yang mengalihkan perhatian atau fokus, akhir-akhir ini menjadi momok penting dalam kehidupan masyarakat. Pasalnya, pandemi yang sudah berjalan hampir dua tahun lamanya ini mengubah mekanisme dan pola hidup dari masyarakat banyak. Kemunculan opsi alternatif guna tetap menunjang aktivitas harian dan kehidupan sosial seperti belajar dari rumah (BDR), kuliah daring, hingga work from home (WFH) tak lepas dari satu masalah krusial, yakni distraksi.

Transformasi pola aktivitas yang baru memunculkan kecenderungan masyarakat untuk menjadi individu yang mudah terdistraksi. Hal ini diperparah dengan adanya pengaruh globalisasi di mana segalanya mudah untuk diakses dan hadir berbagai macam hiburan yang tak jarang menarik minat dari seseorang yang sedang fokus dengan suatu hal. 

Sebut saja seorang mahasiswa yang sedang mengikuti kelas pagi, tak jarang beberapa dari mereka mengikuti kelas sembari bermain-main dengan ponselnya. Bisa juga dapat dilihat pada anak-anak ketika sedang mengerjakan pekerjaan rumah dari sekolahnya, tak jarang hal tersebut dilakukan bersamaan dengan menonton video di YouTube atau bahkan sembari bermain game online. Orang dewasa juga tak luput dari pengaruh distraksi, terutama bagi mereka yang memiliki segudang pekerjaan rumah.

Hal ini tentu saja menjadi sebuah tantangan besar di era sekarang ini. Digitalisasi yang terjadi pada berbagai macam hal meskipun secara langsung mempermudah kehidupan, namun juga secara tidak langsung mengontrol kehidupan, terutama dalam aspek psikis. Rasa ingin tahu yang tinggi memicu munculnya distraksi, kemudian menyebabkan fenomena multitasking, dan pada akhirnya bermuara pada sulitnya pikiran untuk berkonsentrasi terhadap satu hal. Bahkan tak jarang, tugas, kegiatan, atau pekerjaan yang dilakukan selesai melebihi deadline atau malah lupa untuk diselesaikan.

Hal ini kemudian memunculkan berbagai pertanyaan, seperti ada apa sebenarnya di antara konsentrasi dan distraksi ini? Bagaimana cara menyeimbangkan keduanya? Apakah distraksi bisa dialihkan menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan?

CARA ATASI DISTRAKSI

Sebelum membahas mengenai cara mengatasi distraksi lebih jauh. Perlu dipahami bersama bahwasanya distraksi adalah pengalihan. Hal ini memiliki maksud bahwa distraksi muncul akibat dari rasa ingin tahu, rasa nyaman, dan rasa lelah. Tiga hal tersebut sangat berpengaruh dalam terjadinya suatu distraksi.

Maka dari itu, langkah pertama untuk mengatasi distraksi adalah dengan menjauhkan segala macam hal baik itu benda, kegiatan, maupun individu yang dapat memicu meningkatnya rasa ingin tahu kita terhadap hal tersebut ketika sedang melakukan suatu pekerjaan. Hal ini juga selaras dengan konsep “take one thing at a time” atau melakukan satu pekerjaan dalam satu waktu. Sebab, kemampuan untuk melakukan multitasking atau banyak pekerjaan dalam satu waktu merupakan sebuah anugerah dan tidak semua orang memiliki kemampuan itu, sehingga perlu digaris bawahi dua opsi di atas sebagai panduan untuk mengatasi distraksi.

Langkah kedua adalah dengan mengatur skala prioritas. Skala prioritas dapat membantu kita untuk memilah pekerjaan mana yang lebih mendesak, lebih berat bebannya, atau lebih penting sifatnya. Hal ini dapat mereduksi adanya distraksi dan meningkatkan konsentrasi kita untuk segera menyelesaikan suatu hal yang memiliki skala prioritas paling tinggi.

Langkah ketiga adalah take a break dan refreshing. Mengenali seberapa jauh kemampuan kita dalam mengerjakan suatu hal adalah sesuatu yang sangat baik. Sebut saja ketika kita sudah paham bahwasanya kemampuan prima diri kita dalam berkonsentrasi mengerjakan suatu hal hanya ada di pagi hari, atau misal tidak lebih dari 4 jam secara beruntun. Hal ini akan lebih menuntun kita untuk segera take a break atau berhenti sejenak. Kita dapat menjadikan hal seperti memejamkan mata, menonton satu episode serial Netflix kesayangan kita, atau sekadar mendengarkan musik dari musisi favorit menjadi sebuah distraksi yang positif.

UBAH DISTRAKSI JADI KONSENTRASI

Distraksi positif? Memang ada? Jawabannya ada, distraksi positif pertama kali diperkenalkan dalam dunia medis. Hal ini juga dapat dilihat di sekitar kita, ketika misal sedang melakukan perawatan gigi atau cabut gigi. Selain menggunakan bius, pasien perlu diberikan distraksi terutama bagi mereka yang masih anak-anak. Memberikan ponsel atau mainan kepada anak-anak ketika sedang melakukan cabut gigi dapat mempermudah dokter gigi untuk melakukan eksekusi. Si anak juga akan menjadi lebih tenang karena konsentrasi mereka berfokus pada ponsel atau mainan alih-alih terhadap apa yang sedang dilakukan oleh si dokter gigi.

Lebih jauh, pemanfaatan distraksi menjadi sebuah konsentrasi baru seperti pada kegiatan perawatan gigi maupun take a break dapat menjadi opsi atau perspektif lain dalam diskursus di masyarakat mengenai distraksi dan stigma yang melekat pada kata tersebut. Sebab, distraksi selalu dihinggapi dengan konotasi negatif yang berujung pada cara pandang yang monoton dan opini kurang solutif, seperti pemikiran sebatas pedoman untuk mengatasi distraksi saja alih-alih pemikiran untuk mengubah distraksi menjadi sesuatu yang positif.

Kita juga harus senantiasa menyeimbangkan distraksi dengan cara melakukan limitasi diri dan konsekuen terhadap skala prioritas. Jangan sampai kita terlena terhadap suatu distraksi positif yang kemudian malah mempengaruhi konsentrasi kita terhadap pekerjaan yang sedang dilakukan. Sebab, distraksi positif pada hakikatnya memang bukan merupakan skala prioritas utama. Hal ini hanya menjadi sebuah selingan untuk membantu kita menjadi seorang individu yang lebih fokus dan berkonsentrasi dalam suatu pekerjaan. (*/Photo credit: Nicolas Flor)

  • whatsapp
  • twitter
  • facebook
  • remix
Penulis

Haidar

Mahasiswa HI yang suka nulis, seni, musik, dan motor