Potensi Diri

CARA MEMBERI KEDOK BERKELAS KALAU DITANYA “KENAPA GAJI LO CUMA SEGITU?” 

Bukan maksud hati ingin ‘ngrasani’ para bapak-bapak, ibu-ibu, om-om, dan tante-tante sekalian yang suka menyapa kami di acara keluarga dengan kalimat, “Kerja di mana? Gaji berapa?”. Ini isi hati kami para lulusan ranum yang pertama kali ngerasain punya gaji, yang sebenernya, udah pengen meletus dari lama.

title

FROYONION.COM - Salah satu momen paling berat yang harus dilewati sama hampir semua anak fresh graduate adalah waktu ditanyain sama keluarga soal karier. 

Bagi kalian yang berpikir, “Hadeh, baru aja beres skripsian. Pengennya leha-leha, nonton, makan, bobo, eh malah diteror sama pertanyaan soal kerjaan,” kalian nggak sendiri. Termasuk gue pribadi juga ikut merasakan momen ngeselin ini.

Gue paham sih maksud orang-orang yang nanya gini itu sebenernya perhatian. Pengen tahu kabar kita kayak gimana, rencana kita, atau mungkin sebenernya pengen bantu cari kerjaan buat kita juga. 

Tapi nggak bisa dipungkiri kalau di dalam hati kita juga ngerasa tertekan sama pertanyaan-pertanyaan ini. Kayak ada tuntutan yang otomatis muncul untuk segera cari kerjaan dan bangun dari kebiasaan rebahan. Ada juga efek samping seperti tatapan-tatapan yang mengintimidasi yang bikin keringet dingin. Banyak deh efeknya, tergantung amal dan ibadah masing-masing. 

Tapi ternyata cobaannya nggak berhenti sampai di situ aja. Setelah dapet kerja, pertanyaan-pertanyaan maut ini ternyata nggak otomatis beres. Pasti pertanyaan yang tadinya bermula dari, “Udah lulus? Mau kerja di mana? Kapan? Udah daftar di mana aja?” akan beranak jadi, “Udah kerja? Gaji berapa? Dapet tunjangan nggak? Kalo bonusnya berapa?”. 

Hadeh…..

Izinkan gue kasih pesen untuk semua yang sedang mengalami momen-momen ini, omongan kayak gitu nggak akan pernah beres. Pasti akan ada beberapa orang yang selalu komen sama apa yang sedang kita jalani. Entah itu dari keluarga, teman, atau bisa juga orang yang baru kenal. 

Pertanyaan seperti tadi memang terkesan mengintimidasi, bikin tertekan, bahkan kadang juga bikin kita mikir kenapa orang-orang ini ribet banget sama kelanjutan hidup kita. Percayalah, sekuat apapun kita berusaha buat bikin mereka mingkem, komentar serupa bakal dateng lagi. 

Di dunia ini, satu-satunya orang yang bisa kita kendalikan adalah diri kita sendiri. Jadi mencoba mengendalikan orang lain, termasuk opini mereka terhadap kita, itu bisa dibilang mustahil. Untuk apa melakukan hal yang sudah pasti nggak berhasil, ya kan? 

Daripada musingin hal yang kurang berfaedah, lebih baik kita susun strategi buat menghadapi situasi nggak mengenakkan ini :)

Jadi di bawah ini gue akan bagiin tips buat kalian untuk bisa kasih kedok berkelas kalau suatu saat ditanya begitu lagi. 

SADARI KALAU SEMUA KESUKSESAN ITU ADA WAKTUNYA

Waktu ditanya-tanya soal kejelasan karier, nggak jarang mereka sering bawa-bawa faktor pembanding. Maksudnya sih biar kita sadar dan makin semangat, tapi jatuhnya juga bisa bikin kita merasa minder dan mempertanyakan kemampuan sendiri.

Misal ada yang ngebandingin pencapaian kita sama pencapaian anak tetangga sebelah atau anggota keluarga sendiri. Kalimat-kalimat sinetron kayak, “Tuh lihat si Budi anaknya Pak Eko. Seumuran sama kamu tapi udah jadi manajer di kantor. Kamu kapan?” pasti pernah lo denger. 

Kalau lo termasuk orang yang bodo amat sama pendapat mereka, gue akuin kalian hebat. Tapi saran ini mungkin akan bermanfaat buat kalian yang ter-trigger sama omongan mereka. 

Langkah pertama, sadari kalau sukses itu ada waktunya masing-masing. Dalam bukunya yang berjudul Psychology of Money, Morgan Housel berkata kalau gaya hidup itu berbanding lurus sama pemasukan kita. Sebagai analogi, lo yang saat ini masih sekolah atau kuliah mungkin masih sayang buat patungan Rp100.000 untuk kadoin temen. Tapi sebaliknya, buat lo yang udah kerja dan ngerasain punya gaji sendiri, cepek mungkin terasa lebih ringan. 

Ini bukan halu kok, tapi nyata dan manusiawi. Bagaimana kita memandang uang akan berubah seiring dengan berapa banyak uang yang kita punya. 

Tipsnya adalah jalani aja dengan apa yang lo punya saat ini. 

Justru keinginan untuk merasa lebih, entah punya lebih banyak uang, jabatan lebih tinggi, dan lain-lain, bakal bikin lo terjebak di lingkaran setan yang berjudul ‘Kalau dia bisa segitu, masa gue cuma segini aja?’. 

Mending kalau ada yang nanya ke lo kenapa gaji lo cuma ‘segitu’, segera blok semua pemikiran yang bakal bikin lo merasa lebih rendah dari orang-orang lain dari segi penghasilan. Kuncinya itu ya diri lo sendiri. 

Lagian, ‘segitu’ yang dimaksud mereka itu nggak pernah valid kok. Bisa aja gaji yang mereka anggep ‘kecil’ justru udah cukup untuk menghidupi kehidupan sehari-hari lo.

Misal sekarang lo bekerja di suatu perusahaan dengan gaji UMR. Kemudian ada yang komen, “Sayang dong punya gelar sarjana tapi gaji cuma UMR,”. Nggak mungkin dong lo langsung cubit mulut tu orang saking lemesnya (mungkin sih, tapi gue nggak merekomendasikan ya). 

Mending lo senyumin aja dan bilang, “Hehehe aku bersyukur masih bisa punya kerjaan di tengah pandemi yang nggak nentu gini. Lagian, gaji UMR yang lo bilang ‘cuma’ itu lebih dari cukup kok buat gua.”

Perkataan ini kemungkinan besar bakal bikin mereka diem, karena mereka sadar ekspektasi mereka udah terpatahkan dengan pemikiran lo yang jauh lebih dewasa dalam memandang gaji. 

Yang kemudian akan membawa kita ke tips yang kedua.

MILIKILAH RASA CUKUP

Perasaan cukup seringkali dilupain sama manusia. Emang dasarnya manusia selalu pengen lebih dan nggak akan pernah puas. Jadi mindset untuk berpikir bahwa apa yang kita punya itu mencukupi kebutuhan kita, seringkali sengaja dihindari. Bahkan dibilang pemikiran yang jelek karena dianggap bertentangan sama bekerja keras. Padahal ya enggak juga.

Punya rasa cukup akan semua hal akan membawa lo ke tahap kedewasaan yang jauh lebih damai dan tentram, terutama dalam memandang kekayaan. 

Kalau kata Morgan Housel, ‘cukup’ itu adalah momen disaat kita sadar bahwa hasrat untuk menginginkan sesuatu yang lebih bakal bikin kita menyesal. 

Menjalankan mindset untuk bersyukur akan apa yang kita punya bisa jadi bikin kita tersadar kalau sebenernya kita nggak kayak yang mereka omongin.

Ditanyain soal berapa gaji kita dan dibandingin sama orang lain bisa bikin mata kita ketutup sama kesuksesan orang lain. Kalau nggak diproses dengan benar, perasaan ini bisa mendorong kita untuk secara membabi buta pengen meraih apa yang belum kita miliki. 

Ini beda ya sama motivasi untuk terus berkembang. Kalau lo bekerja keras dengan motivasi mau nunjukin ke orang-orang kalau lo juga bisa sesukses mereka, pada akhirnya yang lo dapat bukan rasa puas dan bersyukur dengan semua pencapaian lo. Tapi justru rasa haus pengen mencapai yang lebih besar lagi. 

Ini juga erat hubungannya dengan apa yang dibilang Morgan Housel sebagai ‘perbandingan sosial’. Dalam bukunya, Housel menjelaskan kalau pasti masih ada orang sukses di atas orang yang paling sukses sekalipun. Kalau kata pepatah, masih ada langit di atas langit.

Misal waktu gaji kita UMR, kita ngebandingin sama temen kita yang gajinya 7 juta. Waktu gaji kita udah 7 juta, kita ngebandingin sama yang gajinya 10 juta. Begitu seterusnya sampai tanpa sadar saat kita punya penghasilan 1 miliar, kita ngebandingin sama yang punya duit 2 miliar. 

“Membandingkan gaji atau pemasukan itu nggak akan ada habisnya”

Housel mengibaratkan ini sebagai ‘perang’ yang nggak akan pernah selesai karena nggak akan pernah ketahuan siapa pemenangnya. Jadi caranya supaya nggak terjebak di ‘perang’ itu ya untuk sama sekali nggak terlibat dari awal.

Maksudnya, udah deh nggak usah ngebandingin diri sendiri sama orang lain. Intinya balik lagi, milikilah rasa cukup yang langka dimiliki sama orang lain. Hidupi aja apa yang ada di tangan lo saat ini. Dengan begitu lo akan bisa lebih santai saat dengerin omongan dan komentar orang soal gaji lo yang ‘cuma segitu’. 

NGGAK BERARTI LO NGGAK USAHA SAMA SEKALI

Semua yang sudah gue sampaikan lewat pemikiran dan opini Morgan Housel tadi bisa salah kaprah kalau lo menerimanya dengan wadah yang udah kecampur pemikiran lain. 

Apa yang pengen disampaikan Housel adalah bukan berarti cita-cita jadi orang kaya itu salah. Justru dia pengen bilang kalau orang yang beneran kaya itu justru nggak mengejar jumlah duit yang dia punya doang. 

Kalau lo tertarik buat baca bukunya, lo bakal nemuin banyak banget edukasi tentang investasi, menabung, dan cara ngatur duit supaya lo jadi kaya. Itu semua disampaikan dengan cara yang mudah dimengerti kok. Housel pengen sampein kalau berinvestasi lewat saham, reksadana, atau bahkan nabung aja, itu nggak bertentangan dengan tiga poin di atas. 

Karena gini, sadar kalau semua kesuksesan ada waktunya, punya rasa cukup, dan nggak membandingkan gaji kita dengan orang lain, bakal bikin kita punya pandangan sehat soal uang. Dari buku yang dia tulis, Housel berharap orang akan lebih mengerti arti pepatah ‘Uang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang’. Kalau lo hidup di dunia pasti lo butuh uang, tapi Housel pengen kita ngeliat uang sebagai sarana aja, nggak lebih. Jangan sampai memandang uang itu segala-galanya. 

Ada satu hal yang menurut gue indah banget tentang cara Housel menyampaikan apa yang lebih berharga daripada uang: kemampuan untuk mengendalikan waktu yang kita punya. 

Orang kaya itu adalah orang yang punya kebebasan untuk ngatur waktu yang dia punya. Jadi kalau lo merasa masih bisa nentuin secara mandiri kapan harus kerja, main, belanja, jalan-jalan, pacaran, dan sebagainya, lo udah termasuk orang kaya versi Housel loh. 

Jadi nggak perlu minder dan takut lagi kalau ada yang komen kenapa gaji lo cuma sekian, bilang kalau gelar sarjana lo nggak guna, atau ngebandingin lo sama orang lain. Karena sekali lagi, lo nggak bisa ngendaliin omongan dan opini orang. Jadilah definisi sukses buat diri lo sendiri. Selama lo mengerjakan sesuatu yang halal, nggak jadi kriminal, nggak ngerugiin orang, dan syukur-syukur masih bisa beramal, nggak ada yang salah dengan gaji ‘segitu doang’ yang lo punya. (*/Grace)

  • whatsapp
  • twitter
  • facebook
  • remix
Penulis

Grace Angel

Tukang nulisnya Bang Roy dan supplier permen kantor