Potensi Diri

5 TIPE KLIEN YANG HARUS LO WASPADAI SAAT MENJADI FREELANCER

Jadi seorang freelancer, emang banyak suka dan dukanya. Tapi biar karir lo makin melejit dan terselamatkan dari klien yang toxic, simak dahulu 5 tipe klien yang harus lo waspadai saat menjadi freelancer!

title

FROYONION.COMAnggapan kalau kerja jadi seorang freelancer itu ada enak dan nggak enaknya emang benar ya, Civs? Ketika lo dapet klien kooperatif dan puas dengan hasil karya lo, pasti suatu saat nanti lo akan dapet tipe klien yang ngeselin; pengennya sat-set-sat-set, revisi terus, ujung-ujungnya dibayar terima kasih. Mengsedih, deh!

Bukan cuma pikiran dan energi lo yang terkuras banyak sama tipe klien yang toxic ini, tapi khawatirnya juga berpengaruh dengan performa pekerjaan yang menurun dan berimbas pula terhadap reputasi jasa yang lo tekuni. Pasti lo nggak mau kan terbebani terus sama klien kayak gini, Civs?

Berdasarkan pengalaman suka dan duka gue jadi freelancer, gue juga sering nemu tipe klien kayak gini. Ya walaupun nasib baiknya lebih banyak ketemu klien yang cocok dibanding klien toxic, sih. Tapi dari sini gue belajar kalau sifat dan karakter klien itu beda-beda dan gue pengen sharing ke lo tentang tipe-tipe klien yang harus lo waspadai, Civs!

1. Klien yang sering hilang

Tipe klien yang satu ini emang terkadang bikin kita gedeg dan harap-harap cemas ya, Civs? Gimana, nggak! Ibarat lo udah selesai mengerjakan salah satu dari sekian proyek yang lo terima, eh tapi dia malah menghilang begitu aja, padahal lo udah mengerahkan segenap jiwa raga untuk hasil proyek yang sempurna.

Ciri-ciri yang bisa lo waspadai terkait tipe klien yang satu ini adalah ketika lo chat via email atau aplikasi kirim pesan, dia jadi slow respond. Jangan harap centang dua, dibaca aja kagak! Jiakhhh. Awal-awal sih dia responsif yah, tapi lama kelamaan dia menghilang sepenuhnya. Apalagi kalau ditanyain soal pembayaran, duh jawabannya bikin kita ketar-ketir, akhirnya malah lo di-rejected tiba-tiba.

Nah, sebelum lo terjerumus dengan lingkaran tipe klien yang punya hobi nge-ghosting, pastikan lo melakukan perjanjian proyek dengan klien dan lo harus lebih jeli memperhatikan kebiasaan ketika dia merespons pesan atau email lo selama diskusi. Kalau respon dia kelamaan, udah deh jangan disetujui, baiknya sih tinggalin aja. Rejeki mah nggak kemana-mana, Civs!

2. Klien yang nggak pernah puas

Menjadi seorang freelancer juga wajib hukumnya menerima saran dan masukan dari klien. Hal itu dilakukan supaya pekerjaan lo sesuai dengan ekspektasi dia. Tapi kalau ujung-ujungnya dia malah ngerasa terus nggak puas sama hasil proyek yang lo kerjakan, lo hati-hati deh sama tipe klien yang satu ini. 

Poin pentingnya nih, kalau si klien minta lo harus revisi satu kali sih nggak apa-apa. Tapi kalau dia minta revisi terus menerus sampai lo bingung dan ingin rasanya berkata dalam hati, “sebenernya gue salah apa, sih?” Suer, deh! Ciri-ciri tersebut udah jadi red flag alias cenderung nggak baik buat lo tekuni proyek yang dia tawarkan.

Tips dari gue, lo bisa bilang ke dia dan menegaskan tentang berapa banyak revisi yang sanggup lo lakukan. Apakah dalam 1x revisi dianggap gratis atau tiap revisi ke-2 dan seterusnya akan dikenakan biaya tambahan. Hal ini juga sangat-sangat disarankan untuk tercantum dalam surat perjanjian antara calon klien. Tapi, kalau dia masih nggak puas, buru-buru lo dapatkan pembayaran dan abaikan klien satu ini.

3. Klien yang sok tahu

Oh ya, Civs. Setelah ketemu sama klien yang nggak pernah puas, anyway, lo udah pernah, belum? Ketemu sama tipe klien menyebalkan lainnya yang punya sifat sok tahu? Bukannya lo nggak menghargai saran atau wawasan yang dia bicarakan, tapi seringkali yang dia pikirkan itu nggak sesuai sama faktanya. Pasti bikin lo julid dalam hati, kan?

Lebih ngenesnya lagi, andaikata lo sebagai freelancer profesional yang punya pengalaman dan latarbelakang yang sesuai dan lo rasa ingin ngebantu dia mendapatkan hasil yang terbaik, eh ide lo malah ditolak dengan alasan dia yang paling paham soal permasalahan di bidang yang lo tekuni juga. Akhirnya memicu argumen yang cenderung nggak sehat!

Daripada membuang waktu, energi dan bikin lo makin nggak tenang. Gue sarankan lo lebih baik mengalah dari tipe klien ini. Tapi kalau lo lihat dia menunjukkan gelagat dan perilaku yang nggak baik, buru-buru deh lo hindari dan tinggalkan dia dengan cara baik-baik, biar reputasi lo sebagai freelancer juga tetap terjaga. Don’t take it personally, Civs!

4. Klien yang bingung maunya apa

Tipe klien ini ciri-cirinya sih fast-respond dalam membalas pesan yang lo kirim. Dia juga berani menawarkan lo proyek yang bisa dibilang level ke atas lah, tentunya dengan tarif yang bikin lo berbunga-bunga. Dia pun sopan dan ramah sama lo, tapi kalau si klien bingung goals apa yang dicapai dari suatu proyek, ya nantinya juga bikin lo makin sulit nurutin apa yang si klien mau.

Sebab, tahukah lo, Civs? Mencari klien yang benar-benar paham tentang output atau hasil target yang diinginkan dalam sebuah proyek itu lebih penting dibanding bisanya cuma iming-iming proyek berkelas dengan pembayaran yang tinggi. Itu semua semata-mata biar reputasi lo sebagai freelancer juga dipandang profesional dan nggak terima gitu aja sebuah tawaran proyek.

Dilansir dari TheMuse pada Selasa, 11 Mei 2022, gue dapat fakta untuk menghindari tipe klien yang bingung mau apa, lebih baik lo diskusikan soal proyek yang akan lo jalani sedetail mungkin sebelum lo melakukan persetujuan dengan calon klien. Nah, coba lo perhatikan saat proses ini, apakah dia benar-benar mengetahui keinginannya dengan baik atau nggak. Kalau ternyata meragukan, ya jangan dilanjutkan ke tahap berikutnya, Civs!

5. Klien yang plin-plan

Hmm, tipe klien yang sering berubah pikiran alias plin-plan emang mirip banget dengan tipe klien yang nggak pernah puas. Dia sering banget gonta-ganti hasil yang sebenarnya udah lo setujui dan disepakati, walhasil akibat kebiasaannya ini bikin lo capek, bingung dan berujung kekesalan yang nggak ada habisnya, deh!

Pantas juga kalau gue rasa tipe yang satu ini adalah salah satu yang lo betul-betul hindari sebagai freelancer yang bermartabat dan profesional. Gue juga yakin dalam mengidentifikasi si dia yang sering plin-plan emang bikin lo sedikit sulit ngambil keputusan. Tapi nggak ada salahnya, satu langkah yang bisa lo ambil adalah melihat profilnya di platform freelance.

Dalam platform itu, lo lihat deh, gimana sih respon atau kesan para freelancer yang pernah bekerjasama dengan dia. Apakah dia menerima respons yang baik, atau justru dihujani berbagai respon buruk karena tingkahnya yang seringkali plin-plan? Gue juga saranin ke lo untuk menegaskan kembali keinginan apa yang ingin dicapai. Kalau ternyata masih plin-plan? Segera urungkan niat lo untuk berkolaborasi dengannya!

Akhrinya, itulah 5 tipe klien yang harus lo waspadai saat menjadi freelancer. Ternyata dunia freelancer, nggak selamanya indah, ya Civs? Asalkan lo paham, terus belajar dan jeli melihat sifat maupun karakter klien, gue jamin lo nggak pernah gagal menjadi seorang freelancer!

Jadi, tipe klien seperti apa nih yang relate dengan kehidupan lo, Civs? (*/)

BACA JUGA: ALASAN FREELANCE DESIGNERS KADANG PERLU TOLAK PEKERJAAN

  • whatsapp
  • twitter
  • facebook
  • remix
Penulis

Lukman Hakim

Penulis lepas yang menuangkan ide secara bebas tapi tetap berasas