Pop

THE BATMAN: UBAH PEMBALASAN JADI HARAPAN

Film The Batman dibuka dengan tampilan kota Gotham yang kumuh, gelap dan diguyur hujan. Iringan lagu Something In The Way dari Nirvana, memperkuat kesan muram itu. Dalam kegelapan itu kejahatan bangun, seolah inilah saatnya mereka bekerja. Pun sosok yang menyebut dirinya sebagai "pembalasan".

title

Bagi penggemar Batman, pasti hafal betul soal sorot lampu berwujud kelelawar di langit mendung kota Gotham. Lampu sorot itu merupakan panggilan untuk sang manusia kelelawar. Panggilan yang menyatakan bahwa kota itu membutuhkannya. Di film ini sendiri, sorot lampu itu menghadirkan ketakutan bagi para penjahat kota Gotham.  Adegan di mana para penjahat menatap kegelapan dengan mimiek wajah ketakutan, menunjukkan betapa angkernya reputasi Batman.

Di tengah kekacauan itu, kota Gotham digemparkan dengan kematian walikotanya, Mitchell. Mitchell ditemukan meninggal di ruang kerjanya. Seorang penyusup bertopeng telah menghantam kepalanya. Jasad sang walikota ditemukan duduk di kursi dengan jempol yang dimutilasi dan kepala yang dibungkus lakban lengkap dengan tulisan dari darahnya: "No more lies."

Tak hanya itu saja. Si pembunuh juga meninggalkan beberapa teka-teki dan pesan yang ditujukan untuk Batman. Pesan itu dimaksudkan untuk memberitahu Batman siapa target selanjutnya, juga identitas pelaku sebenarnya.

Satu demi satu teka-teki terungkap. Penyelidikan Batman membawanya untuk mengungkap sisi gelap kota Gotham yang ternyata dipenuhi dengan korupsi, perdagangan narkoba, dan mafia.

PEREBUTAN DANA BANTUAN

Sebelum meninggal, Thomas Wayne, ayah dari Batman, menghibahkan sejumlah dana bernilai fantastis guna memperbaiki kebobrokan kota Gotham. Para pejabat korup, dari pihak pemerintahan dan kepolisian bahkan pengadilan negeri, berebut untuk mengambil alih dana tersebut. Dana itu akan membantu mereka menguasai kota Gotham sepenuhnya dari dalam. Dan inilah pusat konflik sebenarnya film ini.

Kematian sang walikota yang amat ganjil, membuat Batman dan komisaris Gordon, curiga bahwa pembunuhan itu disebabkan perebutan dana tersebut. Beberapa pejabat mungkin terlibat, pikir mereka.

Namun ternyata dalang pembunuhan itu tidak berasal dari kalangan pejabat, melainkan seseorang yang menyebut dirinya The Riddler (Paul Dano).

The Riddler yang kerap meninggalkan teka-tekinya untuk Batman di setiap aksi pembunuhannya, menganggap Batman sebagai rekan seperjuangan. Bedanya yang satu lebih suka (percaya) memperbaiki; yang lainnya, lebih suka memusnahkan.

Ini mengingatkan kita pada plot cerita The Dark Knight milik Christopher Nolan. Kala Batman dan Joker bertemu, perang ideologi pun terjadi. Kemenangan didapat ketika salah satu pihak mengikuti ideologi pihak lainnya.

Sayangnya, konflik film ini tak meruncing ke situ. Film ini lebih berfokus pada aksi Batman menjadi detektif yang melakukan penyelidikan. Lewat penyelidikan-penyelidikan itu ia menyibak sisi tergelap kota Gotham juga, bisa dibilang, jati dirinya. 

Film ini sendiri, dengan aksi pengungkapan misterinya, lebih mirip film "Se7en" milik David Fincher ketimbang mirip "The Dark Knight".

Kemiripan ini tampak dari segi plot, di mana ada seorang pembunuh misterius yang beraksi dengan pola tertentu dan gemar meninggalkan pesan pada jasad korbannya. Pesan tersebut ia jadikan sarana untuk berdialog, menyampaikan ide-ide juga barangkali keresahannya. Si pelaku terungkap begitu saja di menjelang akhir cerita. Namun orang yang berhadapan dengannya, akan mengalami perubahan secara psikologis. Karakter utama di awal film akan menjadi orang yang berbeda di akhir film.

The Batman memiliki semua kemiripan itu. Pembunuh misterius, pesan si pembunuh, juga perubahan karakter sang tokoh utama. Lengkap sudah. Maka dari itu tak aneh rasanya jika menyebut film ini sebagai film seorang detektif bertopeng, ketimbang menyebutnya sebagai film superhero--atau antihero tepatnya.

Ini jugalah alasan kenapa karakter Batman di film ini berbeda dengan film-film Batman sebelumnya.

BATMAN YANG BERBEDA DAN BANYAKNYA KARAKTER IKONIK

Batman versi Robert Pattinson ini masih bergelut dengan trauma masa kecilnya, sama seperti Batman lainnya. Memang di sini tak diperlihatkan adegan memorable ketika kedua orang tua Bruce Wayne tewas di tangan pencopet. Matt Reeves, selaku sutradara, rasanya tahu bahwa film ini bakal ditonton oleh para penggemar Batman. Dan karenanya, adegan itu tak perlu ditampilkan lagi.

Sebagai gantinya, Matt Reeves, menampilkan adegan di saat Batman menatap dengan sedih dan lama ke anak sang walikota yang barusan tewas terbunuh. Adegan itu ditampilkan lagi lewat rekaman ulang sewaktu Bruce berusaha memecahkan sandi yang ditinggalkan sang pelaku. Juga di gereja saat ia menghadiri pemakaman sang walikota. 

Trauma itulah yang mengingatkannya, apa tujuan ia menjadi Batman. Tidak lain hanya untuk melanjutkan perjuangan ayahnya. Yaitu, untuk memperbaiki kota Gotham agar tak ada anak lainnya yang mengalami nasib serupa.

Namun trauma itu juga menjadikannya sebagai Batman dengan emosi yang meledak-ledak. Seolah ia betulan ingin mewujudkan dirinya sebagai pembalasan. Maka tak heran, kalau Batman di film ini sering lepas kendali saat berkelahi. Satu hal yang menurut saya patut disyukuri sebagai penonton, karena itu artinya kita betul-betul dimanjakan dengan adegan perkelahian yang lebih lepas, bahkan cenderung brutal.

Penggambaran karakter ini membuat Batman versi Pattinson terlihat lebih manusiawi--dan juga emo. (Seorang kritikus film bahkan berkelakar kalau Batman versi Pattinson bisa saja membintangi video klip dari band My Chemical Romance.) Ini berbeda dengan Batman sebelumnya, misal versi Christian Bale dan Ben Affleck, yang seolah punya dua wajah. Satu sebagai orang kaya yang eksentrik dan flamboyan; juga satu wajah lainnya kala mereka bertopeng manusia kelelawar.

Batman versi Pattinson hanya punya satu wajah. Saat menjadi Bruce maupun Batman, ia tetaplah pemuda penyendiri dan pemurung, dengan trauma masa kecil di dalam kepalanya, dan emosi yang tak stabil.

Teknologi yang digunakan Batman pun masih di tahap wajar, tak terlalu high tech. Matt Reeves seolah ingin mengoreksi karakter Batman yang luput dari perhatian para pendahulunya, dengan menambahkan detail-detail mikro ke dalam karakternya. Di film ini Batman menjadi sosok yang terjangkau dan membumi, bukan lagi sebagai superhero yang tak dapat ditaklukan.

Detail-detail itu hadir, misalnya, ketika Batman yang takut pada ketinggian saat hendak melompat dari puncak gedung. Lucu, bukan? Juga hadir ketika Batman yang terlihat rapuh dan kelelahan dan sesekali kesakitan saat bertarung satu lawan banyak.

Mesti diakui Matt Reeves berhasil menghadirkan sosok Batman yang beda, muda, dan berbahaya. Dan memang itulah tujuan film berdurasi hampir tiga jam ini. Yaitu, untuk memperkaya karakterisasi Batman itu sendiri demi menyongsong sekuel-sekuel berikutnya--Matt Reeves mengkonfirmasi bahwa The Batman bakal jadi trilogi.

Film ini semakin menarik dengan hadirnya beberapa karakter ikonik dari komiknya. Tak hanya The Riddler sebagai villain di sini, melainkan juga Falcone dan Penguin.

Hadirnya Catwoman, atau Kyle Silena, juga menambah warna di film ini. Catwoman hadir sebagai gadis yang juga punya trauma masa kecil, yang siap menghancurkan siapa pun yang merenggut orang tercintanya. Tak seperti Batman yang percaya segalanya masih dapat diperbaiki ketimbang dimusnahkan.

Naif? Memang. Dan inilah ciri khas dari superhero kesayangan DC tersebut. Kenaifannya abadi. Di saat yang lain menyerah dan muak--seperti The Riddler, misal--dengan bobroknya moral kota Gotham, Batman menjadi satu-satunya yang tetap optimis semua dapat diperbaiki. Ia juga memegang prinsip yang sama, bahwa di setiap aksinya ia tak akan membunuh pelakunya dan membiarkan hukum yang mengadili.

KELEMAHAN FILM BATMAN

Yang patut disayangkan dari film ini adalah ceritanya yang kelewat berat. Anda yang biasa menonton film-film Marvel yang kaya dengan aksi seru, sudah pasti bakal mengantuk menonton film ini. Film ini terkesan penuh sekaligus lambat. Hal ini dikarenakan ceritanya yang berlapis-lapis. Menontonnya seperti menonton dua film dengan plot berbeda yang coba digabungkan dalam satu film.

Tampak sekali Matt Reeves  berusaha menghadirkan cerita yang kompleks. Usaha ini tak sepenuhnya berhasil, tapi tak bisa dibilang gagal juga. Kenapa begitu?

Seperti yang saya katakan sebelumnya, film ini mendefinisikan citranya sebagai film detektif ketimbang superhero. Namun aksi Batman dalam menyikap satu demi satu teka-teki terasa kurang gereget. Batman kerap tertinggal satu-dua langkah dari The Riddler. Ia kerap keteteran menghadapi teka-teki sang villain. Bahkan di beberapa scene, ia butuh diberi clue lebih dulu oleh orang-orang di sekitarnya untuk memecahkan teka-teki itu.

Sebagai sebuah film yang utuh, film ini punya masalah dalam menentukan fokus ceritanya. Cerita di film ini kerap berpindah dari aksi The Riddler ke rahasia kelam kota Gotham yang penuh dengan pejabat korup dan perdagangan narkoba, begitu seterusnya. Hal ini membuat fokus penonton jadi terpecah. Melewatkan satu scene saja, bisa membuat anda bingung.

Terlebih lagi aksi blusukan Batman di sisi tergelap kota Gotham, cenderung tak membawanya ke mana-mana bahkan ia tak mengenal para pejabat korup yang berada di kelab rahasia itu. Ia hanya sekadar tahu ada tindak korupsi besar-besaran di Gotham, tanpa tahu mesti ngapain. Aksi blusukannya tersebut bahkan tidak mengantarkannya ke penyingkapan identitas si pelaku pembunuhan. The Riddler tetap menjadi misteri dan baru terungkap di menjelang akhir film dengan cara yaa … begitu saja. Dan lebih sialnya, The Riddler ternyata bukan siapa-siapa. Ia hanya publik biasa yang muak dengan pejabat korup kota Gotham.

Hal ini mengakibatkan narasi soal pejabat korup seakan terpisah dengan narasi Batman yang berusaha membongkar teka-teki The Riddler. Sehabis menontonnya, anda mungkin bakal bertanya-tanya, terus ngapain yaa Batman repot-repot menyusup ke kelab milik Penguin? Bahkan rasanya teka-teki Riddler tetap bakal terkuak tanpa perlu Batman berurusan dengan Penguin juga Falcone.

Narasi soal terbongkarnya pejabat korup rasanya lebih cocok untuk motif The Riddler. Di sini, ia lebih banyak tahu soal itu ketimbang Bruce Wayne yang punya akses untuk berurusan dengan mereka. Aneh sekali, memang. Padahal judul film ini adalah The Batman, bukannya The Riddler. Tapi kenapa The Riddler terlihat lebih banyak tahu, hingga tak memberi kesempatan sang manusia kelelawar untuk menyentuhnya. Nyaris pun tidak. 

Tak mengherankan Batman di film ini banyak mengalami "kegagalan". Ia gagal menyelamatkan teman Kyle. Ia juga gagal menebak teka-teki The Riddler tepat pada waktunya. Ia juga gagal mencegah Alfred celaka. Ia juga gagal mencegah kota Gotham dari bencana bikinan The Riddler. Bahkan rasanya ia tak mampu berbuat apa pun untuk menindak para pejabat korup juga para mafia--sesuatu yang familiar di negara kita. Dan semua kegagalan itu membuat Batman di film ini terlihat amatir, baik sebagai detektif maupun sebagai superhero.

Tapi jika mengingat timeline di film ini adalah dua tahun pertama saat Batman mulai beraksi, kegagalan-kegagalan itu patut dimaklumi. Terlebih lagi film ini memang bertujuan memperkaya karakter Batman itu sendiri. Oleh karenanya layak untuk dimaafkan.

Saya sendiri menebak, alasan Riddler menggiring Batman untuk "mengenal" para pejabat korup dan para mafia kota Gotham, guna memberitahunya bahwa kota itu tak bisa diperbaiki lagi. Mungkin juga Riddler secara tak langsung berpesan, bahwa penyebab nembusuknya kota itu adalah para pejabat korup itu, bukannya perampok minimarket maupun preman stasiun. Jika benar begitu, ini bakal menjadi kritik yang menusuk bagi jagoan kita ini.

Meski dengan kekurangan itu, harus diakui visual film ini benar-benar megah. Pujian layak diberikan pada Greig Fraser. Ia berhasil menghadirkan gambaran kota Gotham yang kelam namun masih enak dilihat. Shot ketika Batman mendatangi mobil Penguin yang tengah terbalik, juga saat Batman memimpin warga Gotham keluar dari reruntuhan dengan memegang suar, akan menjadi gambar yang akan terus melekat di kepala.

Scoring dari Michael Giacchino juga layak diacungi jempol. Berkat ia, adegan-adegan menegangkan di film ini jadi semakin hidup.

*
Di penghujung tulisan ini, saya ingin membahas ending film ini. Seperti yang bisa kita duga, The Riddler berhasil dilumpuhkan. Batman berhasil menyelamatkan warga Gotham dari reruntuhan, dan menaikkan mereka ke atap gedung. Catwoman mengucapkan salam perpisahan. Kemudian lagu Something In The Way kembali diputar. Lagu itu cukup mewakili jagoan kita ini. Di saat yang lain ragu akan adanya harapan untuk kota Gotham yang bobrok, ia justru memercayainya. Bahkan ia menjadi simbol harapan itu sendiri, mengubah citra dirinya sebelumnya yang tampil sebagai pembalasan. (*/)

  • whatsapp
  • twitter
  • facebook
  • remix
Penulis

Shofyan Kurniawan

Shofyan Kurniawan. Arek Suroboyo. Penggemar filmnya Quentin Tarantino. Bisa dihubungi di IG: @shofyankurniawan