Pop

PRUE RANDY: TERKADANG PUNK ROCK TERKADANG HIP HOP

"Anyway, malaikat Munkar Nakir nggak bakal nanyain aku apakah punk rock atau hip hop," katanya.

title

FROYONION.COM - Sekitar lima bulan lalu, seorang istri membagikan ke Facebook foto kenangannya bersama suami di depan sebuah gedung di Tegal. Itu foto 15 tahun lalu, dan yang menarik perhatian saya dari foto itu—dan menarik perhatian beberapa teman lainnya juga yang melihatnya—adalah pakaian si suami.

Dia mengenakan celana komprang atau baggy pants khas seorang musisi hip hop di era 90-an, dengan kemeja yang tampaknya agak kebesaran. Salah satu teman kami menulis komentar: "Rapper apa punk."

Tentu saja komentar itu bercanda, yang maksudnya adalah "kamu ini rapper apa punk?"

Di skena musik underground di kota kami di Tegal—dan mungkin di beberapa kota lainnya juga, menurut pengamatan saya, bahwa citra dari si suami ini adalah seorang punk rock. Dan dia memiliki sebuah band punk rock bernama Fat Randy. Konon band itu terbentuk tahun 1997, ketika usia dia kurang lebih 15 tahun.

Di tahun 1998, mengutip soundcloud, band ini pernah mengeluarkan sebuah album dalam bentuk cassette dengan judul Proud to Proud dan berisi 10 track punk rock dengan kualitas rendahan. Album itu hanya tersebar sekitar 10 copy dengan hand made sleeve cover sampai akhirnya mastering dari album itu rusak.

Di tahun 2000, band ini juga ikut dalam sebuah project kompilasi dengan beberapa band punk rock dari Jogja seperti Bandit 66 dan Dewan Jendral. Di Jogja album dalam bentuk cassette itu terjual sekitar 200 copy lebih.

Tujuh tahun kemudian–mengutip Whuzzup Magazine, yaitu tahun 2017 dan bertepatan dengan perayaan Record Store Day, Fat Randy merilis dua album sekaligus: yang satu adalah album penuh berjudul Resurrection dan berisi delapan lagu, yang satunya lagi adalah mini album dengan judul Rice for Life dan berisi tiga lagu. Kedua album tersebut dicetak dalam format CD sederhana.

Dalam full album Resurrection, Fat Randy berbicara tentang sosial politik dan kehidupan sehari-hari. Sedangkan dalam mini album Rice for Life, mereka mengambil benang merah tentang darurat agraria yang terjadi di berbagai daerah seperti di pegunungan Kendeng Jawa Tengah, perusakan lahan di lereng gunung Slamet, dan pendudukan lahan di Kulonprogo serta daerah lainnya. Kegelisahan ini menjadi urat utama dalam tiga lagu yang mereka dokumentasikan di album ini.

Kedua album yang ditangani oleh Whuzzup Record sebagai perpanjangan tangan Whuzzup Magazine ini menjadi album yang setidaknya menandai band punk rock Fat Randy yang memulai debutnya di tahun 1997.

Sekarang Fat Randy usianya 25 tahun. Di tahun 2022 ini, sebagai bentuk monumental perjalananan 25 tahun, mereka mencoba merilis mini album bertajuk Re-erection yang berisi single baru berjudul This is My Life dan ditambah dua materi lama dari EP Rice for Live, yaitu Go Away dan My Religion, yang dirilis secara spesial untuk event Record Store Day Tegal 2017.

Sekarang kita kembali dulu sebentar di tahun 2000-an. Di tahun itu, dari tulisan di sebuah blog yang saya baca (nama blognya Balkot Music Division), dia tampaknya pernah membuat sebuah band hip hop rockabilly dan diberi nama Tritomani, sebuah band yang konon akhirnya menelurkan sebuah album di bawah bendera Pulp Music Malaysia.

Lalu di tahun 2021 ada Nagabagja, sebuah kolektif hip hop yang dia bikin. Setelah merilis mini albumnya secara digital melalui bantuan Irama Record Semarang pada 30 April 2021, Nagabagja merilis versi fisiknya dalam bentuk Compact Disc.

Dengan uraian ini kita bisa mengatakan bahwa dia berpindah-pindah dari punk rock ke hip hop atau sebaliknya. Dia hanya bertindak bebas saja dalam melakukan sesuatu yang ingin dia lakukan. Ada ritme seperti ini di dalam dirinya: terkadang punk rock, terkadang hip hop.

Kita bisa mengatakan tidak ada definisi yang pasti tentang siapa dia. 

Juga, kita bisa mengatakan bahwa kita bukan orang yang sama dengan diri kita yang kemarin. Kita bisa berpikir dengan cara seperti ini: "Biarkan kita didorong oleh batin kita kepada sesuatu yang kita pilih untuk menjadi apa kita di saat ini, lalu kepada sesuatu yang kita pilih untuk menjadi apa lagi pada saat berikutnya."

Mungkin itulah yang dilakukan si Prue Randy ini, seorang suami yang saya ceritakan di awal tulisan.

Dan dia juga bilang bahwa dia nggak pernah mikirin apakah dia seorang punk rocker atau hip hop heads sekalipun. Yang dia tahu musik adalah sebuat alat, atau sebuah media yang bisa digunakan untuk menyuarakan ide-idenya.

"Tentu saja ada benang merah utama yang ingin aku sampaikan," katanya. "Dan itu adalah kegelisahan genuine yang ada padaku secara personal. Selain itu, yang paling utama dari ide-ide yang aku sampaikan adalah tentang pembangkangan atau pemberontakan."

Dan "anyway," katanya dalam mengomentari postingan saya di Instagram tentang mini album dari Nagabagja, "malaikat Munkar Nakir nggak bakal nanyain aku apakah punk rock atau hip hop."

Sebagai penutup: musik apa pun yang kita buat, adalah penting membuatnya tersedia untuk didengarkan orang-orang lain. Jika kita membuat musik hanya untuk didengar sendiri, itu mungkin hampir seperti masturbasi, dan itu tidak akan memiliki keindahan dan keutuhan seperti saat kamu bercinta dengan seseorang.

Lagu-lagu dari Fat Randy dan Nagabagja bisa kita nikmati melalui kanal-kanal digital platform seperti Spotify, Amazon, Youtube Music, Apple Music, Joox, Deezer, dan masih banyak lagi. (*/)

  • whatsapp
  • twitter
  • facebook
  • remix
Penulis

Akim Mahesa

Founder akun jasa curhat @curehead.id, freelance copywriter, dan penulis buku "Selain Berengsek Hidup Ini Penuh Hal Paradoks