Pop

NGOMONGIN EKSPLOR PROSES KREATIF, 5 FILM INDONESIA INI WAJIB LO TONTON

Kreativitas itu nggak muncul tiba-tiba. Ada cara yang bisa menjadi panduan untuk mendorong ide-ide supaya muncul di kepala. Termasuk film-film Indonesia yang berasal dari eksplorasi proses kreatif sang sutradara, Cekidot!

title

FROYONION.COM - Pertumbuhan industri perfilman Indonesia semakin meningkat dengan semakin banyaknya produksi film dalam negeri dan jumlah penonton. Tentu, hal ini nggak terlepas dari peran sutradara yang menciptakan film ini menjadi tontonan berkualitas.

Sutradara-sutradara ini nggak diem aja tiba-tiba dapat ide lantas bikin film. Berawal dari ide, ada proses untuk mewujudkan ide tersebut menjadi sesuatu yang nyata. Sesuatu yang bisa dilihat, dirasakan dan menancap di benak para penonton.

Beberapa film Indonesia dibuat oleh sutradara dengan mengeksplorasi proses-proses kreatif di film garapannya, sehingga menciptakan film-film ciamik yang mesti lo tonton.

1. FILOSOFI KOPI

Nama Filosofi Kopi mungkin nggak asing di telinga anak muda Jakarta ketika sedang ingin menikmati secangkir kopi di sebuah kedai. Berawal dari sebuah cerpen karya Dewi Lestari, lalu diadaptasi menjadi sebuah film, hingga diwujudkan dalam bentuk kedai kopi.

Saat ini masyarakat nggak lagi cuma bayangin seperti apa rasa kopi yang diseruput oleh Ben dan Jodi (tokoh dalam cerpen dan film Filosofi Kopi yang diperankan Chico Jericho dan Rio Dewanto), tapi mereka bisa mencoba pengalaman menikmati rasa kopi tersebut. 

Berkat ide-ide kreatif mereka, kemudian memulai sebuah produk yang diadaptasi dari sebuah konten film. Karena tekad dan narasi yang kuat tersebut, akhirnya membuat Filosofi Kopi menjadi penggerak dalam perkembangan coffee culture di Indonesia.

2. CEK TOKO SEBELAH

Di film ini, ide kreatif Ernest Prakasa selaku sutradara menceritakan tentang kehidupan pribadi dengan mengangkat fenomena yang terjadi pada keluarga keturunan Tionghoa. Ide Ernest yang dituangkan dalam secarik kertas lalu dibuat menjadi sebuah film original story, dan berhasil mencetak rekor dengan jumlah penonton terbanyak.

Film ini menceritakan realita sosial yang sudah ada di kehidupan nyata. Menggambar sikap orangtua yang suka membandingkan anak-anaknya. Mereka selalu beranggapan bahwa anak lulusan dari universitas terbaik pasti mampu meneruskan usaha milik keluarga.

3. LAUT MEMANGGILKU

Film pendek Laut Memanggilku karya sutradara Tumpal Tampubolon memenangkan Sonje Award di Busan International Film Festival. Film tersebut juga menjadi film pendek terbaik di Festival Film Indonesia 2021.

Ide pembuatan film ini muncul ketika Tumpal menemukan artikel tentang penemuan bidadari yang jatuh ke laut di wilayah Indonesia timur. Terdapat foto-fotonya yang diduga sex doll (boneka seks). Boneka ini ditemukan oleh nelayan, yang disangka sebagai bidadari. Sekampung pun heboh lalu didandani dengan pakaian terhormat.

Cerita tentang dua anak yang merindukan afeksi dari sosok ibu, yang ditemukan lewat boneka seks. Kisah anak kecil yang merasakan kehilangan banyak hal akibat pandemi. Dia merasa rindu kehidupan normal mulai dari tatap muka, berjabat tangan, hingga berinteraksi sesama manusia.

4. NGERI-NGERI SEDAP

Film yang disutradarai Bene Dion begitu mencuri perhatian karena berani mengangkat kisah budaya Medan yang jarang diangkat ke layar lebar. Film ini bercerita tentang kegelisahan pasangan orang tua Pak Domu (Arswendy Beningswara Nasution) dan Marlina alias Mak Domu (Tika Panggabean).

Mereka gelisah karena keempat anaknya yaitu Domu (Boris Bokir), Sarma (Gita Bhebhita), Gabe (Lolox), dan Sahat (Indra Jegel), semakin jarang berkunjung ke kampung halaman.

Mereka berdua akhirnya menyusun rencana agar seluruh anaknya pulang dari perantauan. Mak Domu pun berpura-pura bertengkar hebat dengan sang suami. Pertengkaran itu diatur sedemikian rupa agar terdengar ke telinga anak-anaknya.

Ketika mengetahui kabar tersebut, keempat anaknya akhirnya pulang dari perantauan. Namun, mereka terkejut saat tiba di Medan karena pertengkaran tersebut ternyata hanya kebohongan belaka.

5. SEPERTI DENDAM, RINDU HARUS DIBAYAR TUNTAS

Film Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas menjadi sorotan sejak film buatan Edwin ini meraih penghargaan Golden Leopard kategori kompetisi internasional (Concorso Internazionale) dalam Festival Film Internasional Locarno 2021.

Penghargaan ini bikin Edwin jadi orang Indonesia pertama yang memenangkan anugerah Golden Leopard. Ide kreatif yang dituangkan dalam film garapannya memotret tentang kondisi di Indonesia pada tahun 80-90an.

Cerita tentang Ajo Kawir (Marthino Lio), seorang pemuda hobi bertarung. Hasrat bertarungnya muncul untuk menyembunyikan kondisi dirinya yang impoten. Berbagai cara telah ia coba untuk menyembuhkan kelemahannya. Hingga akhirnya dia bertemu dengan Iteung (Ladya Cheryl) yang juga seorang petarung.

Pertemuan tersebut menumbuhkan benih-benih cinta bagi keduanya. Perjalanan cinta mereka diwarnai dengan romantisme seperti bertemu di pasar malam hingga mengirim salam dan lagu lewat radio sampai akhirnya mereka menikah dan hidup bersama.

Nah itu dia Civs, 5 film Indonesia yang mengeksplorasi proses kreatif sang sutradara, kira-kira kalo lo dikasih kesempatan jadi sutradara, film kayak gimana sih yang bakal lo buat? Hehe. (*/)

  • whatsapp
  • twitter
  • facebook
  • remix
Penulis

Abdurrahman Rabbani

Cuma buruh tinta yang banyak cita-cita.