Pop

FILM EVERYTHING EVERYWHERE ALL AT ONCE, JOBU TUPAKI SANG AGEN NIHILISME

Film Everything Everywhere All at Once berhasil mendapat rating tinggi di Rotten Tomatoes dengan mengumpulkan poin sebanyak 95%. Multiverse menjadi tema dalam film ini. Sebagus apakah film ini?

title

FROYONION.COM - Multiverse sedang ngetren belakangan ini. Layaknya lagu-lagu bertema depresif yang jadi tren anak muda Indonesia kekinian, agaknya banyak studio film mulai melirik tema ini. Setelah sebelumnya MCU lewat film Dr. Strange 2 membawakan konsep multiverse, kini hadirlah film Everything Everywhere All at Once.

Film ini memulai ceritanya lewat sepasang suami-istri keturunan China-Amerika, Evelyn dan Waymond, yang membuka usaha binatu di Amerika. Mereka tinggal bersama ayah dari Evelyn yang kolot dan mulai agak pikun.

Evelyn dan Waymond menjalani hidup yang sederhana sekaligus membosankan. Tiap hari mereka hanya bergelut dengan kegiatan yang itu-itu saja. Sebagaimana yang dikeluhkan oleh Evelyn, tiap hari ia hanya mengurusi pakaian kotor.

Di tengah ruwetnya mengurus laporan pajak yang berbelit, mengumpulkan resi demi resi, anak perempuannya yang menjadi gay dan penyesalan akan pilihan hidupnya–yaitu kawin lari dengan Waymond–Evelyn berandai-andai, apa jadinya ia kalau ia menjalani kehidupan yang lain.

Kehidupannya berubah ketika Evelyn berada di kantor pajak. Waymond lain dari semesta Alpha bicara dengannya lewat Waymond yang berada di semestanya. Waymond memintanya untuk membantu melawan Jobu Tupaki, seorang penjahat yang mengacaukan multisemesta dengan kemampuannya terhubung ke semua semesta.

SERIUS INI LEBIH GILA DARIPADA DR. STRANGE 2

Membawakan konsep multiverse sebagai hidangan utama bikin film ini mau nggak mau dibanding-bandingkan dengan film bertema serupa. Yang paling mendekati tentunya film Dr. Strange 2 garapan Marvel Studio.

Ada beberapa kemiripan. Misalnya, soal keinginan sang tokoh utama mengalami kehidupan dirinya yang ada di semesta lain, yang dianggapnya lebih mendingan. Jika di Dr. Strange 2 mereka mengandalkan kitab kegelapan Darkhold untuk terhubung ke semesta lain; di film Everything Everywhere All at Once ini mereka memakai teknologi canggih yang memungkinkan mereka melakukan lompatan semesta.

Lalu seperti halnya America si anak ajaib yang punya kemampuan khusus untuk berpindah semesta dengan caranya sendiri; di film ini ada Jobu Tupaki yang juga punya kemampuan serupa.

Hal lainnya yang mirip adalah diangkatnya lagi isu LGBT di film ini. Namun berbeda dengan Dr. Strange 2 yang masih tampak malu-malu, isu LGBT di sini bukanlah sekadar pemanis. Isu tersebut menjadi bahan bakar utama konflik antara Evelyn dengan anak perempuannya, Joy. Maka nggak mengherankan film ini amat telat masuk ke Indonesia.

Meski dengan beberapa kemiripan itu, nyatanya film ini mampu mengungguli Dr. Strange 2 dari banyak aspek. Skor film ini di Rotten Tomatoes yang mencapai 95 persen membuktikan fakta ini.

Dilihat dari narasinya, film ini jelas punya narasi yang lebih mumpuni. Nggak heran sih, dengan segala tuntutan untuk nyambung ke universe MCU, film Dr. Strange 2 punya keterbatasan untuk mengembangkan jalan ceritanya, sesuatu yang nggak dihadapi The Daniels saat menggarap film Everything Everywhere All at Once.

Keunggulan lainnya, action-nya lebih oke. Jika di Dr. Strange 2 action-nya kebanyakan hanya ngelempar mantra, layaknya mage yang sibuk clear minion di midlane; di film ini action-nya lebih ke adu gebuk, macam dua explaner yang lagi adu mekanik. Di film ini lo bakal mendapatkan action yang nggak biasa, sesuatu yang gue rasa lahir dari imajinasi yang liar. Jika lo menganggap jago kung fu dalam waktu sekejap masih belum cukup, tunggu sampai lo ngelihat kelingking berotot.

Yang lebih menggembirakan, film ini punya proses yang unik demi menghadirkan action-nya. Evelyn dan Waymond di sini bisa diibaratkan seperti komputer yang bisa di-upgrade, bisa ditambahkan skill sesukanya yang diambil dari skill diri mereka di semesta lain. Cara ini mengingatkan gue pada cara gerilyawan zion saat meng-upgrade skill Neo di trilogi The Matrix.

Yang lebih unik, untuk terkoneksi dengan diri mereka di semesta lain dan menggunakan skill-nya, mereka yang melakukan lompatan semesta harus memenuhi syarat-syarat konyol agar lompatan itu berhasil. Memakan lipstik adalah salah satunya. Atau dengan sengaja mengiris tangan dengan kertas. Dari syarat-syarat konyol inilah, komedi di film ini terbentuk.

Kemudian meskipun kerap menggunakan teknik crosscutting dalam proses editing, yang membuat tiap adegan berpindah dengan cepat, nyatanya film ini nggak membuat penonton bingung. Perpindahan adegan yang mulus dan alur yang gampang diikuti menjadi kunci keberhasilan penerapan teknik tersebut.

JOBU TUPAKI SANG AGEN NIHILISME

Kemampuan Jobu Tupaki untuk terhubung dengan semua versi dirinya di seluruh semesta, justru menjadi petaka baginya. Dengan terhubung dengan semua versi dirinya di semesta lainnya, ia juga mengalami segalanya, juga membuatnya mengetahui semua kemungkinan dalam hidupnya dari setiap keputusan yang diambilnya. Di sinilah gue memahami kenapa judul film ini, Everything Everywhere All at Once

Semua pengetahuan itu menggiring Jobu Tupaki ke satu kesimpulan: Nothing matters, semua yang ada di dunia ini sia-sia dan nggak artinya. Mirip anggapan kaum penganut nihilisme.

Meski awalnya dicurigai hendak mengisap seluruh semesta ke dalam black hole yang diciptakannya yang ia sebut sebagai begel, nyatanya tujuan Jobu Tupaki hanya mencari orang yang mampu merasakan kehampaan yang dirasakannya. Dan orang tersebut adalah Evelyn.

Evelyn yang diajak oleh Jobu Tupaki untuk mengintip begel, membuatnya mampu melihat semua versi dirinya di semesta lainnya. Evelyn menyadari setiap pilihan hidupnya ternyata memiliki konsekuensi serta risiko. Ia sadar hidup hanya soal memilih risiko. Dan nyatanya segala pilihan hidupnya, nggak ada yang betulan membahagiakannya, sekalipun di semesta lainnya ia jadi selebriti terkenal. Ini membuat Evelyn percaya, bahwa segalanya memang nggak ada artinya.

Puncak dari nihilisme ini terjadi saat mereka berdua menjadi batu di semesta yang nggak terdapat kehidupan. Di semesta itu mereka berbincang sebagai sebongkah batu dan bersepakat bahwa nggak ada yang penting di dunia ini.

Selain soal nihilisme, film ini juga membahas soal relasi orang tua dan anak, antara Evelyn dan Jobu Tupaki. Bahkan jika ditarik lebih jauh lagi, film ini menggambarkan relasi antara generasi lama (milenial) dan generasi baru (gen z).

Masifnya penggunaan internet sekarang ini, membuat generasi muda kebanjiran informasi. Sehingga sulit rasanya bagi mereka mencerna bahkan memilah mana yang penting dan yang nggak penting buat mereka. Alhasil, mereka cenderung terjebak dalam kebingungan, krisis jati diri menjadi masalah utama mereka. 

Melimpahnya informasi ini juga menciptakan gap antara mereka dengan generasi lama. Jarak tersebut rasanya sulit untuk dicicil. Sebagai misal, jika generasi lama nggak terlalu melek dengan isu kesehatan mental, para generasi sekarang lebih peduli dengan isu tersebut.

Jarak ini diperlebar dengan sikap generasi lama yang sulit menjadi pendengar yang baik bagi generasi di bawahnya. Juga diperparah dengan sikap generasi baru yang menganggap bahwa generasi lama nggak akan pernah mengerti perasaan mereka, tanpa memahami bahwa segala yang mereka ketahui sekarang ini bisa jadi merupakan hal baru bagi generasi lama. Jarak antara kedua generasi ini sebetulnya bisa dipangkas dengan saling mendengarkan dan memaafkan. Dan tentu, dua hal itu bukanlah hal yang gampang. Mungkin lo harus menjelajah setiap semesta, menjadi batu, dan masuk ke begel lebih dulu, baru lo bisa menerapkan dua hal itu

Film ini ditutup dengan ending yang membahagiakan. Sebuah pemahaman disimpulkan, bahwa kendati nggak ada yang penting di dunia ini, dan segalanya nggak berarti; menghabiskan bersama orang terkasih, bersedia saling mendengarkan, dan mensyukuri segala keputusan yang kita ambil dengan segala risikonya, adalah harapan kita mendapatkan kebahagiaan meskipun kecil. Selamat menonton! (*/)

  • whatsapp
  • twitter
  • facebook
  • remix
Penulis

Shofyan Kurniawan

Shofyan Kurniawan. Arek Suroboyo. Penggemar filmnya Quentin Tarantino. Bisa dihubungi di IG: @shofyankurniawan