Pop

‘DYING FOR AN IPHONE’: KISAH SURAM DI BALIK GAWAI FAVORITMU

iPhone sampe sekarang masih dianggap anak-anak muda di seluruh dunia sebagai simbol prestise dalam pergaulan. Tapi tau nggak sih, kesuksesan iPhone itu ternyata menumbalkan kesehatan mental para pekerja muda Tiongkok?

title

FROYONION.COMiPhone 14 baru saja diluncurkan beberapa waktu lalu dan pemberitaannya masih terus bergaung. Berita-berita dibanjiri pembahasan perangkat baru itu. Para kreator konten seluruh dunia juga turut memperbincangkan fitur-fitur terkini iPhone 14 dan sistem operasi terbaru iOS 16.

Terlepas dari perdebatan apakah fitur-fitur anyar kayak Dynamic Island, chip A16, ketiadaan notch, modem Qualcomm X65 hingga konektivitas dengan satelit memang benar-benar inovatif dan diperlukan para konsumen atau sekadar deretan gimmick marketing, jujur aja mayoritas kalangan anak muda Indonesia tampaknya masih sepakat brand Apple dan citra iPhone sebagai produk premium kelas dunia masih belum bisa ditumbangkan.

Di tengah gegap gempita pemberitaan iPhone terbaru ini, gue kebetulan baca Dying for an iPhone, sebuah buku terbitan 2020 yang ditulis oleh 3 orang akademisi bernama Jenny Chan (asisten pengajar  dan peneliti di Hong Kong Polytechnic University), Mark Selden (research associate dari Cornell University dan Columbia University), dan Pun Ngai (pengajar sosiologi di University of Hong Kong).

Bersama-sama, ketiganya menggali fakta dengan mewawancarai para pekerja FoxConn dan studi lapangan ke kota-kota lokasi pabrik FoxConn sejak 2010 sampai 2019. Para penulis Dying for an iPhone juga mengumpulkan catatan blog, puisi, lagu, foto, video dan surat terbuka yang dibuat para pekerja yang sudah nggak tahan dengan kondisi kerja di sana. 

BISNIS KURANG ETIS

Sebagai jenama (brand), Apple sebetulnya sudah problematik sejak lama karena kerjasama eratnya dengan pabrikan/ manufaktur FoxConn yang terlibat dalam sejumlah pelanggaran etika praktik bisnis, misalnya ekstraksi bahan mentah dan penggunaan tenaga kerja anak-anak di bawah umur yang dilakukan di pertambangan ilegal.

Bahkan menurut program Panorama dari BBC seperti dikutip di buku Dying for an iPhone, sejumlah pekerja anak di negara kita tercinta juga ikut mengais-ngais di tambang-tambang timah. Hasil kerja pekerja anak dengan upah sangat murah ini kemudian disetorkan dan jadi bahan pembuatan gawai-gawai termasuk iPhone. Aktivitas penambangan oleh pekerja anak ini tidak terjamin keselamatannya sehingga risiko pekerja anak cedera bahkan meninggal saat bekerja juga lebih tinggi.

Tuduhan lain ialah tekanan lembur dan kerja cepat yang membuat risiko bunuh diri dan luka pada pekerja meningkat. Apple menetapkan timeline dan tenggat waktu produksi iPhone dan perangkat Apple lainnya yang sangat ketat lalu FoxConn menekan para pekerja agar bisa memenuhi tenggat ini sambil menjaga kualitas produk. 

Dijelaskan bahwa seorang pekerja FoxConn yang bikin iPad pada Maret 2011 cuma punya libur 2 hari dalam sebulan. Garis bawah ya Civs, sebulan! Bukan seminggu. Jadi sangat tidak manusiawi kan?

Semua timeline produksi yang ketat ini ditekankan oleh Tim Cook yang saat itu masih menjabat sebagai COO Apple. Menurutnya, jualan gawai itu kayak jualan susu. “Jangan kelamaan, nanti bisa basi,” katanya. Dan argumen itulah yang membuatnya merasa sah-sah aja memberikan tenggat yang begitu ketat padahal tuntutan pemenuhan kualitas produk Apple juga sangat tinggi.

Nggak heran makin banyak pekerja dar generasi muda Tiongkok yang nggak kuat menghadapi tekanan ini. Januari 2010 muncul berita sejumlah pekerja FoxConn bunuh diri di Shenzhen, satu lokasi pabrik FoxConn. Tanggal 11 Mei di tahun yang sama terjadi lagi kasus bunuh diri. Itu kasus kesembilan. Hingga akhir 2010, sudah ada 18 orang pekerja FoxConn yang melakukan upaya bunuh diri dan cuma 4 yang bertahan hidup.

Usut punya usut, para pekerja FoxConn ini mayoritas adalah kalangan anak muda dari perdesaan Tiongkok yang bermimpi bisa mendapatkan pekerjaan layak dan membangun masa depan dan rumah impian. Mereka ini pindah untuk kerja di perkotaan tapi melihat peluang memiliki rumah di kota yang tipis, mereka terjebak dan putus asa karena mereka juga merasa mustahil balik ke kampungnya lagi. Malu! 

Akhirnya muncul krisis jatidiri dan ditambah dengan kondisi kerja yang buruk, masalah emosional dan psikologis ini bisa berekskalasi dan tak bisa diatasi lagi. Demikian simpulan sejumlah peneliti dan mahasiswa termasuk ketiga penulis buku ini.

Apple bersama FoxConn dan juga banyak jenama teknologi lain juga dituding mendorong konsumerisme yang ugal-ugalan di seluruh dunia. Kebanyakan brand teknologi saat ini punya kelihaian untuk membuat produk mereka tak bisa dipakai lagi dalam periode tertentu, yang pada gilirannya membuat luber tempat pembuangan sampah elektronik dan bencana lingkungan pun terjadi.

FoxConn juga dalam buku ini dituduh membuang begitu saja limbah industrinya ke sungai dan saluran air di Tiongkok. Tahun 2013, ditemukan bahwa level logam nikel di air buangan FoxConn dan pabriknya 40 kali lebih tinggi dari batas wajar. Tak heran banyak pekerjanya mengeluhkan bau air minum yang kurang sedap. 

KORBAN ‘PHP’

Kalo lo masih inget beritanya, tahun 2014 FoxConn pernah diberitakan menjanjikan pemerintah Indonesia akan segera membangun pabrik ponselnya di Yogyakarta. Bahkan mereka membeberkan nilai investasinya yang mencapai US$1 miliar. 

Tentu kita girang banget saat itu. Bayangin aja FoxConn mengiming-imingi kita bahwa investasi mereka bakal menaikkan level Indonesia sebagai pusat pertumbuhan terpenting di samping Taiwan (negara asal pendirinya Terry) dan Tiongkok sebagai basis produksi terbesar mereka.

Tapi setaun kemudian, rencana tadi dibatalkan begitu aja. Bayangin sakitnya nggak ketulungan udah di-PHP-in kayak gitu.

Kabar burung investasi FoxConn berhembus lagi begitu Apple dikabarkan akan berinvestasi dalam hal riset dan pengembangan di Tangerang, Banten. Tapi hingga detik ini, nggak ada tuh kelanjutannya ya kan?

Setelah tahu beratnya kehidupan pekerja FoxConn dan Apple demi membuat iPhone dan iPad yang lo pake, gimana sikap lo, Civs? Apakah lo bakal tetep pake dan beli iPhone dan segala jenis produk Apple? Atau lo bakal petisi Apple buat memperbaiki praktik bisnis mereka yang kurang manusiawi dan ramah bumi itu? Komen di bawah. (*/)

  • whatsapp
  • twitter
  • facebook
  • remix
Penulis

Akhlis

Editor in-chief website yang lagi lo baca