Pop

DIGICAM: ALTERNATIF BAGI YANG SUKA KAMERA ANALOG TAPI PUSING DENGAN HARGA ROLL FILM

Digicam atau digital camera baru-baru ini sedang menjadi trend di kalangan pecinta fotografi tapi apakah memang layak untuk dicoba? Berikut ulasannya buat lo semua, Civs.

title

Di masa sekarang, sebagian orang berlomba-lomba membeli smartphone dengan fitur kamera yang sangat canggih agar mendapatkan kualitas gambar yang bagus dan jernih. Akan tetapi, sebagian orang lainnya lebih memilih untuk membeli kamera jadul yang kualitas gambarnya kurang memuaskan namun ada kepuasan tersendiri bagi penggunanya.

Digital Camera atau biasa disingkat digicam mulai diminati kembali bagi sebagian orang. Digicam populer lagi berawal dari orang-orang Bangkok yang mulai beralih menggunakan kamera ini. Ada yang bilang hasilnya hampir mirip kamera analog, tapi hampir mirip bukan berarti sama, betul bukan?

Beberapa pencinta kamera analog pun juga mulai beralih ke kamera ini, mengingat harga roll film yang juga mulai menggila, bahkan lebih mahal dari harga kamera analog itu sendiri. Gue aja geleng kepala melihat harga roll film KCP 200 yang bisa buat makan dua sampai tiga hari.

ASAL MULA DIGICAM

Zaman dulu, orang-orang mengambil gambar dengan menggunakan kamera analog. Seiring berkembangnya zaman, sekitar tahun 2000-2001, orang-orang mulai beralih ke teknologi kamera digital, termasuk fotografer.

Akan tetapi, teknologi kamera digital ini hasilnya tidak sebagus kamera analog, mengingat resolusinya yang masih minim dan kurang bagus. Para fotografer pun masih memadupadankan antara kamera analog dan kamera digital.

Awal keluar digicam memang hasilnya tidak sebagus kamera analog. Resolusinya hanya sekitar 8 MP ke bawah menjadi kendala bagi para fotografer. Harga yang tidak murah pun menjadi kendala juga. Itulah yang membuat para fotografer ini masih setia dengan kamera analog pada zaman dulu.

Gue inget banget dulu foto karnaval waktu TK tahun 2007 masih pakai kamera analog, dan sampai sekarang masih gue simpen roll film nya. Kepercayaan orang-orang terhadap teknologi kamera digital sepenuhnya baru muncul sekitar 2008.

Seiring berkembangnya zaman, kamera digital mulai berkembang. Dari yang resolusi rendah yakni 5 MP kebawah, sekarang ada yang sampai 24 MP

PLUS MINUS DIGICAM POCKET

Kalau dibandingkan dengan kamera analog, digicam ini menurut gue hasilnya tidak se-vintage dan sesempurna kamera analog. Untuk mendapatkan hasil yang lebih vintage, dibutuhkan megapixel di bawah 5 dan harganya pun berbeda-beda. Akan tetapi jika megapixelnya rendah, gambar yang dihasilkan tidak jernih.

Gue sendiri juga pakai digicam dari tahun 2016, kalau nggak salah kameranya Kodak Easyshare C1530 warna merah. Hasilnya menurut gue jernih tapi nggak terlalu vintage banget, mungkin karena resolusinya sudah 14MP.

Kamera digital dan analog kini mulai terkenal kembali. Banyak pengguna yang menilai bahwa gambar yang dihasilkan oleh kamera analog terlihat lebih estetik.
Gambar yang dihasilkan dari kamera Kodak Easyshare C1530.

Tone yang dihasilkan dari digicam kebanyakan agak warm dan cukup susah untuk mendapatkan tone seperti disposable. Maka dari itulah digicam tidak bisa disamakan dengan kamera analog.

Namun kalau soal harga, digicam ini bisa dibilang cukup murah dibanding kamera analog. Harga digicam setau gue di pasaran masih di harga 200-500 ribuan, dan itu pun sudah lengkap dengan baterai, pouchstrap, bahkan memorinya. 

Dibandingkan dengan harga kamera analog yang sekarang, harganya di pasaran sudah sekitar 200 ribu - 1 jutaan, khusus kamera pocket ya. Belum lagi beli roll film yang harganya nggak ada obat. Belum lagi nyuci roll film, belum lagi nanti servis dan segala macem, pusing kan lo.

Harga digicam yang gue sebutkan tadi bisa berubah ya, tergantung nanti beberapa bulan kedepan bakalan rame pada ikutan beli digicam apa enggak. Mumpung belum terlalu hype banget nih, gue saranin untuk beli kamera ini bagi para pemula yang mau terjun ke kamera analog tapi terhalang biaya.

TIPS BELI DIGICAM

Nggak ada tips khusus yang terlalu gimana gitu sih, yang paling penting bisa nyala apa enggak. Percuma dong beli murah tapi nggak bisa nyala, hehe.

Tips selanjutnya adalah kelengkapan dari kamera itu sendiri. Ada baterainya apa enggak? Ada charger nya apa enggak? Beda lagi kalau kameranya menggunakan baterai AA, lo nggak perlu nanya dapet baterai apa nggak Civs, beli aja di warung dekat rumah..

Fisik dari digicam itu sendiri juga jadi pertimbangan, apakah layarnya masih mulus? Apakah lensanya masih bersih? Semisal dua hal itu baik-baik saja, boleh tuh jadi incaran.

Kelengkapan yang lainnya juga perlu dipertanyakan Civs. Apakah dapat strap atau pouch? Apakah dapat memori juga? Hal itu yang jadi pertimbangan buat ambil digicam dengan harga yang sudah gue sebutkan tadi.

Kalau urusan hasil dan resolusi sih selera ya, karena selera orang berbeda-beda. Ada yang suka jernih, ada yang suka grain, ada yang suka buram, dan lain sebagainya.

Menurut gue pribadi, digicam ini layak untuk dicoba bagi kalian yang ingin berkecimpung di dunia fotografi baik analog maupun digital. Yang jadi pertimbangan buat gue adalah soal harga yang relatif murah dan batas untuk kita memencet shutter yang tak terhingga, tergantung kapasitas memori sih sebenarnya.

Walaupun digicam ini nggak bakal bisa menggantikan sensasinya menggunakan kamera analog yang selalu bikin deg-degan ketika menantikan hasilnya, setidaknya boleh lah untuk percobaan bagi pemula.

Selain itu, kamera ini juga bisa melatih skill fotografi kita sebelum beralih ke kamera analog, biar mantep gitu sebelum beralih ke kamera analog dan nggak buang roll film. Siapa tau pas kamera digital ini naik lagi, harga roll film malah turun, semoga saja hehe.

Semisal digicam ini makin hype kedepannya, apakah barang-barang jadul lainnya juga akan hype? Seperti HP jadul, Nintendo jadul, atau mungkin piano jadul untuk menunjang music NFT boleh juga tuh. Kita lihat saja nanti yang bakal tren kedepannya apa lagi. (*/)

  • whatsapp
  • twitter
  • facebook
  • remix
Penulis

Dynasti Savira

Investor Reksadana, pro player Blossom Blast Saga, pegiat hidup monoton, dan penikmat seni tapi bukan air. Motto hidup : Semua masalah pasti akan berlalu, iya berlalu lalang.