Pop

2 MUSISI INDONESIA YANG PATUT DIJADIKAN MATA KULIAH KAYAK TAYLOR SWIFT

Musisi-musisi Indonesia ini juga jangan sampai kalah sama Taylor Swift. Kampus-kampus di Indonesia juga perlu angkat musisi lokal yang karyanya berkualitas buat jadi mata kuliah.

title

Beberapa waktu yang lalu, kita sempat dikejutkan dengan sebuah berita dimana nama penyanyi wanita ternama dunia, Taylor Swift, yang dijadikan sebuah mata kuliah tepatnya di New York University. Hal ini bukan pertama kalinya seorang publik figur dijadikan sebuah mata kuliah kuliah. Karena sebelum ada nama band legendaris The Beatles, bahkan franchise Harry Potter karya J. K Rowling yang dijadikan sebuah bahasan dalam perguruan tinggi.

Sebelum mengetahui lebih jauh, sebenarnya mata kuliah Taylor Swift ini bisa dibilang mata kuliah yang eksklusif lho civs! Bagaimana tidak, ternyata mata kuliah ini hanya akan digelar pada tanggal 26 Januari sampai 9 Maret. Pengajarnya juga merupakan seorang jurnalis senior majalah Rolling Stone, Brittany Spanos. Mata kuliah ini akan mengulas bagaimana evolusi karir seorang Taylor Swift dimulai dari awal sampai menjadi creative music entrepreneur, penulis lagu, sampai dampaknya pada politik dan sosial.

Secara garis besar, fokus utama dari kelas ini adalah bagaimana cara Taylor Swift menjadi creative music entrepreneur yang lagu-lagunya dapat diterima oleh khalayak banyak dari generasi ke generasi. Selain itu juga membedah bagaimana warisan musik pop dan country dan dampaknya pada sosial politik. Sebuah pembahasan yang tak terduga yang dapat diambil dari seorang Taylor Swift.

Dari beberapa Frodcast yang mengundang seorang musisi, lebih tepatnya ketika ngobrol dengan Baskara Putra, Lomba Sihir, Feel Koplo dan Mas Dimas Wisnuwardono. Hasilnya, gue bisa menarik kesimpulan bahwa seorang musisi atau band, itu punya 2 kekuatan utama, yakni Fandom dan Attitude.

Fandom udah jelas, kalau lagunya relate dan dapat diterima banyak orang, maka basis penggemarnya juga akan besar. Namun itu bukan jaminan ia akan tahan lama di industri musik. Banyak kok, musisi atau band yang ‘meledak’ cuman di satu-dua album, lalu hilang.

Yang kedua ini yang gue rasa krusial, attitude. Sikap ia di atas stage, sikap ia pada penggemar, sikap ia as human being, itu akan sangat berdampak pada kehidupannya. Atau bahkan ke sekitarnya.

Nah, tentunya di Indonesia juga ada banyak nama musisi yang cocok dijadikan mata kuliah kayak Taylor Swift. Tentunya opini tiap orang bakal beda-beda. Jadi tolong untuk yang musisi favoritnya ngga tercantum, jangan serang saya. Saya masih mau main IG dengan tenang. Hehe.

ALM. DIDI KEMPOT 

Almarhum Didi Kempot menjadi nama nomer 1 yang gue pikirkan ketika menulis rubrik ini. Gimana ngga, ke-legendaris-an lagu-lagu keroncong dan dangdut beliau tak lekang oleh zaman. Lintas generasi cuy! Lagu-lagu patah hati beliau ngga usah diragukan lagi. Bahkan sudah sampai di beberapa negara seperti Belanda sampai Suriname.

Hal yang dilakukan oleh seorang Didi Kempot juga tidak terbilang mudah. Bagaimana cara beliau mempertahankan gaya bermusik, mempertahankan aspek budaya sebagai seorang seniman ditengah gempuran genre-genre yang masuk ke Indonesia. Tentunya hal ini perlu diapresiasi dan dikulik lebih dalam lagi agar dapat diteruskan oleh generasi selanjutnya.

Impact-nya ngga perlu dipertanyakan lagi. Lagu-lagunya mudah diterima karena temanya yang mudah diterima oleh berbagai kalangan. Tema yang bisa membuat ia dekat pada masyarakat sebagai seorang seniman. Sebagai anak dari seorang seniman, Didi Kempot sudah menerima berbagai penghargaan sebagai seorang penyanyi dangdut.

IWAN FALS

Pria dengan nama asli Virgiawan Listanto ini masuk dalam radar gue. Alasannya jelas dan masih mirip-mirip, yakni lagunya yang tak lekang dengan zaman. Tapi, ada beberapa hal yang menjadikan Iwan Fals berbeda. Dalam lagu-lagunya, ia berani untuk mengkritik pemerintah, empati pada kelompok tertentu, bahkan bencana yang melanda sebuah daerah.

Gaya bermusik, penulisan lirik, dan segala aspek yang sangat ‘Iwan Fals’ banget, membuat ia bertahan lama di industri musik. Banyak orang yang merasa terwakilkan oleh lagu-lagunya meskipun terkadang ditulis dengan majas, namun masih mudah diterima oleh banyak orang.

Basis penggemarnya juga ngga kalah serem cuy. Karena lagu-lagunya yang sangat mewakilkan rakyat kecil, membuat Iwan Fals punya fanbase yang cukup massive di seluruh Indonesia. Tentunya dari berbagai kalangan dan usia.

 Ngga salah kalau kita kulik Iwan Fals pada tingkat perguruan tinggi. Bagaimana ia berani dalam lagu-lagu yang ia tulis, bagaimana menciptakan ciri khas bermusik yang kayaknya hampir ngga mungkin untuk ditiru, dan juga bagaimana ia mencari ide yang mewakilkan seorang rakyat, lalu menuangkannya pada karya seni berupa musik yang tak lekang oleh zaman.

Mungkin itu 2 nama besar yang gue rasa sangat amat layak diapresiasi karya-karyanya, individunya, dan berbagai hal lain, kayak Taylor Swift diawal. Sekali lagi ini opini pribadi, kalian bisa aja setuju, bisa aja ngga. Jadi, kembali ke masing-masing. (*/)

  • whatsapp
  • twitter
  • facebook
  • remix
Penulis

Fandy Sulthan

Peracik kata, penikmat dunia 3 dimensi dan pengagum rahasiamu