Movies

‘SLEEP CALL’ KUAK RUMITNYA HIDUP DALAM JERATAN PINJOL, DATING APP, DAN BOBROKNYA KESEHATAN MENTAL

Tumpukan-tumpukan cerita yang ada di Sleep Call tidak hanya menjadi warning buat para korban, tetapi juga predator, manipulator, atau antagonis di dunia nyata lain. Hati-hati, semut juga bisa menggigit kalau diinjak gajah.

title

FROYONION.COM - Awalnya saya siap-siap untuk menurunkan ekspektasi ketika hendak menonton Sleep Call. Soalnya, ada review yang tanpa sengaja saya baca menyebut kalau film keluaran IDN Pictures ini terlalu banyak menumpuk isu sehingga tumpang tindih, jadinya gagal menyampaikan pesan.

Ternyata kita memang jangan terlalu percaya dengan rumor tanpa membuktikan dengan mata kepala sendiri. Seperti yang saya lakukan, Sleep Call memberikan banyak kejutan dengan akting yang super dari Laura Basuki sebagai pemeran Dina. 

Cerita yang dibawakan juga sangat relateable dengan kehidupan keras ibukota yang penuh tipu-tipu. Berangkat dari kisah hidup Dina yang menyesakkan sebagai seorang perempuan muda yang terjebak pinjol, kemudian akhirnya menjadi karyawan perusahaan pinjol dengan lika-liku hidupnya yang berat. 

Kondisi ibu yang dirawat di rumah sakit, melakukan pekerjaan yang tidak dia senangi, terlilit utang, hidup hemat, membuat Dina menemukan pelarian baru di aplikasi dating dan bertemu Rama (Juan Bio One).

Keduanya punya perjanjian untuk melakukan sleep call aka bertelepon sampai ketiduran—sesuatu yang saat ini jadi tren di kalangan anak-anak kekinian. Berawal dari pelarian, Dina malah menemukan “rumah” di Rama dan berharap Rama menyelamatkannya seperti tokoh Sinta di pewayangan yang juga ingin diselamatkan oleh Rama.

BACA JUGA: SERING DIANGGAP NAIF, KENAPA TOKOH PROTAGONIS DALAM FILM MEMILIKI PEMIKIRAN UTOPIS?

Sleep Call merupakan film psychological thriller. Jadi, jangan harap kamu menemukan sesuatu yang literal dalam setiap scene di sini. Cobalah menontonnya dengan menggunakan hati dan kamu akan menemukan jawabannya.

Anyway, yang membuat film ini istimewa tidak hanya drama kesedihan keluarga dan pinjol, tetapi juga kesehatan mental yang akhir-akhir ini sering banget disinggung di konten-konten media sosial. 

Sebagai anak perempuan yang lahir dari keluarga “keras”, Dina menumpuk pengalaman menyedihkan yang dia alami semasa kecil, remaja, kemudian dewasa, dan menahannya sendiri. Ketika dia sangka temannya mau mendengarkan, eh malah temannya sibuk sendiri. Makanya ada scene Dina mengeluh, “Lo juga nggak pernah ada buat gue…”

Sebenarnya ini sesuatu yang relateable dengan situasi sekarang-sekarang ini. Seberapa banyak dari kita yang “membaca” tanda-tanda teman sedang bermasalah tapi mengabaikannya? Bisa jadi karena kita juga punya masalah sendiri sehingga kita memilih mengabaikan hal itu. 

Atau lebih bisa jadi lagi karena memang tidak peduli saja, lebih penting perut sendiri? Mirip salah satu adegan di Sleep Call, ketika para karyawan perusahaan pinjol mendengarkan salah satu customer bunuh diri karena pinjol, mereka tetap lanjut makan kue, seolah-olah tidak ada yang penting dari nyawa manusia hilang karena pekerjaan mereka.

Maka dari itu, ada selorohan yang sangat mengena: “Kalau lo mati di kerjaan, perusahaan nggak bakal kehilangan lo, dengan mudah bisa gantiin lo. Terus siapa yang paling kehilangan? Ya keluarga lo lah!”

Latar belakang kehidupan Jakarta yang menjadi muasal cerita ini menambah kegetiran cerita. Kurang lebih sebelas dua belas dengan film-film bertema Jakarta lainnya, misalnya saja seperti Jakarta Vs Everybody. Walaupun sebenarnya saya kurang sreg, seolah kehidupan Jakarta ini begitu menyeramkan seperti yang dibilang tokoh Rama padahal belum tentu juga. 

Jakarta nggak sekejam itu kok. Nggak se-selfish itu juga. Kita tetap bisa menemukan kenyamanan dan kemanusiawian di ibukota ini. Tinggal di Jakarta tidak semenakutkan itu. Tentunya asal tidak terbawa arus hedonis dari kehidupan yang lebih besar pasak daripada tiang, sehingga sampai menggunakan jasa pinjol.

Kemudian kehidupan Jakarta yang keras ini begitu dahsyatnya sampai orang-orang mencari pelarian ke dunia maya lewat aplikasi dating. Sebenarnya ini masuk akal alias makes sense karena saya juga punya teman yang sering sleep call-an dengan teman dari aplikasi dating. Awalnya mereka memang berdalih hanya untuk mengisi waktu, sebagai teman ngobrol, curhat, sama-sama punya komitmen kalau ini hanya sebatas online, tapi nyatanya belakangan malah jadi baper!

Ketika mereka akhirnya berharap lebih, kemudian bertemu, ternyata nggak seperti yang diharapkan. Ternyata sama-sama penuh kepalsuan juga. Maka dari itu, ada benarnya juga celetukan teman kantornya Dina, si Bella (Della Dartyan): “Mending rasa sakit di dunia nyata ketimbang senang di dunia maya…”

“Tumpukan-tumpukan” cerita yang ada di Sleep Call tidak hanya menjadi peringatan buat para korban, tetapi juga segenap predator, manipulator, atau manusia antagonis di dunia nyata lain. Hati-hati, semut juga bisa menggigit kalau diinjak gajah!

Terakhir, saya cuma ingin berpesan kepada teman-teman yang punya beban terlalu banyak di punggung. Jangan membawa masalahmu kepada orang yang salah. Yuk, sama-sama kuat, jangan menunggu Rama. Jadilah Rama untuk dirimu sendiri. Toh, di hikayat Ramayana, karakter Rama enggak se-gentle itu kok. Dipikir-pikir dia nggak menyelamatkan Sinta sendirian, dan malah menyuruh Hanoman untuk menyelamatkan Sinta. 

Biar nggak terlalu ‘lari’ dari review film ini, saya mau menutup tulisan dengan testimoni mengenai kualitas akting para pemainnya. Laura Basuki sudah jelas bagus. Kristo Immanuel not bad-lah. Juan Bio One so so. Dan di luar prediksi, Rachel Vennya ternyata lumayan bagus. 

Yuk, nonton, siapa tahu dengan nonton film ini, kamu bisa membaca red flags atau green flags dari orang yang sering telponan malam-malam denganmu. (*/)

  • whatsapp
  • twitter
  • facebook
  • remix
Penulis

Ester Pandiangan

Penulis buku "Maaf, Orgasme Bukan Hanya Urusan Kelamin (2022)". Tertarik dengan isu-isu seputar seksualitas.