Movies

FILM LARA ATI: MENGHADAPI KRISIS IDENTITAS YANG TIDAK MEMANDANG USIA

Sutradara Bayu Skak baru saja menyelesaikan filmnya yang berjudul Lara Ati. Film tersebut bercerita tentang kehidupan pekerja kantoran yang ingin mengikuti passion-nya untuk mencoba pekerjaan di bidang industri kreatif.

title

FROYONION.COM - Lara Ati adalah film karya sutradara Bayu Eko Moektito atau yang dikenal dengan nama Bayu Skak, bersama dengan BASE Entertainment. Film tersebut diawali dengan sakit hati yang dirasakan oleh Joko (Bayu Skak) karena ditinggal nikah oleh kekasihnya yang bernama Farah (Sahila Hisyam).

Kehidupan yang Joko jalani setelah ditinggal nikah betul-betul membuat hidupnya berjalan lambat. Dia mulai tidak fokus menjalani pekerjaannya di kantor. Hal tersebut membuat teman-temannya kasihan kepadanya. Joko pun mulai introspeksi diri perihal apa salah dirinya dalam hubungan ini.

Pada awal film, penonton pasti mengira bahwa film ini tidak lebih dari film cinta yang mengandung kisah sedih di dalamnya. Namun, ternyata tidak demikian. Ditinggal nikah oleh kekasihnya memberikan Joko waktu untuk merombak dirinya menjadi pribadi yang baru.

Proses tersebut ternyata mengubah banyak aspek dalam dirinya. Mulai dari menghadapi krisis identitas yang dia alami, pekerjaan yang sedang dia jalani, juga hubungan Joko dengan keluarganya. 

Kemudian Joko bertemu dengan Ayu (Tatjana Saphira) dalam sebuah acara live music. Saat itu, Denny Caknan sedang melantunkan lagu Kartonyono Medot Janji. Lagu sedih tentang hubungan yang kandas makin membuat Joko membayangkan Farah.

Di saat yang sama, Ayu pun sedang membayangkan pacarnya lantaran saat ini hubungan mereka sedang tidak baik-baik saja. Joko dan Ayu tanpa sengaja berada di satu meja yang sama hingga akhirnya mereka berdua berkenalan.

Lantunan lagu Denny Caknan pada awal film sangat membangun nuansa nelangsa dalam film Lara Ati. Hubungan kandas sebagaimana lo tahu tentu tidak memandang usia. Baik masih pacaran ataupun sudah menikah, tiap pasangan tentu merasa takut bahwa hubungan yang sedang dijalani akan berakhir dengan perpisahan.

Namun, perpisahan yang terjadi justru menjadi batu loncatan bagi yang mengalaminya untuk melakukan introspeksi dan lebih mengenali diri sendiri. Film Lara Ati hadir dengan menggunakan bahasa Jawa Timur sebagai dialog utamanya.

Namun, tenang aja, ada subtitle yang bisa dibaca dan film Lara Ati pun kerap menggunakan bahasa Jawa TImur yang biasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Kuliner kota Surabaya seperti rujak cingur dalam film Lara Ati dan kendaraan plat L yang berlalu lalang cukup menggambarkan bahwa seperti inilah kota Surabaya.

Film Lara Ati juga menyajikan berbagai dialog yang relateable bagi anak muda, terutama dalam menentukan pasangan dan pekerjaan. Sedikit banyak, Bayu Skak menanamkan kisah nyata dalam kehidupannya ke dalam film Lara Ati

Sebagaimana kebanyakan anak muda, banyak dari lo yang dilarang oleh orang tuanya untuk mencoba kuliah atau pekerjaan sebagai desainer grafis. Bayu Skak pun mengalami hal yang sama. 

Pekerjaan sebagai seniman banyak dinilai orang sebagai pekerjaan yang belum jelas. Hingga akhirnya Joko, sebagai pekerja kantoran yang ingin menyambi bekerja sebagai desainer grafis, membuktikannya lewat karya.

Lewat film Lara Ati, Bayu Skak juga mencoba melawan arus, yang biasanya kebanyakan film menggunakan bahasa Jakarta, kali ini telah hadir Lara Ati yang menggunakan bahasa Jawa Timur. Pada beberapa scene, perseteruan budaya Jakarta versus Jawa Timur juga dirasa cukup kental.

Namun, terdapat scene animasi fantasi yang rasanya mengambil porsi berlebihan. Scene tersebut menggambarkan perubahan yang terjadi pada di Joko setelah mengalami putus cinta hingga akhirnya berubah menjadi pribadi baru yang lebih baik.

Keluwesan seluruh tokohnya patut diacungi jempol. Namun, sekali dua kali dialog yang terlalu luwes malah mengaburkan “benang merah” atau substansi dalam film tersebut. 

Secara keseluruhan, film Lara Ati adalah film berbahasa Jawa yang apik pada tahun ini dan layak untuk ditonton. Terutama buat lo anak muda yang mengalami krisis identitas dan ingin tahu bagaimana cara menghadapinya. 

Sebelum filmnya tayang di bioskop pada 15 September, BASE Entertainment bersama Sinemart dan Skak Studios, merilis LokaDrama Lara Ati dengan latar waktu dua tahun sebelum cerita di film Lara Ati.

Film Lara Ati turut menyajikan banyak kutipan bagus pada akhir film. Ia mengajarkan kepada penonton bahwa hidup nggak selalu tentang uang. Ada hal-hal lain yang lo cari dalam hidup ini selain uang yang akan lo sadari di akhir film. (*/)

BACA JUGA: ASYIKNYA BAHAS PROSES KREATIF MENERJEMAHKAN LUKISAN KE DALAM FILM ‘MENCURI RADEN SALEH’

  • whatsapp
  • twitter
  • facebook
  • remix
Penulis

Fadhil

Content writer Froyonion, suka pameran seni dan museum, sesekali naik gunung