Figur

TIKA GILANG: MENCARI-CARI YANG SUDAH ADA DI DEPAN MATA

Ada kalimat bijak yang bunyi begini: “Life is lived forward but understood backwards” (hidup dijalani ke depan tapi dipahami dengan memandang ke belakang). Ini juga yang dialami Tika Gilang. Simak perjalanannya dari kecil hingga sekarang menjadi aktivis dan akademisi yang memfokuskan diri pada branding.

title

Gilang Widya Kartika atau yang akrab disapa dengan Tika Gilang mengaku hidupnya penuh dengan ‘banting stir’ sana-sini yang mengantarnya pada tujuan yang sebenarnya udah ada di depan matanya sejak dulu.

Tika udah suka mengamati berbagai hal di sekitarnya. Ia sering bertanya-tanya: “Kenapa sih ada orang yang rela nabung dan puasa cuma demi beli tas C? Kenapa beli mobil harus merek X, bukan yang Y?” Tapi karena saat itu masih kecil ya jawaban yang didapatkan cuma sekilas, nggak mendalam.

“Tahun 1998 keluarga jatuh bangkrut. Ayah yang sebelumnya jadi kontraktor harus ganti profesi berjualan beras tapi yang luar biasa adalah orang tuaku terus menjalani hidup seolah semuanya baik-baik aja,” kenangnya.

Tika yang saat itu masih duduk di bangku SD diajak ke pasar tradisional. Ia pun mau ikut padahal nggak begitu suka dengan kondisi pasar yang becek dan kotor. Tapi Tika menikmati kesempatan itu karena bisa bertemu dengan banyak orang di dalamnya.

Pukul 3 dini hari Tika udah bangun dan ikut ayah dan ibunya ke pasar untuk dapetin beras kualitas terbaik dari supplier yang ada di sana. Di pasar itu Tika menyadari bahwa ada dunia lain dari dunianya. Dunia pasar ini adalah sebuah tempat yang sudah bergeliat di saat semua manusia lainnya masih berada di tempat tidur atau malah baru berangkat tidur.

“Saking nggak percayanya sampe mikir: ‘Ada ya kehidupan kayak gini…Really?’,” ujar Tika yang suka jalan-jalan sendirian saat tinggal di London.

Di sini orang tuanya menunjukkan kegigihan mereka dalam mencari nafkah. 

Tika mendapatkan pelajaran berharga dalam berdagang bahwa agar calon konsumen tertarik membeli produk kita ya mereka harus berkenalan dulu dengan produk kita. Untuk itu, tidaklah percuma untuk membagikan sebagian produk untuk bisa dicoba. Kalau memang bagus kualitasnya dan orang suka, pasti mereka bakal beli.

NEGOSIASI

Saat hendak memilih kampus untuk kuliah, Tika ngerasa dirinya gagal. Teman-temannya lolos ke sejumlah perguruan tinggi negeri yang dianggap terbaik di negara ini dengan jalannya masing-masing, sementara dirinya tidak.

Dengan ‘kelemahan’ berupa ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) dan disleksia yang membuatnya harus belajar dengan cara yang lain dari kebanyakan orang, Tika pun berusaha membayar ‘kegagalan’ itu dengan mengikuti kuliah di 2 universitas sekaligus: Universitas Bakrie dan Trisakti di Jakarta.

“Di situ saya harus bernegosiasi dengan pihak kampus Bakrie karena saya bakalan nggak bisa menghadiri kelas sepenuhnya tapi berjanji kalau IP nggak bakal di bawah 3,5,” ucap penyuka drama seri korea ini. Ada negosiasi-negosiasi dalam hidup yang harus diambil untuk membayar ‘kegagalan’ imbuhnya.

“Di sini saya belajar bertanggung jawab dan belajar dari kegagalan yang saya alami. Dan inilah yang menjadi ujian bagi kedewasaan seseorang. Saya juga belajar bagaimana untuk tidak menjadikan kegagalan sebagai identitas tapi batu pijakan,” tuturnya.

Banyak hal yang ia harus korbankan selama kuliah di 2 kampus tadi bersamaan.

Saat teman-teman seusianya masih bisa party dan berorganisasi, Tika nggak bisa. Dia masih harus belajar mati-matian untuk memenuhi tuntutan di 2 kampus tadi sampe dini hari.

Begitu lulus S1 dengan prestasi akademik yang terbilang baik, Tika juga langsung mencari pekerjaan tapi ia kurang ngerasa sreg. Di saat yang sama, ia melanjutkan pendidikan ke jenjang Magister di Universitas Indonesia.

Di titik ini, dia ngerasa kecewa karena udah mati-matian belajar dan tetep susah dapet kerjaan yang sesuai harapan.

Tika akhirnya dapetin kerjaan sebagai jurnalis di Warta Ekonomi padahal mengaku nggak punya pengalaman nulis saat SMA dan kuliah. Untungnya pengalaman itu nggak dipermasalahkan.

Di posisi kerjaan baru ini, Tika bersyukur bisa belajar banyak dan dikelilingi dengan orang-orang baik yang membantunya. 

Tika yang masih harus menyelesaikan studi di Magister Manajemen UI saat bekerja sebagai wartawan itu memutuskan untuk mengundurkan diri karena ngerasa nggak kuat untuk juggling dua kesibukan ini.

ANOMALI

“Tantangan lain lagi datang saat ingin ngelanjutin ke jenjang S3. Ternyata ijazah S2 MM UI itu tidak dianggap bisa digunakan sebagai syarat masuk S3 dan cuma disetarakan MBA oleh pihak universitas di Inggris, negara yang menjadi tujuan saya kuliah S3,” ungkapnya. Ternyata itu bukan jalurnya untuk mereka yang ingin riset.

Dari situ Tika pun disarankan mengikuti kuliah M. Res. (sekolah riset) selama 9 bulan. Tapi dengan pertimbangan tertentu, ia tak melakukannya.

“Saya memilih kuliah jurusan Brand Leadership, di Norwich Business School, University of East Anglia, Inggris. Di tempat ini saya baru menemukan jawaban dari berbagai pertanyaan yang menggelayuti benak saya sejak lama,” tuturnya.

Di situ Tika yakin bahwa setelah semua hal yang dipandangnya sebagai ‘kegagalan’ dan ‘kekecewaan’  itu,  Tuhan mengantarnya ke sesuatu yang membahagiakan. 

“Di jenjang S2 itu, saya belajar banyak soal brand dan diberi kesempatan mengerjakan sejumlah proyek yang membuat saya bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi brand consultant.”

Pengalaman berharga lainnya ialah ia pertama kalinya merantau, menuntut ilmu bersama banyak mahasiswa lain yang berbeda kultur dan kebangsaan, serta berkesempatan magang di kota London selama 6 bulan.

Di tesisnya, Tika memilih tema “Brand Anthropomorphism”, yakni sebuah pemikiran bahwa brand apapun bisa dimetaforakan selayaknya manusia yang memiliki kepribadian dan watak.

“Maknanya sendiri adalah memberi bentuk manusia pada brand,” ujar Tika yang terinspirasi oleh Maudy Ayunda, Albert Einstein dan Steve Jobs ini.

Sebagai aktivis brand Indonesia, ia menganggap Arto Biantoro sebagai panutan. Arto muncul sebagai sosok yang mampu merangkul beragam brand di tanah air.

“Mas Arto bisa masuk ke brand internasional sampai ke brand yang di gang-gang. Ini yang saya kagum,” kata Tika.

Selain Arto, Tika juga memuji sepak terjang pendiri MBloc Handoko Hendroyono dan Gatot sebagai sosok-sosok yang mampu mendobrak budaya mall masyarakat kita terutama masyarakat Jakarta. Mereka juga memberi ruang bagi brand lokal untuk bisa diapresiasi masyarakat secara lebih luas. Selain mereka berdua, ia juga mengagumi Subiyakto, pakar branding yang sudah berpuluh-puluh tahun menekuni bidang ini secara konsisten.

HINDARI HOMELESS CULTURE

Setelah lulus S3, Tika berharap ingin menjadi pengajar kelak. Karena ini panggilan jiwanya, ucapnya. Dari sisi penghasilan memang ia sadar profesi ini tak akan membuatnya kaya raya bak Elon Musk atau setara CTO atau CEO korporasi multinasional.

Di dunia akademik Barat, para akademisi dan pengajar ini dibebani dengan workload yang begitu banyak sehingga energi mereka untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman berharga malah menurun.

“Kalau saya justru sebaliknya. Saya nggak peduli kalau saya bisa riset banyak-banyak, atau jadi profesor atau nggak suatu hari nanti. Yang penting diberi kesempatan memberikan inspirasi dan pengertian untuk selalu terus maju dan belajar,” jelas Tika yang mengisi waktu luangnya dengan nonton film dokumenter di Netflix.

Sebagai seseorang yang kebetulan berdomisili di Inggris tapi juga memiliki akar jatidiri di Indonesia, Tika memandang dirinya sebagai sebuah jendela. Ia bisa memberikan pandangan bagi orang Inggris untuk bisa memahami Indonesia dan sebaliknya.

Namun, ia juga sadar bahwa posisinya bisa membuatnya terjebak dalam sebuah fenomena bernama “homeless culture”. Hal ini bisa terjadi jika seseorang terombang-ambing di dua budaya/ negara dan bingung tentang jatidirinya yang sejati.

“Sebelum ini terjadi saya mendedikasikan diri sebagai ‘jendela’ tapi jika memang dirasa sudah membahayakan masing-masing pihak, saya mesti menutup jendela itu,” terang perempuan yang dengan antusias membangun percakapan mengenai brand di media sosial dan tulisan-tulisannya di Internet. 

Buat lo yang berminat belajar soal branding, lo bisa coba cari buku-buku karya Arto Biantoro, Handoko Hendroyono, Irfan Permana, Rhenald Kasali. Ini buku-buku yang cocok dibaca praktisi.

Nah buat lo yang minat belajar branding secara lebih akademik, bisa baca buku-buku kayak “Designing Brand Identity: An Essential Guide for the Whole Branding Team” dari  Alina Wheeler, “Purple Cow” dari Seth Godin, “Brand Gap” oleh Marty Neumeier, dan masih banyak lagi. Lo juga bisa cek riset branding terkini di Google Scholar. (*/)

  • whatsapp
  • twitter
  • facebook
  • remix
Penulis

Akhlis

Editor in-chief website yang lagi lo baca