Figur

REIN DIVYA BANAFSHA, LULUSAN TERMUDA FK UNPAD: MASA MUDA NGGAK DATANG DUA KALI

Froyonion berkesempatan untuk ngobrol langsung dan menggali kisah sukses Rein, wisudawan termuda yang lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran di umur 19 tahun. Yuk kepoin pandangannya tentang sekolah akselerasi dan juga teknik belajarnya selama mengikuti perkuliahan, cekidot!

title

FROYONION.COMRein Vidya Banafsha jadi mahasiswa termuda yang lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran di usia 19 tahun lebih 4 bulan. Sejak SMP hingga SMA, dirinya mengikuti kelas akselerasi yang membuatnya bisa lulus sekolah menengah dalam total waktu 4 tahun aja. Dan di usia 15 tahun, dirinya diterima sebagai mahasiswa di Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran.

Hari Jum’at kemarin (10/6), Froyonion berkesempatan untuk ngobrol langsung dengan Rein dan menggali lebih dalam tentang kisahnya saat menjalani kelas akselerasi, lalu membahas stigma kelas ‘aksel’ yang dianggap ‘merenggut masa muda’ bagi para pelajar di dalamnya, juga mengupas kehidupan perkuliahan Rein selama menjadi mahasiswa termuda yang berkuliah di Fakultas Kedokteran.

IKUT KELAS CERDAS ISTIMEWA DI SMP DAN SMA

Ketika baru masuk SMP, Rein bilang dirinya sempat coba-coba untuk ikut tes IQ. Doi bilang ada skor minimal untuk bisa masuk kelas CI (Cerdas Istimewa) di sekolahnya. Beruntungnya, skornya saat itu melampaui nilai minimum, dan spontan aja dirinya pun mau gabung di kelas akselerasi.

Ketika ditanya soal dorongan keluarga, Rein bilang bahwa orang tuanya nggak pernah memaksakan dirinya untuk ikut kelas akselerasi.

“Nggak ada dorongan, mungkin kombinasi lah ya, dari orang tua nyaranin ‘Udah coba aja’ dan aku juga mikir nggak ada salahnya untuk nyoba, kalo gagal pun nggak apa-apa sekolahnya jadi 3 tahun aja, kayak nggak ada ruginya,” Jelas Rein.

Rein menambahkan kalo orang tuanya nggak pernah mem-punish dirinya kalo dapet nilai jelek. Kalo doi bisa dapet nilai bagus juga sering dikasih reward. Baginya, orang tua yang nggak strict malah bisa bikin anak jauh lebih berkembang dan nggak bikin anak merasa tertekan.

Parenting yang sesuai bagiku adalah parenting yang dua arah, jadi sambil denger anak maunya kayak gimana, bisanya kayak gimana, dan dari orang tua mengarahkan bagusnya belajarnya seperti apa, nggak cuma memaksakan bahwa si anak harus belajar tapi anaknya pun mungkin nggak ngerti ini belajarnya kayak gimana,” lanjut Rein.

Selama menjalani sekolah di kelas Cerdas Istimewa, Rein selalu punya pandangan bahwa tugas dan pelajaran itu ibarat challenge atau riddle yang harus dipecahkan, khususnya di mata pelajaran matematika, fisika, dan kimia.

Konsep pelajaran itu cuma diberi di awal sesi pembelajaran, sisa waktu digunakan Rein sama teman-temannya untuk selalu mengerjakan soal baru dan mengulas soal-soal lama yang udah pernah dikerjakan. Habit ini yang dirasa doi jadi hal yang penting buat dimiliki semua pelajar, bahwa tujuan belajar nggak cuma untuk lulus, tapi juga karena rasa penasaran yang besar untuk bisa memecahkan sebuah masalah.

TANTANGAN YANG DIHADAPI

“Soal rasa males, aku kira itu wajar, aku pun terkadang menunda pekerjaan karena terkadang jenuh. Tapi males itu pasti ada penyebabnya, kalo misalnya males ngerjain sesuatu karena banyak distraksi dari gadget, yaudah tinggal ditaruh jauh-jauh aja gadget-nya, jangan disentuh,” jelasnya.

Bicara rasa malas, Rein bilang kalo kalo dirinya terkadang masih sering merasakan hal itu. Menurutnya, rasa malas dan jenuh itu wajar banget, tapi masing-masing orang tetap harus cari akar penyebabnya apa, dan coba untuk mengatasinya.

“Kalo di aku, kasus males itu biasanya disebabkan karena aku takut gagal, solusinya itu simpel banget, yaitu mulai aja dulu. Terkadang kayak nulis ulang soal dari buku cetak ke buku tulis, itu jadi pembuka jalan. Karena males itu biasanya di awal aja, ketika kita udah mulai, semuanya bakal kerasa lebih lancar dan terkesan lebih mudah,” jelas Rein.

Selain itu, konsistensi dalam belajar juga jadi masalah yang nggak kalah sulitnya untuk dilawan. Meluangkan waktu untuk belajar itu jadi makin susah terlebih di era digital yang segala hal terlihat lebih menarik dibandingkan angka-angka dalam buku pelajaran.

“Strategi aku untuk bisa memperbaiki manajemen waktu yang kurang baik itu dengan membuat planning atau to do list dari malam sebelumnya, jadi besok tinggal jalanin sesuai rencana. Kalo masalah stick atau nggaknya sama jadwal itu urusan belakangan, yang penting kita tau kita mau ngelakuin apa di hari itu, punya gambaran lengkap deh,” jelasnya.

KELAS AKSELERASI MERENGGUT MASA MUDA?

Beberapa orang sering bilang, bahwa masa muda nggak datang dua kali. Artinya, setiap hal yang kita lakukan selagi masa muda, kita harus enjoy dan live the life kayak nggak ada hari esok.

Rein setuju sama frasa yang satu ini, tapi menurutnya, masa muda bukan berarti menghabiskan waktu untuk have fun tanpa arah yang jelas. Baginya, masa muda adalah waktu yang tepat untuk cari minat dan bakat diri.

“Kalo ada orang yang tertarik sama hal yang berbau akademik, dia bisa mengembangkan minat dari mata pelajaran sehari-hari, kalo nggak terlalu minat sama akademik pasti bakal ‘lari’ ke hal-hal berbau non-akademik, contohnya kayak ekskul atau organisasi, karena banyak juga anak kelas CI yang memang punya ketertarikan di luar akademik,” kata Rein.

Di luar akademik, Rein juga aktif ikut bandacapella, dan Karawitan. Hal-hal itu doi seimbangkan dengan padatnya jam pelajaran kelas akselerasi ketika SMP dan SMA.

“Kalo lagi waktunya belajar aku bener-bener fokus dan memaksimalkan energi di situ. Kalo udah pulang, aku biasanya istirahat atau isi dengan ekskul. Kalo di SMA, karena jam pelajaran dan bimbel yang padat, aku selalu coba sempetin untuk kasih break atau bahkan istirahat tidur di antara jam-jam itu,” tambahnya.

KEHIDUPAN PERKULIAHAN

Ketika dirinya menjadi mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran di umur 15 tahun, Rein langsung mencoba untuk ikut 2 organisasi kampus sekaligus, di mana kedua organisasi itu sering banget mengadakan rapat.

“Setiap pulang kuliah, aku sempetin tidur lebih awal. Kalo ada rapat organisasi ya nggak apa-apa diikutin sampe aku capek, kalo nggak ada rapat ya aku bisa tidur dari abis waktu isya’. Kalo tidurnya cepet, aku selalu bangun tengah malam, sekitar jam 1 atau 2. Di waktu itu biasanya aku udah fresh lagi untuk belajar sampe subuh,” jelas Rein.

Doi masuk di angkatan 2018, di mana dirinya masih sempat merasakan kuliah offline selama 2 tahun. Lalu seketika, kehidupan perkuliahannya dihantam pandemi yang memaksanya untuk bisa beradaptasi dengan kuliah daring.

Rein mengakui bahwa jam tidur jadi korban utama dari diadakannya kuliah daring. Dirinya merasa lebih sulit untuk menangkap materi pelajaran, terlebih kalo ada materi praktik yang membuat doi lebih memutar otak untuk bisa menyerap materi pelajaran dengan lebih baik.

“Selain itu, ada faktor lingkungan juga yang jadi tantangan selama kuliah daring, kalo di rumah itu susah untuk belajar bareng temen-temen, terus terdistraksi sama adik-adik aku di rumah, jadi harus pinter-pinter cari waktu yang pas untuk belajar tanpa ada gangguan,” lanjutnya.

Di awal masa perkuliahan, Rein sempat merasakan perbedaan cara komunikasi antara teman-teman seangkatannya.

“Mungkin di awal ada perasaan “Waduh orang-orang udah pada dewasa semua nih, leadership-nya, cara komunikasinya, dll” itu kerasa banget. Beda sama temen-temen dari SMP dan SMA yang memang seangkatan. Tapi lama-lama, terlebih gabung organisasi ya merasa jadi lebih nyambung dan beradaptasi aja,” tambah Rein.

Di atas semua tantangan yang dihadapinya selama menjalani sekolah dan kuliah, Rein juga berpesan buat para Civillions yang baca artikel ini, bahwa coba untuk perjuangkan sesuatu karena kamu merasa hal itu penting buat dirimu sendiri, bukan karena orang lain.

“Pepatah dari seorang dokter yang ngajarin aku pas kuliah, “Jangan pernah merasa diri kita pintar” bahkan, anggap aja diri kita bodoh, karena kalo kita merasa pintar nantinya nggak akan ada hal-hal atau ilmu baru yang masuk ke kepala kita.” Tutupnya.

Memang, semua orang punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing ya, Civs. Di balik berkah dan IQ yang dimiliki, ada faktor determinasi dan konsistensi yang jadi kunci kesuksesan, baik di kehidupan sekolah, perkuliahan, dan juga karier.

Jadi, jangan pernah merasa cukup dengan ilmu yang lo punya. Terus belajar dan jangan mau kalah sama rasa malas yang ada di dalam pikiran lo ya. (*/)

  • whatsapp
  • twitter
  • facebook
  • remix
Penulis

Garry

Content writer Froyonion, suka belajar hal-hal baru, gaming, dunia kreatif lah pokoknya.