Figur

IKSAN SKUTER: SEIMBANGKAN IDEALISME, KRITIK, DAN PRODUKTIVITAS BERKARYA

Iksan Skuter ibarat sedang menyediakan menu pilihan lagu yang sesuai dengan suasana hati kita. Tak ayal membuat karya-karyanya begitu beragam.

title

FROYONION.COM -  “Kiri dikira komunis, kanan dicap kapitalis, keras dikatai fasis, tengah dinilai tak ideologi.”

Kalian mungkin sudah tidak asing mendengar beberapa penggalan lirik di atas. Sebuah lagu berjudul “Bingung” dengan penciptanya yakni Mohammad Iksan atau akrab dengan sapaan Iksan Skuter (FYI, nama skuter adalah akronim dari seniman kurang terkenal). 

Hingga tulisan ini dibuat, lagu yang masuk di album ‘Benderang Terang’ yang dirilis pada 2016 lalu ini sudah diputar lebih dari 34 juta kali di kanal YouTube IKSAN SKUTER OFFICIAL

Selain “Bingung” beberapa lagu ngetop dari pria yang lahir pada 30 Agustus 1984 ini antara lain adalah “Bapak”, “Pulang”, “Rindu Sahabat”, “Jangan Seperti Bapak”, dan “Shankara”.  Lagu-lagu tersebut memiliki makna yang dalam dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.  Namun kalo kita mau menelusuri lebih jauh tentang musisi kelahiran Blora ini, sebenarnya sangat banyak lagu-lagu yang tidak kalah bagus dengan lagu-lagu di atas. 

Karena semenjak mengawali karier solonya dari 2012, hingga kini Iksan Skuter sudah menelurkan album lebih banyak dari usia berkariernya, yakni 15 full album dan beberapa album kompilasi. Gue ngak akan nyebutin satu-persatu semua album dari alumnus Universitas Brawijaya ini, karena hal itu akan menguras waktu kalian untuk membacanya. 

Namun yang jelas gue menemukan fakta bahwa antara album satu dengan album setelahnya memiliki jarak yang berdekatan. Sebut saja pada album 13 yang diberi tajuk ‘Codex 13’  yang dirilis pada 2020 dengan album 14 yang bertajuk ‘Orbit’ yang dirilis pada 2021. Kedua album tersebut dirilis dengan rentang waktu yang tidak lebih dari setahun.

Oleh karenanya, melihat hal itu tidak berlebihan ketika gue mengatakan bahwa Iksan Skuter adalah salah seorang musisi yang produktif era ini. Pun kalo misal ada nominasi penghargaan musisi terproduktif, sangat besar kemungkinan kalo doi akan masuk di dalamnya. 

Selain itu, dapat dipastikan pula kalau Iksan Skuter termasuk salah satu dari sekian banyak musisi yang hanya menerbitkan buku. Adalah buku yang bertajuk “Bingung”. Buku ini merupakan kumpulan berbagai karya dari Iksan Skuter yang diterbitkan oleh Warning Books pada 2019 lalu. 

BACA JUGA: 7 PILIHAN LAGU YANG MENCERITAKAN TENTANG YOGYAKARTA

Dalam bagian belakang buku Bingung, gue cukup sepakat dengan endorsement dari Jason Ranti (Jeje) yang menuliskan, “Membaca karya-karya Iksan Skuter, ada kalanya saya membayangkan semisal ia hidup di zaman revolusi, mungkin ia cocok bekerja di departemen propaganda. 

Kadang ia juga seperti pengangguran yang sedang marah-marah di siang hari. Kadang ia juga seperti polisi hutan, yang tinggal sendiri di rumah pohon, mengamati keadaan sambil memutar lagu-lagu Koes Plus. Kadang ia seperti teman dekat yang tiba-tiba mampir di teras rumah, siap sedia merayakan penderitaan bersama-sama. 

Apa pun peran yang sedang dijalaninya, mungkin bisa terjadi karena di zaman yang serba cepat ini ia mampu untuk melipir sebentar, tarik napas dan menganalisa keadaan. Ini penting, sebab kadang Iksan Skuter juga bisa jadi sangat reaktif dan emosional."

Walaupun pernyataan di atas digunakan dalam konteks buku Bingung, tapi menurut gue perkataan Jeje itu cukup menggambarkan secara keseluruhan karya-karya dari Iksan Skuter, dan perkataan sulit sekali untuk dibantah. Sebab dalam setiap album maupun lagu yang ditelurkan, mantan gitaris dari Putih Band ini bergerak secara dinamis. 

Pun meminjam perkataan Jeje bahwa doi cocok untuk bekerja di departemen propaganda dapat kita temukan pada lagu “Nyalakan Tanda Bahaya”, di mana doi seakan sedang mempropaganda para pendengarnya untuk selalu waspada dan bertindak terhadap kebijakan-kebijakan yang ada. 

Berikut beberapa penggalan liriknya.

“Apakah pemimpin itu harus korupsi”

“Harus memakai barang mewah dan mahal”

“Apakah pemimpin itu harus selalu benar”

“Dan selalu disegani, selamanya”

“Nyalakan tanda bahaya bagi rakyat jelata”

“Hukum tak bisa menyentuh yang di atas sana”

“Nyalakan tanda bahaya bagi rakyat jelata”

“Hukum dijadikan alat penindas kita”

Lalu Iksan Skuter juga bisa reaktif dan emosional seperti yang disampaikan Jeje dapat kita temukan pada lagu “Partai Anjing”. Iksan Skuter seperti seseorang yang sedang sangat marah terhadap fenomena politik praktis. Sehingga doi memakai sarkasme “Anjing” untuk nama sebuah partai. 

“Orang-orang brengsek suka makan duit rakyat’

“Masuk ke partai anjing”

“Yang suka korupsi dan pandai mengumbar janji”

“Bergabung ke partai anjing”

Lalu ada juga album yang berisikan lagu-lagu anak yang diberi tajuk ‘Kecil Itu Indah’. Hal itu didasari lantaran Iksan Skuter menyoroti bahwa anak-anak saat ini seolah tidak mempunyai lagu yang sesuai dengan masanya. 

Doi juga menulis lagu tentang cinta dengan judul “Cinta Itu Adalah”. Pun lagu ini gue kira cukup mewakili secara keseluruhan tentang apa itu cinta. Bukan lagu mainstream tentang cinta pada umumnya yang bercerita tentang perselingkuhan semata dengan vibes yang mendayu-dayu. Berikut lirik dari “Cinta Itu Adalah”:

“Cinta itu matahari kepada rerumputan”

“Ikhlas menyinari dan jujur menghidupi”

“Cinta itu lautan kepada nelayan”

“Berikan apapun tak mengharapkan imbalan” 

Bahkan ketika bercerita tentang album ‘Orbit’, Iksan Skuter seakan sedang mengajak kita untuk selalu memiliki harapan dan sesekali merenung. Sebut saja pada lagu “Menyepi Menepi”, “Beri Aku Pelangi”, “Sebelum Aku Mati”, atau “Carpediem”. Lagu-lagu tersebut memiliki kekuatan sebagai penyemangat di kala jiwa sedang tertekan dan kecapekan. Untuk lagu “Carpediem” berikut penggalan liriknya pada bagian reff:

“Mari kita kalahkan hari ini”

“Seperih apapun nanti”

“Acuhkan rasa muak yang kau miliki”

“Persetan apa yang terjadi”

“Ah-haa-ahh, na-na-na-na-a”

“Ah-haa-ahh, na-na-na-na-a”

Itulah beberapa lagu yang sekilas gue review. Tentu masih banyak sekali lagu-lagu yang nggak bisa gue review satu-persatu. Tapi yang jelas, ketika gue tarik benang merah dari sekian ragam karyanya, doi adalah musisi yang produktif sekaligus peka dan kritis terhadap keadaan sekitar. Tidak asal-asalan dalam membuat karya. Tidak mengikuti selera pasar. Karya-karyanya adalah cara doi merespon situasi dan acap kali mempertanyakannya. 

Pun gue rasa lagu-lagu dari Iksan Skuter yang bergenre folk ini bisa didengarkan dalam suasana marah, bahagia, sedih, haru, ataupun sekedar buat nongkrong-nongkrong biasa. Sebab Iksan Skuter ibarat sedang menyediakan menu pilihan lagu yang sesuai dengan suasana hati kita saat ini. 

Dan untuk panggungnya sendiri, doi bisa ditempatkan dimana saja. Mumpuni untuk mengisi acara di berbagai kesempatan. Bisa di festival musik berskala raksasa, pentas seni, panggung kecil, perkampungan, demonstrasi, selingan diskusi/workshop, pesantren, kampus, instansi pemerintah, dan lain-lain pokoknya. Kalo kalian mau membuktikan sendiri silahkan bisa maraton karya-karya dari Iksan Skuter. Sekian. 

BACA JUGA: SOEGI BORNEAN, BAND YANG BERNUANSA JAWA - KALIMANTAN

  • whatsapp
  • twitter
  • facebook
  • remix
Penulis

Khoirul Atfifudin

Masih berkuliah di Universitas Mercu Buana, Yogyakarta. Saat ini sedang memiliki ketertarikan pada dunia musik dan tulis-menulis.