Figur

ICHWAN THOHA: JADILAH MANEKIN BAGI BRAND KITA SENDIRI

Tumbuh besar di keluarga Betawi, desainer fesyen kawakan ini punya resep tersendiri untuk selalu mendapatkan inspirasi kreatifnya. Pernah sukses menggabungkan sarung Indonesia dengan sebuah unsur budaya fesyen asing. Apakah itu?

title

FROYONION.COM - Sebagai bungsu dari 10 bersaudara, Ichwan Thoha tumbuh dalam sebuah keluarga besar Betawi. Lima kakak perempuannya kebetulan berlangganan majalah mode. Sejak itu Ichwan kecil sudah memiliki cita-cita untuk berkecimpung di industri mode. 

“Suatu saat nanti saya ingin sketsa mode saya tampil di majalah, mewawancarai dan diwawancarai, mengarahkan gaya, menulis artikel fashion, meliput acara mode,” jelas pria yang kini tinggal di Tanah Abang, Jakarta ini.

Begitu menyelesaikan pendidikan di Universitas Trisakti jurusan Pariwisata di Jakarta, ia meneruskan lagi ke LaSalle College di Singapura setelah sukses mendapatkan beasiswa yang diadakan Majalah HAI dan LaSalle College Singapura di tahun 1993. Ia memilih jurusan Fashion Stylist. 

“Memang ada kebingungan saat kuliah di Pariwisata. ‘Kan aku mau jadi fashion designer,’ pikir saya. Beasiswa inilah yang menjadi titik balik pertama dalam hidup saya,’ tuturnya.

Lulus tahun 1997, ia sempat mengajukan beberapa lamaran kerja ke sejumlah media cetak (majalah) di Indonesia. Pekerjaan pertamanya di industri fashion ialah menjadi fashion stylist, pengarah gaya dan fashion editor di Majalah Hai. Di saat bersamaan ia juga mendirikan brand-nya sendiri. Setelah 4 tahun di majalah itu, Ichwan meneruskan perjalanan kariernya sebagai perancang mode. 

Ia juga sempat menulis beberapa judul buku, di antaranya yakni “103 Quotes by Ichwan Thoha” (2012) yang peluncurannya bertepatan dengan acara Indonesia Fashion Week 2012.

Ichwan mengaku memiliki banyak mentor selama perjalanan kariernya. “Ada Anto Diaz, Samuel Mulia, Sita Subiyakto, Ninuk M. Pambudy (Kompas) dan masih banyak lagi. Mereka kerap merekomendasikan saya pada klien tanpa melihat portfolio,” kata Ichwan. 

Mentor-mentornya ini percaya dengan kualitas karya Ichwan yang lebih junior. Anto Dias misalnya mempercayai Ichwan untuk membuat wardrobe para aktor di film “Cha Bau Khan”.

DNA FASHION DESIGNER

Bagi Ichwan, adalah sebuah keharusan bagi seorang fashion designer untuk memiliki brand identity sebagai DNA-nya. Ia sendiri memiliki busana pria sebagai DNA yang membedakannya dari perancang lain yang ada.  

Karakter edgy, anti mainstream, konstruktif (tidak pernah memakai bahan pakaian yang lembut), retrofuturistik (gabungan antara inspirasi dari tren fashion masa lalu dan masa datang), dan urban tailored (gaya busana yang spontan dan tak berat) menjadi DNA yang selalu ia ejawantahkan dalam karya-karyanya.

Gaya seorang fashion designer merefleksikan karyanya. Penampilan, bahasa tubuh, intonasi, komunikasi verbal dan nonverbal bisa mencerminkan karya kita. 

Seorang seniman di bidang apapun itu harus memiliki karya yang berkarakter dan bisa membedakannya dari orang lain. Ia mengambil contoh saat dua desainer merancang kebaya, hasil rancangan keduanya pastinya ada keunikan masing-masing. 

Sebagai desainer, kita juga harus bisa menunjukkan keyakinan dan kebanggaan dalam mengenakan busana hasil karya kita sendiri di depan orang lain. “Kita harus menjadi manekin atau model bagi brand kita sendiri,” ungkapnya.

Agar bisa unggul, seorang desainer juga mesti sensasional tapi tetap bertanggung jawab. “Kalau kita tidak sensasional, cuma mainstream, kita tidak akan memberikan kesan pada publik,” terangnya mengenai resep untuk menjadi designer yang stand out.

Menurutnya juga untuk stand out tidak perlu menjadi orang lain atau harus mengenakan busana dengan brand-brand luar negeri yang mahal atau eksklusif. Ia mengamati ada sebagian orang yang merasa lebih percaya diri hanya saat mereka mengenakan barang-barang brand mahal tapi ia mengajak anak-anak muda terutama desainer muda untuk bisa lebih percaya diri dengan bakat dan kemampuan mereka sendiri.

Salah satu cara Ichwan menonjolkan ciri khasnya adalah dengan tetap ingat dengan akar budayanya sendiri. Sebagai desainer, ia sudah beberapa kali meleburkan elemen budaya Indonesia ke dalam rancangannya. Seperti saat ia mewakili negara ini di Korea untuk event “Asia Model Awards” ia mengangkat batik betawi dalam koleksinya. Lagu “Jali-Jali” juga dimasukkan dalam pergelaran busananya.

Salah satu kreasinya yang mendapatkan perhatian publik ialah saat ia menampilkan sarung sebagai salah satu unsur busana pria yang dipamerkannya. 

“Saya interpretasikan sarung ke dalam bentuk kilt (rok ala Skotlandia yang dipakai para pria),” tutur pria yang juga berprofesi sebagai dosen Sejarah Mode ini. Lain dari rancangan yang cuma menampilkan sarung yang diikatkan di tubuh, Ichwan mengangkat konsep sarung kilt ini agar terlihat lebih unik dan extraordinary.
 

Kreasi sarung bergaya kilt dari Ichwan Thoha. (Foto: Dok Ichwan Thoha)

ASAH DENGAN SEKOLAH

Ditanya peran pendidikan formal dalam keberhasilan seorang desainer fashion seperti dirinya, Ichwan menyatakan bahwa sebenarnya tidak harus demikian. Itu kebutuhan tiap desainer. Namun, jika ditanya salah satu faktor pendukung keberhasilan seorang desainer, tentu pendidikan yang relevan. Karena jika sudah ada bakat tapi tidak diasah di sekolah mode atau kuliah yang relevan, bakat itu akan susah berkembang. Lain jika seorang yang berbakat kemudian mengenyam pendidikan formal di bidang fashion/ mode, bakatnya akan lebih terasah lagi. 

“Karena dengan sekolah mode, kita akan ‘dipaksa’ untuk mengasah bakat kita dan mendapatkan silabus yang dibutuhkan. Silabus ini dibuat sedemikian rupa dengan sistematis. Kita juga dapat berbagai kesempatan lomba, latihan kerja, bertemu para dosen dan guru yang terbaik di bidang mereka dan akhirnya bisa memupuk rasa percaya diri seorang desainer, terang Ichwan soal manfaat bersekolah mode secara formal seperti yang ia lakukan di La Salle College Singapore.

Setelah sekolah mode, seseorang juga tak cuma bisa menjadi seorang desainer fashion tapi masih banyak pilihan profesi lainnya, dari fashion stylist, fashion editor hingga fashion blogger/ vlogger. Itu karena industri fashion ini sangat luas cakupannya.

Ia sendiri menyinggung soal peluang kerja menjadi buyer advisor untuk urusan produk fashion yang dijual di marketplace atau online stores yang makin menjamur di tengah pandemi seperti sekarang.   

INSPIRASI DARI PANDEMI

“Karena mengajar mata kuliah Sejarah Mode, saya banyak mengambil inspirasi dari materi yang saya ajarkan. Saya juga senang mengamati gaya hidup, tokoh, motif, olahraga, jargon.

Misalnya ia senang tenis dan menyukai mengamati evolusi atlet tenis sehingga pernah ia mengangkat koleksi bertema gaya busana atlet tenis yang dikombinasikan dengan hip hop dan R&B menurut interpretasi dan gaya pribadinya sendiri. Judul koleksinya itu “Grand Slam”.

Baginya, dibutuhkan 3-6 bulan untuk melahirkan koleksi baru. Waktu ini diperlukan untuk cari konsep, riset, mencari material, pengepasan (fitting) sampai eksekusi fashion show.

Untuk ide, ia belum pernah sampai kering ide karena memilih untuk mencari inspirasi dari sekitarnya, tidak jauh-jauh.

Begitu pandemi menghampiri, sektor fashion juga terkena dampak. Ia bercerita banyak bahan menumpuk seperti yang dialami teman-temannya. 

“Karena konsumen menunda kebutuhan pakaian mereka untuk kebutuhan pokok. Distribusi juga sedang sulit. Ada butik dan toko ritel juga susah berjualan. Orang-orang sedang nggak berani dateng. Jangankan dateng, buat fitting aja belum berani,” ucap Ichwan.

Di tengah pandemi yang belum usai, Ichwan juga terus menimba inspirasi. “Menurut saya pandemi ini memiliki hikmah. Saya bisa belajar dan kuliah lagi di rumah, mengajar online dengan teknologi, dan sebagainya,” ujarnya. 

Teman-teman desainer juga banyak yang menghasilkan karya-karya yang ada kaitannya dengan pandemi seperti masker dengan material dan detail yang bermacam-macam.

Mereka juga membuat baju dengan konsep loungewear, yang ringan, rileks, effortless, dengan tampilan kreatif untuk bersosialisasi secara virtual di masa pandemi.

Pandemi juga membuat tidak cuma desainer tapi juga para pelaku industri fesyen seperti fotografer, pengarah gaya, fashion stylist, graphic designer, sehingga makin banyak peluang berkolaborasi.

Masa pandemi juga membuka peluang untuk menekuni peluang sustainability fashion. Kita donasikan baju-baju secara online. 

Untukmu yang juga berminat menggeluti dunia fashion, Ichwan punya pesan untukmu: “Kuliah dan sekolah lagi itu sangat penting. Punyalah karya yang berkarakter. Dan kalau sudah jadi desainer, tetap rendah hati. Jangan merasa eksklusif dan jadi diva. Kalau sombong, nggak akan ‘laku’ dan punya jejaring yang banyak. Santai aja dan nggak perlu demanding.”

Menjadi desainer juga perlu spontanitas. Kalau klien datang, desainer sebaiknya harus mampu mendesain di depan klien secara langsung. Dengan begitu, ia membuktikan bahwa kita layak dibayar mahal. Ada unsur profesionalisme dan personal touch juga. (*/)

  • whatsapp
  • twitter
  • facebook
  • remix
Penulis

Akhlis

Pimred Froyonion